Review: About Time (2013)

To be honest, hingga memasuki bulan November, saya sendiri belum menemukan banyak film bergenre romantic-comedy rilisan tahun ini yang berhasil memikat saya. Tentunya masih ada beberapa film yang masih saya tunggu seperti Don Jon (coming soon, katanya), Spectacular Now (nunggu DVDnya), dan Drinking Buddies (belum ditonton-tonton sampai sekarang) yang terlihat cukup menarik. Lalu, ada juga About Time, yang membuat saya penasaran sejak trailer pertamanya dirilis.
Tim (Domhnall Gleeson) baru saja mengetahui bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk menjelajah waktu di ulang tahunnya yang ke-21. Praktis ia bisa mengulang kejadian apapun di kehidupan. Melakukan adalah hal yang tidak lazim bagi Tim. Karena dalam seketika, ia bisa mengubahnya langsung. Namun tentunya, mengubah masa lalu mempunyai dampak sendiri terhadap masa depan. Itulah yang terjadi ketika, Tim berusaha menolong Harry (Tom Hollander) dengan kembali ke masa lalu dan mendapati pertemuannya dengan Mary (Rachel McAdams) batal terjadi. Dengan segala kekuatannya, Tim berusaha keras untuk dapat kembali berkenalan dengan Mary, perempuan yang nantinya akan menjadi cinta dalam hidupnya.
Dengan promosi yang menonjolkan Rachel McAdams dan elemen time travelnya, seketika saya pun teringat dengan Time Traveller’s Wife. Tapi janganlah berharap mendapatkan hal yang sama. About Time sendiri dibungkus dalam sebuah presentasi manis yang tentunya akan memberikan perasaan menyenangkan tersendiri bagi penontonnya. Namun, sayangnya, About Time tidak memiliki fokus yang kuat dalam penceritaannya serta konflik yang terlalu minim untuk ditawarkan. Praktis selama 2 jam, film berjalan datar.

Pertama kita bertemu dengan karakter Tim, yang secara tidak langsung anti dari masalah. Tiap kali dia melakukan kesalah, ia cukup kembali ke masa lalu, dan *boom* problem selesai. Hal ini sendiri yang menjadi boomerang dari About Time, film ini tidak bisa menawarkan konflik kepada karakter utamanya. Yang ada hanyalah masalah-masalah kecil yang kemudian akan terpecahkan 5 menit kemudian.
About Time juga tidak jelas ingin mengambil fokus penceritaannya kemana. Pertama ada Tim dan Mary, yang sepertinya akan mendominasi film, namun hal itu berangsur-angsur tergusur dengan sub-plot tentang Kit Kat (Lydia Wilson), adik dari Tim, dan juga hubungan Tim dengan ayahnya (Bill Nighy). Ketiga hal ini dipadatkan untuk masuk ke dalam satu film yang kemudian terasa seperti biografi dari Tim, yang tentu berjalan tanpa konflik penting.
Meski begitu, About Time juga memiliki kelebihan. Bila kalian memang sedang ingin menikmati film romantis dengan harapan untuk mendapatkan perasaan senang, mungkin film ini pas. Chemistry Tim dan Mary tidak bisa dipungkiri berjalan dengan sangat baik. Dan karakter Tim adalah sebuah karakter yang akan selalu didukung oleh penonton. Tim tidak sempurna, namun likeable, mirip Tom Hansen di 500 Days of Summer.
Diiringi soundtrack serta sinematografi yang enak di mata dan kuping, About Time bisa jadi lebih pas untuk kalian ketimbang untuk saya.

