Review: The Hunger Games: Catching Fire (2013)

Butuh 3 minggu setelah film ini muncul di bioskop dan sebuah rasa bersalah tidak me-review untuk memaksa saya pergi ke bioskop. Ya, saya memang bukan salah satu fans dari franchise The Hunger Games. Film pertamanya bahkan tidak spesial di mata saya. Hal yang berbeda terjadi setelah saya keluar studio usai menonton Catching Fire. Diri ini rasanya ingin buru-buru menonton Mockingjay (seri selanjutnya), atau paling nggak baca bukunya. Ya, saya se-excited itu sekarang.
Apa yang berbeda dari seri pertamanya, yang membuat film ini jauh lebih mudah dinikmati? Banyak. Pertama mari kita mulai dari ceritanya yang jauh lebih dalam ketimbang film pertamanya yang cuman bunuh-bunuhan.
Dibuka dengan pemenang Hunger Games tahun lalu, Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dan Peeta Mellark (Josh Hutcherson) yang tengah dalam parade kemenangannya. Mereka berdua mengunjungi tiap distrik sembari tetap mempertahankan cerita cinta palsu yang dibangun untuk publik tahun lalu. Tapi dibalik segala kemewahan hidup yang kini mereka dapatkan, tetap saja rasanya kurang. Dan kini mereka merasa lebih sebagai boneka untuk warga Capitol.
Sementara sang Presiden Snow (Donald Sutherland) yang tidak percaya dengan kisah cinta Katniss serta Peeta juga mulai merasakan dampak buruk Hunger Games kemarin. Harapan dan pemberontakan mulai muncul dari distrik-distrik terhadap Capitol, hingga dirinya dengan Plutarch Heavensbee (Philip Seymour Hoffman) mendesign peraturan-peraturan khusus untuk seri ke-75 Hunger Games, di mana Katniss dan Peeta harus kembali saling membunuh.

Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk sadar bahwa Catching Fire benar-benar ada di level yang berbeda dengan film pendahulunya. Ceritanya yang menjadi cerminan dari kehidupan sosial masa kini begitu mudah dihubungkan dan dirasakan oleh penontonnya. Separuh awalnya filmnya juga jauh menggali dan mengeksplor tiap-tiap karakternya dengan sangat baik. Hingga datang bagian kedua filmnya, yaitu Hunger Games-nya sendiri.
Yang mana justru berakhir ironis, karena bagian terlemah dari film ini justru adalah saat Hunger Games-nya. Selain tempo yang berubah drastis, bagian ini sendiri juga dieksekusi dengan sangat terburu-buru. Untuk beberapa saat saya mengira mereka hanya akan menyajikan awalan dari Hunger Games-nya saja, kemudian potong, dan akan dilanjutkan di film ketiga, tapi ternyata tidak. Dan hasilnya mengeceawakan. Semua cerita dan character development yang dijalin sangat baik pada paruh pertama, kembali balik lagi ke level film pertama, bunuh-bunuhan.
Tentunya mereka berusaha untuk membuat semuanya lebih seru. Games-nya memang harus diakui lebih menarik dari film pertama, pengambilan kamera dan hal-hal teknisnya lebih menarik, tapi terlalu timpang dengan paruh pertamanya yang begitu baik.
Dari jajaran pemerannya, apresiasi perlu diberikan kepada Jennifer Lawrence yang terus memukau penonton akhir-akhir ini. Kalau harus dibandingkan dengan aktingnya di film pertama, it’s not even close. Sedangkan Liam Hemsworth masih terus disia-siakan, sementara Philip Seymour Hoffman benar-benar terasa seperti angin segar untuk franchise ini.
Perlu diketahui meski saya kurang suka dengan bagian Hunger Games-nya, Catching Fire sendiri ditutup dengan sangat baik. Hal inilah yang membuat saya benar-benar tidak sabar menyaksikan seri selanjutnya.
