Review: The Haunting in Connecticut 2: Ghosts of Georgia (2013)

Saya tidak bisa percaya apa yang baru saja saya lihat! Berangkat dari rasa penasaran karena cukup apresiasi pada pendahulunya, The Haunting in Connecticut 2: Ghosts of Georgia rupanya menghempas mentah-mentah apa yang sudah dipresentasikan oleh The Haunting in Connecticut (2009). Kembali pada apa yang saya katakan di kalimat pertama tadi, bahwa saya baru saja mendapatkan ‘mimpi buruk’ paling mengerikan di tahun 2013 ini. Bukan karena saya ketakutan setengah mati setelah menonton film yang digawangi oleh Tom Elkins ini, melainkan karena saya seyogianya tidak menyaksikannya.
Rumah baru dan berhantu. Oh, itu tentu bukan hal baru dalam dunia perhororan. Di sini kita punya cerita sebuah keluarga yang baru saja pindah ke Atlanta, Georgia. Adalah keluarga Wyrick. Bukan kesenangan yang mereka dapat setelah pindahan, melainkan kejadian-kejadian aneh yang semakin lama meneror mereka, dan hal tersebut melibatkan para ‘penghuni’ yang pernah bercokol di rumah yang mereka tinggali sekarang. Sosok pertama yang muncul di hadapan Heidi (Emily Alyn Lind), satu-satunya bocah perempuan di sana, ialah pria berjas hitam — seperti wujud para Observer yang seringkali muncul di tiap episode serial Fringe (2008-2013). Apa maunya masih belum jelas.
Meskipun mengusung tema by-the-book horror alias formula horor yang sudah lumrah di mata banyak orang, Ghosts of Georgia tetap tidak mampu bangkit dari keterpurukannya. Bahkan judulnya saja sudah tidak berkesesuaian dengan lokasi kejadian-kejadian gaib ini terjadi. Connecticut dan Georgia jelas dua wilayah yang berbeda. Mengapa disatukan dalam sebuah judul? Entahlah. Saya juga tidak peduli. Di dalamnya boleh dibilang tidak ada satupun adegan mencekam, meskipun saya akui cuma satu-dua kali saja saya merasa tegang. Sisanya, gersang.
Tidak hanya itu, Ghosts of Georgia juga menawarkan CGI yang konyol serta kerap kali dipakai secara berlebihan. Dan, yang lebih parah lagi, film ini cuma ‘mengejar target’ untuk menakuti-nakuti — yang sudah berhasil diantisipasi jauh sebelumnya — penonton selama seratus menit nonstop. Hal itu membuat plotnya jalan di tempat. Bahkan, justru dibumbui dengan omong kosong tentang sosok ilusi berjuluk Mr. Gordy dan konflik antarkarakter — ibu-anak, suami-istri — yang terlampau dibuat-buat. Juga, orangtua yang terus-menerus tidak percaya pada anaknya membuat saya kilas balik ke sebuah film horor arahan Troy Nixey di tahun 2011 silam, ya Don’t Be Afraid of the Dark. Sayangnya, film arahan Nixey tersebut terlihat jauh lebih baik dibandingkan dengan rivalnya ini. Satu hal lagi; jangan percaya dengan embel-embel ‘based on the true story’-nya karena sudah jelas bohong.
Nah, sekarang coba bayangkan sebuah film horor yang dibangun berdasarkan ‘kejar target’ untuk menakuti penonton tapi gagal. Lalu, jadikan itu sebagai satu-satunya pondasi untuk disuguhkan selama satu setengah jam penuh. Apa yang terjadi? Jelas keruntuhan yang tak terelakkan.

