Review: Man of Steel (2013)
Snyder-Nolan’s Superman

Menurut saya, Man of Steel tidak sekelam The Dark Knight trilogy, lebih kepada mature version of Superman story. Film superhero dari dulu bahkan hingga sekarang cenderung menggambarkan masyarakat yang menerima keberadaan seseorang yang berkekuatan super secara biasa, leave alone the psychology of the superhero. Sesuatu yang masih terjadi di film-film Marvel. Padahal bila ditilik lebih dalam, kejadian seperti itu tentunya akan menimbulkan sebuah konflik. Hal inilah yang dieksplor oleh Man of Steel. Jonathan Kent (Kevin Costner) percaya bahwa anak angkatnya harus menyembunyikan kekuatannya karena dunia belum siap dan efek berantainya yang berbahaya. Nolanized!
Krypton juga sukses digambarkan sebagai dunia alien. Tidak sekadar manusia dengan pakaian aneh dan tinggal di planet lain. Krypton di sini benar-benar terasa sebagai sebuah dunia berbeda. Bukan dunianya manusia. I love love love Snyder’s imagination of Krypton. Dan dengan bersama semua efek kehancurannya, the Krypton part of Man of Steel is perfect.
Lalu datang bagian Smalville dan Metropolis. Alih-alih menceritakan petualangan Clark Kent secara linear, Snyder memilih untuk menggunakan alur maju-mundur antara Clark dewasa dengan Clark kecil yang tidak terbiasa dengan kekuatan supernya. Bagaimana kedua orang tua angkatnya berusaha melindungi identitas Clark is just too sweet. Loved the chemistry between Clark-Martha-Jonathan. Dan tentunya, diselingi oleh adegan action Clark muda.

Lalu datang bagian Clark dewasa dan pra-Supermannya. Fortress of Solitude yang kalian ingat dari Superman versi Donner di sini digambarkan berbeda. There’s actually no Fortress of Solitude here, but basically you get the same thing. Di sana Clark bertemu dengan versi virtual dari ayah kandungnya dan memutuskan untuk berkostum. Namun, Clark tidak langsung wara-wiri menyelamatkan dunia, meskipun dari kecil sudah digambarkan berjiwa heroik. Ketika Zod akhirnya datang ke bumi dan mengancam keselamatan umatnya, barulah Superman muncul. Dan dari situ, Man of Steel berisi action and action and action. And action.
Ledakan sana sini dalam skala yang tidak terbayangkan. Action pieces Man of Steel berhasil membuat The Avengers terlihat seperti episode finale Arrow. Gedung-gedung di Metropolis hancur dan dilucuti oleh Zod dan kawan-kawan. Meski saya bingung karena masih ada saja gedung yang utuh. The amount of destruction in Man Of Steel is big, yet logical. Tentunya akan ada collateral damage. Innocent people will die, tidak seperti film-film Marvel yang masih enggan untuk membunuh para figurannya. Dan kalau kalian berpikir menonton semua trailer dan TV spotnya sudah membeberkan semua actionnya, oh dude, you haven’t seen them all.
Satu pertanyaan tentunya keluar, bagaimana gilanya action di Justice League nanti?
Flaws
Snyder adalah orang yang tepat untuk menggambarkan betapa kuatnya Superman. Sayangnya, ia bukanlah orang yang tepat untuk memberikan penceritaan yang mulus dan lancar. Entah pacingnya yang memang kacau atau Man of Steel dipotong terlalu banyak di ruang editing. Seringkali terasa penceritaan lompat-lompat. Seperti ada satu adegan terbuang di antara 2 adegan, hal ini mengganggu meski tidak signifikan.
Transisi Clark Kent menjadi Superman juga terasa terburu-buru. Walau saya suka dengan keputusan menggunakan alur flashback, entah kenapa hal ini membuat saya kurang bisa menangkap niat di balik Clark menjadi Superman. Berbeda ketika Peter Parker tiba-tiba memutuskan menjadi Spider-Man atau ya.. Batman.
Filmnya juga lumayan lama, 2 jam lebih. Bukan keluhan saya, tapi saya yakin akan ada banyak orang yang mengeluh tentang hal ini.
*revisi*
Setelah menonton filmnya lagi, masalah-masalah seperti pacing berkurang karena sudah mengetahui ceritanya. So, repeat viewing dianjurkan bagi kalian yang kurang suka saat menontonnya pertama kali.
Dan untuk segi teknisnya, kalian bisa baca di sini.
Henry Cavill

Another big question is, apakah image Christopher Reeve sebagai Superman terbaik berhasil digantikan? Sayangnya tidak. Sampai kapan pun, Christopher Reeve akan diingat sebagai Superman. Namun kini ia tidak sendiri, Henry Cavill berhasil menawarkan interpretasi berbeda terhadap karakter popular ini. Superman di sini lebih garang, kuat, dan relatable.
Tidakkah kalian bertanya, dengan kekuatan sebesar Superman, mengapa ia memutuskan untuk menolong sesama? Henry Cavill berhasil menjawab itu, sopannya Superman tidak tanpa alasan. Hilangnya keegoisan Superman digambarkan dengan sangat baik. Namun, sebagai ‘Clark Kent’, Henry Cavill belum teruji. Karena kita baru akan mendapatkan Daily Planet’s Clark Kent di sekuelnya.
Cast yang lainnya juga bermain baik. Meski banyak complain soal Amy Adams sebagai Lois Lane, saya sendiri tidak bermasalah dengannya. Dua ayah dan dua ibu Superman juga tidak mengusik saya. Michael Shannon sebagai Zod tidak se-memorable musuh-musuh lain di film superhero. He was just, okay.
Conclusion
Analisis saya mengatakan, bahwa Man of Steel ini membelah penonton jadi dua. Either you love it, or you hate it. Kalau dari awal kalian sudah gagal direbut hatinya oleh film ini, maka 2 jam selanjutnya akan membosankan. But it’s Superman, I can’t hate him. Apalagi kita akhirnya diberikan Superman yang benar-benar perkasa. Yang akhirnya memaksimalisasikan kekuatannya di layar lebar.
Man of Steel juga adalah film pertama dalam usaha DC membuat universe filmnya seperti Marvel. Ada sebuah easter egg yang mengaitkan Superman dengan superhero DC lainnya, so keep your eyes open. No credit scene, but the last dialog exchange will make you hope the sequel comes tomorrow.

