Review: Man of Steel (2013)

*Review di bawah mengandung spoiler ringan dan terdiri dari 2 halaman*
How I Met Man of Steel
Saya ingat sekali proses penantian saya terhadap film ini. Tahun 2011, saat itu Warner Bros. baru saja merilis materi promosi pertama Man of Steel yang berupakan sebuah foto, di mana ada Henry Cavill sebagai Superman berdiri di depan semacam brankas bank. Seingat saya, itu adalah penampakan pertama Henry Cavill sebagai Superman. Tidak jelas saat itu, apakah Superman mengenakan celana dalam warna merah khasnya itu atau tidak.
Dan ternyata tidak, fanboy pun meledak-ledak. Film ini dikatakan tidak setia dengan sumbernya, dan bla bla bla. Somehow, saya masih punya keyakinan dengan film ini. Toh pada akhirnya, ketika trailer mulai keluar, mereka semua bungkam. Apalagi setelah Iron Man 3 sukses ‘memperkosa’ Mandarin. Rasanya minus celana dalam yang dipakai di luar bisa ditolerir.
And here I am. Tahun 2013, 2 tahun menanti. Ekpektasi saya tidak bisa lebih besar lagi, pertanyaan paling krusial tentunya adalah ‘Apakah filmnya bagus?’ dan ‘Berhasilkah filmnya memenuhi ekpektasi tinggi tersebut?’. Menurut saya, Man of Steel bermain aman. Filmnya tidak melebihi ekpektasi saya, tapi sekadar memenuhinya saja. Tidak lebih, tapi cukup. So, yes, the movie’s good.
Journey of Kal-El
Man of Steel adalah sebuat reboot. Reboot yang dibutuhkan dan diperlukan. Origin stories Superman terakhir kali diceritakan di layar lebar tahun 70. Superman desperately needs reboot. Dipegang oleh Zack Snyder (300, Watchmen) sebagai sutradara, skrip yang ditulis oleh David Goyer (The Dark Knight trilogy), dan Christopher Nolan sebagai produser tentunya memastikan bahwa kali ini cerita Kal-El di bumi akan lebih kelam. Mirip Batman di The Dark Knight trilogy. Pantaskah?

Cerita dibuka di Krypton, di mana Lara Lor-Van (Ayelet Zurer) sedang melahirkan bayi lelakinya ditemani oleh Jor-El (Russel Crowe), sang suami. Sudah lama tidak ada kelahiran alami di sana. Bangsa Krypton memilih untuk membuat genetically-engineered-baby yang nantinya sudah ditentukan jalannya. Apakah menjadi ilmuwan, tentara, atau lainnya. Tidak seperti bayi yang kelak menjadi Kal-El/Clark Kent/Superman ini, ia bebas menentukan jalan hidupnya. Tidak terikat apapun.
Kal-El juga adalah usaha dari Jor-El untuk menyelamatkan rasnya dari kehancuran. Jor-El percaya bahwa planet tempat tinggalnya tidak lama lagi akan musnah, namun sayangnya para petinggi Krypton tidak sepaham. Datanglah General Zod (Michael Shannon) yang memutuskan sepihak untuk mengudeta Krypton, demi keselamatan bersama. Sayangnya misi Zod gagal dan ia bersama pasukannya dihukum ke dalam Phantom Zone. Kal-El sendiri akhirnya dikirim ke bumi bersama kode genetik dari ras Krypton, yang nantinya diharapkan bisa memulai peradaban baru.
Selanjutnya, kalian bisa tebak sendiri. Meski terakhir kali diceritakan tahun 70, origin story Superman sangat populer dan dengan menonton Superman & Superman II saja sudah cukup untuk mengetahui setengah dari jalan cerita Man of Steel. Ya, memang ada sedikit perubahan sana-sini, but overall intinya sama dan para fanboy sepertinya tidak akan terlalu keberatan dengan perubahan-perubahan tersebut.
Lanjut ke halaman kedua.
