Review: Evil Dead (2013)

Formal mode: off
Dua tahun yang lalu, gue nggak pernah nyentuh film horror. Kenapa? Karena gue nonton Mirrornya Nirina Zubir dan nggak bisa tidur 2 minggu pas SMP. Tapi, sejak mulai ngeblog film dan kenal sesama movie-blogger, gue jadi merasa cemen banget. Karena mereka rata-rata orangnya demen film horror, gore, dan sejenis. Oke, gue mulai coba nonton Paranormal Activity, lalu Insidious, Sinister, The Walking Dead sampe Mama. Oke, kayaknya udah lumayan kuat nih. Terus gue coba nonton Evil Dead midnight semalem karena nggak mau kelewatan hype. Babik, gue salah. Gue masih nggak kuat.
Formal mode: on
Ya kalau memang kalian ini suka sama film horror, pasti Evil Dead sudah tidak asing lagi. The Evil Dead (1981) karya Sam Raimi disebut-sebut sebagai salah satu film horror klasik. Saya pernah menontonnya sekali di TV, dan sama sekali tidak mengerti di mana asiknya. Jadi, review saya pun tidak akan melalui kacamata seseorang yang ngefans sama franchise ini. But, one thing I know, The Evil Dead tahun 80 sudah tidak seseram dahulu bila ditonton di jaman sekarang. Tapi semangat gore yang ditawarkannya untuk tahun 80 ini tergolong gila. Bayangkan bila film semacam itu dibuat di tahun 2012 di mana kecanggihan visual efek sudah bisa bikin Chitauri dihajar Avengers di siang bolong.
Ceritanya kurang lebih sama dengan versi aslinya, 5 remaja pergi ke sebuah kabin di hutan. Di sana mereka “berhasil” membangunkan arwah-arwah jahat/setan. Selanjutnya lumayan bisa ditebaklah, mereka “diperkosan” habis-habisan sama setan-setan jahanam itu. Ya, ada sih beberapa perubahan cerita, seperti ceweknya yang lagi berusaha untuk lepas dari narkoba atau beberapa crappy drama yang nggak penting itu. Semuanya plot device doang, the real thing is the HoRe (horror-gore)*.

The Raid mungkin contoh yang baik untuk menggambarkan film ini. Tidak terlalu banyak omong, setelah semua fondasi ceritanya sudah diletakkan, penonton tinggal menikmati adegan bak-bik-buknya. Evil Dead juga begitu, bedanya, adegan action The Raid diganti dengan adegan nakut-nakutin. 10 menit pembukaan cerita, selanjutnya mereka hajar penonton dengan adegan-adegan intensenya. Evil Dead punya 3 elemen penting yang bisa nakutin penonton: Ngagetin, serem, dan sadis. Sadis di sini adalah sadis dalam arti sesungguhnya. Tangan dipotong, lidah dibelah, pisau, cutter, chainsaw dan segala hal tajam rasanya dibuat hanya untuk ditancap ke sesama manusia.
Naik-turunnya Roller Coaster kurang tepat untuk menggambarkan pengalaman menonton Evil Dead. Lompat dari helikopter yang lagi terbang lebih cocok. Karena penonton benar-benar dibuat insecure sepanjang film. Kita tidak pernah tahu kapan sang sutradara Fede Alvarez bakal nakut-nakutin atau ini lagi bagian drama nggak pentingnya. Dengan running time 89 menit plus scoring bangsat yang makin bikin penonton nggak nyaman Evil Dead ini adalah pengalam terburuk favorit saya menonton film di bioskop.
Kembali lagi ke The Raid, lupakan akting pemainnya yang medioker, ceritanya yang nggak penting. Because you watch the movie for the other thing, the HoRe (horror-gore)*. And I think you’re not dumb enough to bring children to see this movie.
note:
* = Yeah, I made that one up.

