Review: 5 cm. (2012)

Bila ditanya apa film adaptasi novel Indonesia favorit saya sampai saat ini, maka jawabannya adalah “Jomblo”. Bahkan serbuan Perahu Kertas masih berakhir mengecewakan dan bisa dikatakan buruk. Ketika giliran 5 cm. untuk diangkat ke layar lebar, tentu saja saya cukup mengantisipasinya. Ditambah dari trailer dan hype-nya yang cukup menjanjikan, saya masuk studio dengan ekspektasi besar. Tapi sekali lagi saya kecewa.
Bagi yang belum tahu, 5 cm. bercerita tentang persahabatan 5 orang (4 cowok 1 cewek). Mereka yang sudah berteman selama 10 tahun memutusukan untuk rehat selama 3 bulan, tidak saling berkomunikasi antar sesama, dan mengejar impiannya masing-masing. Setelah 3 bulan, mereka akan bertemu lagi dalam sebuah “petualangan yang tidak pernah terlupakan”. Oke, petualangannya sendiri adalah mendaki Gunung Semeru, hingga ke puncak tertingginya Mahameru.
Saya sendiri belum pernah membaca novelnya, tapi saya yakin kualitasnya lebih baik dari adaptasi filmnya. Saya juga kurang mengerti apa yang salah dalam proses adaptasi tersebut, karena filmnya sendiri memiliki banyak ruang untuk serius tapi disia-siakan untuk bercanda. Malah ketika di bagian (yang seharusnya) serius terasa dipercepat.

Struktur film 5 cm. yang terbagi menjadi 3 bagian - 1. Perkenalan dengan 5 sahabat 2. Perpisahan mereka selama tiga bulan 3. Pertemuan kembali mereka - terasa berantakan dan labil. Bagian terakhir yang seharusnya menjadi climax malah terasa seperti film yang berbeda. Awalan yang bernuansa santai tiba-tiba berubah menjadi serius dan over-nasionalis di bagian akhir. Seperti ada proses-proses perubahan karakter di buku yang hilang. Yang tersisa cuman satu: pretensius.
Banyak juga bagian-bagian yang tidak bisa saya proses secara logis. Kenapa mereka semua mau mendaki gunung padahal tidak ada yang siap (secara fisik, mental, dan logistik. Hell, bahkan tidak ada yang tahu mereka akan mendaki gunung sampai tiba di lokasi), adegan Saykoji harus mengejar kereta karena telat datang (kenapa nggak ada yang nelpon sebelumnya?), dan sampai yang paling konyol adalah ketika salah satu dari mereka hampir mati, tidak terlontar satu pun pertanyaan “Kita balik aja, yuk?”. Saya sampai ragu ini sebenarnya bertema persahabatan yang kuat atau misi membunuh sahabat diam-diam. Dan jangan dilupakan, “pidato” mereka ketika berada di puncak Mahameru itu lebih konyol dari Aburizal Bakrie mencalonkan diri sebagai presiden.
Untungnya, 5 cm. di dalam durasi 2 jamnya yang berlebihan, memiliki humor yang cukup kena, sinematografi yang keren, Herjunot yang tampil sebagai pemain terbaik dan berkarakter paling kuat, dan tentunya Pevita Pearce dan Raline Shah yang menarik. Endingnya sendiri yang cukup “asik” mampu memaniskan rasa akhir film ini, walaupun secara kesuluruhan, 5 cm. hanyalah adaptasi buruk yang dibungkus dengan mewah.

