Review: Rectoverso (2013)

Bulan apa sekarang? Masih Februari. Masih ada 10 bulan lagi yang akan ditaburi film-film Indonesia yang konon katanya sudah berkualitas itu. Terlalu cepatkah bagi saya untuk menghakimi, bahwa Rectoverso adalah film Indonesia terbaik tahun ini?
Rectoverso adalah sebuah film omnibus adaptasi dari buku kumpulan cerpen karangan Dewi “Dee” Lestari (Perahu Kertas, Madre, Filosofi Kopi). Rectoverso sendiri berarti 2 hal yang seolah-olah terpisah, padahal sebenarnya adalah satu kesatuan. Karena itu, dalam menikmati ceritanya, Dee juga menyediakan sebuah lagu untuk masing-masing ceritanya. Keduanya saling melengkapi. Kini setelah filmnya hadir, setiap kisah dalam Rectoverso bisa dinikmati melalui medium lagu, tulisan, hingga film.
Di bukunya, Rectoverso terdiri dari 11 cerita pendek yang memiliki satu tema sama, “Cinta yang tak Terucap”. Namun, hanya 5 cerita yang diangkat ke layar lebar. Sebagai film omnibus, Rectoverso tidak bercerita terpisah (di mana satu cerita harus selesai baru berlanjut ke cerita yang lainnya), melainkan ceritanya berbaur atau teknikalnya disebut “Interwoven”. Setiap cerita berkembang bersamaan dan bergantian berkisah. Alhasil, klimaksnya berkumpul di akhir. Pengalaman yang didapat pun lebih mirip seperti naik gunung ketimbang roller coaster.
Selain itu, setiap segmen Rectoverso disutradarai oleh 5 sutradara baru yang lebih dahulu dikenal sebagai aktris. Lalu bagaimana kepiawaian mereka meng-handle tiap cerita pendeknya? Saya akan bahas satu-persatu.
*********************************
Malaikat Juga Tahu
Sutradara - Marcella Zalianty
Penulis Skenario - Ve Handojo
“Malaikat Juga Tahu” yang jadi juaranya. Bukan, ini bukan potongan lirik dari soundtrack-nya. Tapi ini adalah opini saya. Segmen ini adalah juaranya. Bahkan, “Malaikat Juga Tahu” adalah nyawa dari Rectoverso. Dari awal hingga akhir, terasa sekali kekuatan segmen ini. Didukung cerita yang paling relatable, hingga jajaran cast paling hebat, dan yang pasti lagu paling ngena membuatnya susah sekali untuk mencari celanya.
Bercerita tentang Abang (Lukman Sardi), lelaki paruh baya pengidap autisme, yang jatuh cinta kepada Leia (Prisia Nasution). Ibu Abang adalah ibu kost dari tempat tinggal Leia. Tiap hari mereka menghabiskan waktu bersama. Hingga akhirnya adik dari Abang, Hans, datang dan mengubah keadaan.
Simple, tapi seperti yang saya bilang, ini yang paling ngena. Kudos untuk semua yang terlibat di segmen ini.

*********************************
Firasat
![]()
Sutradara - Rachel Maryam
Penulis Skenario - Indra Herlambang
Selain wajahnya yang cantik, sebenarnya saya ragu aktris langganan sinetron seperti Asmirandah mampu membawa karakter seperti Senja yang sering bergelut dengan batinnya sendiri. Mungkin saya ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya. Chemistry-nya dengan Panca (Dwi Sasono) sangat manis, tapi seperti kekurangan sesuatu. Akhirnya Firasat terasa seperti parade kalimat puitis yang sulit untuk dirasa.
Firasat bercerita mengenai sebuah Klub Firasat yang diketuai oleh Panca. Di sana, Senja adalah salah satu anggotanya. Klub Firasat mengajarkan para anggotanya untuk lebih mengerti tanda-tanda yang sering diberi alam semesta, atau dalam kata lainnya adalah lebih mempertajam indra keenamnya.
Bagi yang masih bingung dengan akhir cerita Firasat versi buku, versi filmnya mampu menjabarkannya lebih eksplisit. Buat saya sendiri, selain wajah cantik Asmirandah dan kata-kata yang indah, Firasat tidak berhasil membuat saya terhibur.

*********************************
Cicak di Dinding
Sutradara - Cathy Sharon
Penulis Skenario - Ve Handojo
Cicak di Dinding mungkin bersifat lebih kepada kuda hitam di Rectoverso. Saya tidak menyangka akting Sophia Latjuba benar-benar berhasil membawa cerita ini ke level tertinggi. Chemistry-nya bersama Yama Carlos adalah chemistry terbaik dari semua cerita di Rectoverso.
Bercerita mengenai Taja, seorang pelukis berbakat, yang bertemu dengan Saras, seorang wanita sosialita yang berhasil menarik hatinya, 6 tahun yang lalu. Mereka sempat menjalin hubungan yang unik. Namun kini Saras sudah dalam kondisi yang berbeda, sedangkan Taja berada dalam situasi serba salah.
Oh, ya, visualisasi “Cicak” di dindingnya sangat keren. Setelah Malaikat Juga Tahu, ini adalah segmen favorit saya.

*********************************
Curhat buat Sahabat
![]()
Sutradara - Olga Lydia
Penulis Skenario - Ilya Sigma dan Priesnanda Dwi Satria
Di bukunya sih, ini adalah cerita pembuka. Di bukunya sendiri tidak se-komedik versi layar lebarnya. Mungkin ini hal yang bagus, mengingat keempat ceritanya sendiri melulu serius. Namun saya sendiri malah cenderung ilfeel dengan versi layar lebarnya. Selain Acha Septriasa yang melanjutnya akting menawannya usai Test Pack, Curhat buat Sahabat hampir tidak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan, setidaknya bagi saya.
Bercerita tentang 2 sahabat, Amanda (Acha Septriasa) dan Reggie (Indra Birowo). Reggie selalu setia mendengarkan curhatan seputar kisah percintaan Amanda tanpa pernah bosan. Namun pada curhatan terakhirnya, Amanda sadar, bahwa Reggielah yang selalu ada untuk dirinya. Sedangkan Reggie sudah mulai merasa cinta itu terlalu tua untuk dirinya.
Ada satu adegan yang benar-benar menohok di segmen ini, di mana benar-benar berhasil memvisualisasikan apa yang ada di bukunya. Namun, chemistry yang ditawarkan Indra Birowo kurang terlihat bagi saya. Menggagalkan beberapa momen untuk bersinar.

*********************************
Hanya Isyarat
Sutradara - Happy Salma
Penulis Skenario - Key Mangunsong
Hanya Isyarat adalah segmen yang paling puitis. Semua kata-kata yang keluar dari karakternya hampir tidak akan mungkin pernah terjadi dalam kehidupan nyata. Namun, semua itu terasa wajar karena dari awal Hanya Isyarat memang sudah menentukan arahnya. Mulai dari sinematografi dan temponya yang sudah sesuai, penonton tidak terasa aneh ketika karakter Amanda Soekasa, Al, bercerita dengan kalimat puitisnya. Inilah hal yang gagal pada film 5cm. Ketika kata-kata puitis keluar tapi tidak dengan pembangunan mood yang sesuai.
5 orang backpackers yang berkenalan lewat dunia maya akhirnya bertemu. Diam-diam, Al, tertarik dengan sebuah sosok bernama Raga (Hamish Daud). Namun Al hanya bisa mengagumi sebatas punggungnya saja. Semuanya disajikan secara metaphor, namun ketika akhirnya kita mengerti, ini semua bermakna dalam.
Hanya Isyarat berakhir sebagai segmen medioker. Saya tidak benci, tapi saya juga tidak mengaguminya. Tapi bila harus objektif, Hanya Isyarat disajikan dengan sangat baik.

*********************************
Yap, buat saya, ini adalah film Indonesia terbaik tahun 2013.
