Review: The Dark Knight (2008)
The Dark Knight, membawa franchise Batman ala Chris Nolan ke level tertinggi.
Memecahkan rekor penjual terbesar selama 1 hari, 3 hari, dan akhirnya menembus 1 billion dollar, TDK kini diakui sebagai film superhero terbaik, dan bahkan salah satu film terbaik yang pernah dibuat. Kini, tiap film superhero yang keluar selalu dibandingkan dengan TDK. Ya, TDK memang telah mematok standard untuk film superhero sekarang.

Mari kita mulai dari adegan awal. Segerombolan orang berusaha membobol sebuah bank di Gotham. Dengan strategi yang hebat, kita akhirnya tau bahwa Joker adalah otak dari perampokan ini. Lalu scene berganti dengan aksi Batman menggagalkan kejahatan, dan tampak beberapa Batman palsu menggunakan pistol ingin membantu.
Dengan awalan seperti itu, kita bisa mengetahui bahwa ini adalah pertarungan antara Batman dengan musuh abadinya, Joker. Lalu penonton disuguhi dengan performa brilian Heath Ledger sebagai Joker hingga membuat Joker versi Jack Nicholson seperti untuk anak-anak. Joker ditampilkan sebagai karakter sadis, psikopat, dan spontan. Bahkan tidak berlebihan rasanya bila mengatakan Joker adalah pemeran utamanya, instead of Batman himself. Untuk aktingnya, Ledger sendiri mendapatkan Oscar untuk Best supporting Actor. Suatu pencapaian sendiri, karena sebelumnya film adaptasi komik belum pernah memenangi Oscar untuk kategori akting.
Film berdurasi 2 jam lebih ini menyuguhkan banyak action, ledakan, dan isi otak Joker yang lebih psikopat dibanding penjahat dalam film psikopat (saya tidak bisa bilang lebih banyak, untuk menjaga tidak ada spoiler). Di tengah film, Harvey Dent yang awalnya adalah karakter baik dirubah oleh Joker menjadi karakter antagonis, Two-Face. Make up Two-Face sendiri membuat Two-Face versi Tommy Lee Jones seperti topeng Halloween anak-anak.
Cerita yang dibangun dengan sempurna dari awal, berakhir diplomatis di mana tidak semua superhero mendapatkan keinginannya. Seperti perempuan, tenar, dipuja, dan mengalahkan penjahatnya, tidak, saya tidak menyindir Spider-man, atau Iron Man ![]()
Dialog cerdas mewarnai film ini, membuatnya lebih dari sekedar film superhero. Tidak seperti Batman and Robin di mana kita mendapati “BOOM” “POW” “SHAZAM” dan sebagainya.
In the end, The Dark Knight adalah film yang harus Anda tonton sebelum Anda meninggal. Because it’s just too good.

