Review: Life of Pi (2012)

Apakah Anda percaya Tuhan? Bila iya, “Tuhan” manakah yang Anda percaya? Pertanyaan-pertanyaan ini sungguh sakti. Hanya karena berbeda kepercayaan, manusia bisa saling membunuh. Apa yang seharusnya dipersatukan, malah dipisahkan. Saya tidak akan bercerita tentang kepercayaan saya, tapi Life of Pi sudah lebih dari cukup dalam hal mewakili opini saya.
Seperti judulnya, Life of Pi memang bercerita tentang Pi Patel. Dari adegan pertama, kita dipertemukan oleh Pi yang kini sudah dewasa dan tinggal di Kanada. Oleh seorang penulis buku, Pi diminta menceritakan kisah hidupnya, yang “katanya” mampu membuat seseorang menjadi percaya pada Tuhan. Dari situlah, kita ditawarkan apa yang disebut “Visual Story-telling” dari kisah hidup seorang Pi Patel.
Pi yang berasal dari India, mempunyai seorang Ayah yang memiliki kebun binatang. Pi yang sejak kecil sudah penasaran dengan hal-hal religius, mulai mencoba satu-persatu agama yang pernah ia temui. Dari Hindu, Kristen, hingga Islam ia pelajari. Sampai datanglah satu masa krisis, di mana keluarga Pi harus pindah ke Kanada karena krisis yang melanda. Bersama dengan seluruh hewan-hewan dari kebun binatangnya, Pi dan keluarga menaiki sebuah perahu besar menuju Kanada. Di sinilah cerita dimulai, ketika badai menghantam perahu Pi, menyisakan Pi dan Richard Parker, harimau bengal, dalam sebuah sekoci kecil. Tidak ada kata yang dapat menggambarkan kelanjutan film ini selain “Perjalanan Spiritual”.

Pertama-tama, saya suka bagaimana cerita dibuka melalui Pi Patel yang sudah dewasa dan membiarkan penonton tahu bahwa ia akan selamat dari kecelakaan tersebut. Apa yang tersisa hanyalah mengikuti petualangan dari Pi sembari mencari tahu bagaimana caranya ia selamat. Kedua, Life of Pi bisa dikatakan sebagai film dengan visual terbaik tahun ini. Ya, “Visual Story-telling” yang menjadi kunci di film ini memang benar-benar memanjakan mata. Dari ketajaman gambar, komposisi warna, hingga harimau CGI yang mendominasi film, ditawarkan dengan sangat baik. Saya sendiri tidak menonton versi 3D-nya, namun saya yakin kualitasnya sangat baik dan berperan penting dalam menambah keseruan menonton.
Tentunya, elemen paling penting dalam film ini adalah cerita. Life of Pi yang diangkat dari novel berjudul sama ini benar-benar menggambarkan perbedaan antara agama dengan sangat bijak. Alurnya cenderung cukup lambat dan mungkin membosankan bagi beberapa orang. Namun sisipan jokes dan adegan badai yang sangat hebat (kursi saya sampai goyang) bisa berfungsi sebagai jam weker bagi Anda yang menguap di ujung sana.
Seluruh cast menampilkan akting terbaiknya, didominasi oleh orang India, satu-satunya kelemahan yang sangat terlihat adalah bahasa Inggris mereka yang kurang baik. Tapi, hey, itu gunanya subtitle kan? Saya sendiri tidak mempermasalahkan hal seperti itu. Baik pemeran Pi kecil, remaja, hingga dewasa bermain sangat baik dan meyakinkan. Dan kalimat Pi di akhir ceritanya, terlalu kuat dan personal bagi saya.
Well, awalnya saya memang ingin memberi rating 3.14, tapi Life of Pi adalah sebuah film yang sangat superior.

