Ketika hidup anda terancam hingga tiba di ujung tanduk, mungkin salah satu jalan keluar terbaiknya adalah dengan melarikan diri.
Malavita menceritakan kisah keluarga mafia Blake...
Bagaimana jadinya kalau orang hidup dari mengais sampah? Mungkin bayangan kita langsung melayang ke para pemulung yang memang sehari-harinya menyambung hidup dengan demikian atau...
Ketika mendengar kata "politik" mungkin banyak dari masyarakat yang sudah skeptis dan berburuk sangka, menilai bahwa politik mungkin hanya sasaran empuk bagi mereka yang ingin memperkaya diri masing-masing atau memperoleh...
Satu lagi film dalam program kuratorial Mobilitas Sosial untuk Pemula dalam program ARKIPEL International Documentary and Experimental Film Festival 2013 yang saya tonton adalah...
Kelewatan film ini ketika diputar pada ChopShots International Documentary Film Festival 2012 Desember lalu (dan menang Juara 2 untuk kompetisi internasionalnya), saya sangat bersyukur...
Ceritanya, setelah menonton Pacific Rim 2D bersama seorang teman baik saya, dia mengajak saya untuk nonton di IMAX dan kami sudah janjian sejak saat...
Saya punya kegemaran pribadi menonton film-film tentang pendidikan dan segala sesuatu yang berbau kehidupan sekolah, entah karena alasan apa. Baru-baru ini, saya berkesempatan menonton...
Inilah yang layak disebut sebagai contoh nyata dari sebuah perjuangan dan cinta yang tak habis-habisnya terhadap sesuatu, karena film ini membuktikan bahwa kita harus...
Film dokumenter ini berlatar belakang peristiwa tahun 1965-66, ketika pemerintahan Soekarno digulingkan. Pemberantasan PKI digaungkan. Anwar Congo dan Adi Zulkadry, 2 orang yang dulunya hanya pencatut tiket bioskop di Medan, naik kelas dari preman kelas teri ke pembunuh. Setidaknya, di tangan mereka terbunuh 1000 orang yang dituduh komunis, etnis Tionghoa yang enggan membayar maupun kalangan intelektual. Saat ini, Anwar Congo (sorotan utama film ini) bahkan dihormati sebagai salah satu founding father organisasi sayap-kanan Pemuda Pancasila yang banyak diasosiasikan dengan premanisme dan berawal dari pasukan yang terlibat dalam aksi 1965-66.
Rohan (Rajat Barmecha) adalah seorang anak yang bersekolah di Bishop Cotton School di daerah Shimla (sudah nonton 3 Idiots? Kalau sudah, pasti anda familiar dengan nama daerah ini). Dia dan ketiga sahabatnya, Vikram, Benoy dan Maninder, dikeluarkan dari sekolah yang berasrama tersebut karena tertangkap basah oleh staf sekolah menonton film dewasa di bioskop. Vikram, Benoy dan Maninder pulang ke Mumbai di provinsi Maharashtra sementara Rohan pulang ke Jamshedpur di provinsi Jharkhand yang jauh dari Mumbai ataupun Shimla.
Saya lahir tahun 1993. Sudah jelas, film ini bukan film di era saya. Umur film ini saja lebih tua 7 tahun dibanding saya. Tapi ketika di tahun 2013 saya direkomendasikan untuk menonton film ini sebagai bahan referensi genre komedi romantis, saya harus akui bahwa film ini memang layak menyandang status "bahan belajar".
Ini adalah kisah 3 murid tunanetra, Diana (Karina Salim), Fitri (Ayushita) dan Andika (Anggun Priambodo) yang bersekolah di sebuah SLB. Diana adalah seseorang yang partially-sighted, masih bisa melihat walaupun harus dalam jarak 1 inci. Diana sudah berumur 17 tahun, namun belum juga menstruasi...