Review: Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004)

by -
0

eternal

Dosen-dosen saya banyak yang suka menyebut judul film ini sebagai rujukan belajar film. Ada juga dosen tamu yang datang ke kampus saya dan menyebut judul film ini. Roger Ebert bahkan memasukkan film ini dalam daftar Great Movies-nya. Saya penasaran, seperti apakah film ini sebenarnya, maka akhirnya saya menonton film ini. Sebuah film yang disutradarai oleh Michel Gondry dan ditulis oleh Charlie Kaufman, film ini dirilis pada tahun 2004 dan menang berbagai penghargaan, termasuk Piala Oscar untuk Best Original Screenplay.

Ceritanya berkisar di 2 karakter, Joel Barish (Jim Carrey) yang pemalu dan pendiam dan Clementine Kruczynski (Kate Winslet) yang free-spirited. Mereka bertemu di stasiun kereta Montauk, New York lalu berada dalam kereta yang sama. Mereka tidak sadar bahwa mereka dulunya saling mencintai, namun memori tersebut sudah dihapus. Akibat suatu perkelahian, Clementine memutuskan untuk pergi ke Lacuna, Inc., menemui Dr. Howard Mierzwiak (Tom Wilkinson) dan menghapus memori Joel darinya. Joel, atas dasar balas dendam, kemudian melakukan hal yang sama, namun di tengah jalan, Joel kembali merasakan cintanya terhadap Clementine dan ingin mempertahankan sebagian memori mereka.

32546-600fulleternalsunshineofthespotlessmindscree

Paralel dengan cerita Joel dan Clementine, ada juga kisah para pekerja Lacuna, Inc., Patrick (Elijah Wood), Stan (Mark Ruffalo) dan Mary (Kirsten Dunst). Kisah mereka terkait dengan cerita serta memori Joel dan Clementine, yang pada akhirnya membongkar apa yang sebenarnya terjadi.

Michel Gondry dan Charlie Kaufman membawa kita dalam sebuah permainan pikiran dan perasaan yang sangat kompleks. Di satu sisi kita akan melihat apa yang pernah terjadi antara Joel dan Clementine dalam memori Joel. Di sisi lain kita akan melihat usaha Joel untuk tidak menghapus memori tersebut. Sesudah itu kita disuguhkan cerita Joel dan Clementine sesudah memori mereka dihapus. Semua diurutkan secara non-linear, membuat kita merasakan secara intens kebingungan, kesedihan dan kebahagiaan Joel serta tindakan-tindakannya dalam mempertahankan memori cintanya.

Pada awalnya, teknis kamera membuat saya mempertanyakan motivasi di balik shot tersebut, namun ketika film ini menarik saya semakin dalam ke ceritanya, saya semakin paham dan merasakan cerdasnya film ini. Skrip yang brilian membuat saya berteriak-teriak kesenangan. Keputusan cerdas dalam semua aspek mise-en-scene dan suara juga turut mendukung kemegahannya. Pilihan yang diambil mungkin tidak biasa, tapi anda akan paham bahwa pilihan-pilihan tersebut membuat cerita dan karakter-karakter di film ini semakin kuat. Saya beri contoh: misalnya keputusan untuk membuat Joel dan Clementine berbaring di kasur kamar ketika Joel sedang flashback ke memorinya saat berbaring bersama Clementine lalu berpindah memori; kasurnya menjadi terletak di tengah-tengah pantai bersalju. Saya rasa keputusan tersebut sangat cerdas dan tepat sasaran untuk menaikkan intensitas ceritanya. Bahkan keputusan untuk menggonta-ganti warna rambut Clementine juga turut mempengaruhi cerita ini. Acting Jim Carrey dan Kate Winslet juga patut diacungi dua jempol.

49-bed-on-beach

Saya rasa film ini ingin menegaskan bahwa pada akhirnya, anda akan kembali lagi ke kenangan cinta anda. Tagline-nya pun menunjukkan hal yang serupa: anda bisa saja menghapus seseorang dari otak anda, tapi menghapus mereka dari hati anda adalah lain perkara. Tapi ini jelas bukan film cinta biasa. Dan di sini kita diuji untuk bisa menghargai kenangan cinta dengan cara yang unik dan penuh permainan.

Melihat respons para kritikus film terhadap film ini, saya menemukan 2 hal: mereka yang tidak suka akan sangat tidak suka dan mereka yang suka akan sangat cinta pada film ini.

Dan saya termasuk kelompok kedua.

Rating

By the way, judul film ini diambil dari potongan puisi Eloisa to Abelard yang ditulis oleh Alexander Pope:

How happy is the blameless vestal’s lot! The world forgetting, by the world forgot. Eternal sunshine of the spotless mind! Each pray’r accepted, and each wish resign’d.