Alan Rickman sedang tersenyum di alam baka karena peran terakhirnya di Eye in the Sky berhasil memikat penikmat film.
Alan Rickman sedang tersenyum di alam baka karena peran terakhirnya di Eye in the Sky berhasil memikat penikmat film.
Menonton bukan lagi kemewahan bagi saya akhir-akhir ini. Karena satu dan dua hal layar bioskop menjadi sesuatu yang asing. Tapi Alan Rickman berhasil ‘menyeret’ saya untuk kembali…menonton. Terima kasih 🙂
Helen Mirren dalam wawancaranya yang saya sarikan dari The Guardian mengatakan penampilan lawan mainnya tersebut cocok dengan citra sang aktor yang selama ini dikenal menaruh perhatian cukup besar untuk isu politik.
Penampilan Alan Rickman sebagai seorang jenderal Inggris, di film yang diproduksi sejak tahun 2015, mematrikan kembali dirinya sebagai aktor papan atas. Dikenal mendunia karena aktingnya sebagai Hans Gruber, musuh dari Bruce Willis di film Die Hard, saya lebih familiar dengan beliau melalui perannya sebagai Professor Severus Snape di film Harry Potter. Alan Rickman meninggal karena penyakit kanker di usia 69 tahun pada bulan Januari. Letnan Jendral Frank Benson di film ini adalah karakter terakhir yang beliau perankan.

Premis Eye in The Sky diawali dengan Hellen Miller, berperan sebagai Kolonel Katherine Powell, berhadapan dengan perburuan dua target teroris pemerintah Inggris yang sedang merencanakan serangan dan perekrutan pelaku bom bunuh diri di sebuah gubuk di Nairobi. Pemerintah Inggris dengan teknologi drone berhasil mendapatkan pemandangan langsung detik demi detik mulai dari serangan itu sedang dirancang dan akan dieksekusi dari ‘mata-mata’ mereka di langit, yaitu teknologi drone. Kolonel Katherine Powell sudah menyelidiki kedua target teroris ini dari enam tahun yang lalu hingga akhirnya berkesempatan mendapatkan keduanya saat ini.
Barkhad Abdi, bermain di film Captain Phillips, berperan sebagai seorang agen anti teror Somalia di lapangan berhasil mengirimkan drone berbentuk serangga ke gubuk tempat serangan sedang direncanakan untuk membantu pemerintah Inggris mendapatkan pemandangan langsung dari dalam gubuk. Keadaan semakin genting saat seorang gadis muda Kenya bernama Alia membawa roti untuk dijual disebuah lapak dibalik gubuk tersebut.
Adu argumen kemudian terjadi diantara pejabat pemerintah Inggris yang menyaksikan langsung situasi di lapangan dari kursi nyaman mereka di gedung pemerintahan. Keputusan untuk menyerang rencana bom bunuh diri tersebut berbenturan dengan rasa kemanusiaan atas nasib orang-orang sipil di sekitar yang akan merasakan langsung efek bila drone ditembakan langsung ke gubuk tersebut. Alan Rickman terjebak di tengah-tengah situasi keputusan yang terus diping-pong antara pejabat teras Inggris hingga Amerika harus menghadapi situasi pelik ini.
Belum selesai konflik antara pejabat teras Inggris dan Amerika, Kolonel Katherine Powell sebagai komando di lapangan juga harus berhadapan dengan tingkah laku Steve Watts (Aaron Paul), pilot drone yang bertugas bila akhirnya keputusan menembakkan rudal hellfire ke gubuk, turut mempertanyakan keamanan para penduduk sipil di sekitar tempat kejadian.

Eye in the Sky memberikan pemandangan jelas betapa banyaknya agenda orang-orang di pemerintahan, dalam film ini pemerintah Inggris dan Amerika, ketika dihadapkan pada situasi sulit. Agenda masing-masing pejabat teras kedua negara memberikan rasa gemas tersendiri kala penonton berada di tengah hingga akhir cerita. Pada akhirnya, Eye in the Sky menjadi latihan emosi tersendiri untuk kita dalam memahami apa arti sesungguhnya efek sebuah perang.
SIMILAR ARTICLES
-
abang






































