Adalah Michelle (Mary Elizabeth Winstead), seorang wanita muda yang menemukan dirinya terjerembap di sebuah kamar bawah tanah tak berpenghuni, kecuali hanya dirinya beserta barang bawaan ketika ia mengalami kecelakaan fatal. Tak lama berselang, seorang pria (John Goodman) berbadan besar serta menakutkan datang menghampiri. Dan hal yang ia katakan cukup mengejutkan, bahwa dunia sudah berakhir. Perang nuklir yang sudah lama didengung-dengungkan itu, diklaim mampu melumat seluruh umat manusia, kecuali beberapa orang yang berhasil selamat.
10 Cloverfield Lane merupakan sebuah kreasi yang sebaiknya kamu tidak tahu sama sekali, bahkan cuma sekadar mencicipi trailer dan poster-posternya, jangan! Intinya, the less you know, the better. Di sisi lain, dengan kampanye promosional yang sangat minim, boleh jadi film yang digawangi oleh sutradara debutan Dan Trachtenberg lolos dari radar penonton kebanyakan. Meski mengusung tajuk cloverfield — seperti film found-footage yang dirilis delapan tahun silam tersebut, kamu pasti akan langsung tahu bahwa 10 Cloverfield Lane bukanlah prekuel maupun sekuel dari film arahan J.J. Abrams tersebut setelah menonton 30 menit pertama.
Dengan menjauhkan dirinya dari segala pengaruh Cloverfield, 10 Cloverfield Lane mendefinisikan ulang bagaimana sebuah thriller mencekam dibuat. Desain bunker dengan segala kesan klaustrofobiknya, hingga kekerasan domestik yang dipertontonkan nyaris tanpa henti oleh Howard, beserta seluruh “aturan main” untuk berperilaku arif pasca fallout terjadi jika Michelle tidak ingin nyawanya melayang. Walaupun begitu, saya tetap yakin bahwa 10 Cloverfield Lane merupakan revitalisasi terhadap home-invasion thriller yang formulanya digadang-gadang sudah mulai usang.
Seperti yang sudah saya ujar di atas, semakin sedikit kamu tahu mengenai 10 Cloverfield Lane, semakin baik. Kamu akan merasa bahwa kamu baru saja ditraktir oleh salah satu thriller terbaik tahun ini. Sinematografi meyakinkan, performa puncak para pelakonnya, hingga tensi yang membikin jatung berdegup sekuat-kuatnya. Pokoknya, puas! Yah, meski konklusinya terbilang “kontroversial” sih — toh saya suka.






































