Zack Snyder sukses. Ia berhasil melakukan sebuah hal yang saya kira selama ini mustahil; membuat film duel antara Batman melawan Superman, ditemani Wonder Woman dan cameo berbagai anggota Justice League, dengan dukungan bujet yang “tampak” tak berbatas, berakhir menjemukan.

Harus diakui, Batman v Superman adalah sebuah proyek yang ambisius meski tak lepas dari kesan terburu-buru. Snyder jelas menginginkan filmnya kali ini menjadi landasan kokoh untuk universe sinematik milik DC, dan hal pertama yang ia pastikan adalah menentukan tone yang berbeda dengan pesaingnya.

Dari awal, film dibuka dengan konflik yang unik, “Apakah dunia siap untuk menerima kehadiran superhero?”. Sebuah tema yang sebenarnya sudah ada sejak Man of Steel. Sayangnya, visi brilian yang dimiliki film, gagal dieksekusi dengan tepat. Meski realistis, filmnya terlalu pusing menangani berbagai subplot yang ditawarkan dirinya sendiri.

Penonton praktis langsung disuguhkan 3 jalan cerita utama berbeda. Kisah Superman (Henry Cavill) melawan opini publik, rencana Lex Luthor (Jesse Eisenberg) menjatuhkan Superman, dan juga dendam Batman (Ben Affleck) terhadap Superman. Tentunya ada beberapa subplot lainnya yang melibatkan karakter sampingan seperti Lois Lane (Amy Adams) dan Wonder Woman (Gal Gadot). Di saat inilah film kehilangan fokusnya, dan juga terasa sangat tidak kohesif dan koheren.

batman-v-superman-trinity

Tiga jalan cerita utamanya kebingungan mencari cara untuk bermuara di akhir dengan rapi. Editing yang kasar, transisi antar adegan yang buruk, juga tidak membantu. Akhirnya penonton pun tidak mendapatkan pengalaman menonton yang nyaman dikarenakan alur ceritanya sibuk melompat-lompat.

Minimnya adegan aksi di paruh pertamanya juga mencoreng judul film ini. Karena mayoritas film adalah kumpulan peristiwa menuju ke pertarungan, alih-alih pertarungannya itu sendiri.

Dan ketika film akhirnya mencapai titik puncaknya, adegan aksinya memang jauh lebih banyak. And, don’t get me wrong, it’s great. It’s what you expect and why you’re paying the ticket. Tapi kemudian ceritanya gagal menopang alasan-alasan pertarungan itu terjadi.

Film yang sebelumnya berjalan dengan tempo cenderung lambat tiba-tiba berubah menjadi cepat. Logika diabaikan hanya agar satu pertarungan bisa berlanjut ke satu adegan aksi lainnya. Sure, if you’re into the action, you’ll be satisfied.

Tapi sebenarnya, yang paling mengecewakan untuk saya adalah bagaimana janji-janji di paruh awalnya tidak mendapatkan pay-off sepadan. Isu politik terhadap kehadiran Superman dan Batman di dunia akhirnya tidak mendapatkan jawaban yang pantas. Semuanya menjadi baik-baik saja, karena pada akhirnya the superheroes saved the day.

Satu hal lainnya yang juga mengganggu saya adalah bagaimana easter eggs ditanamkan dalam film ini. Ya, Batman v Superman jelas adalah landasan untuk DCEU (DC Extended Universe). Namun penempatan berbagai cameo dan cara mereka meletakannya sangat-sangat tidak halus, atau penting. Kalian yang familiar mungkin akan sangat girang saat beberapa wajah muncul. Bagi yang lain, dalam arti publik awam, bagian-bagian tersebut hanya kian sukses mengalienasi mereka dari film.

Review overview
Story - 6
Acting - 8.5
Direction - 5.5
Blogging films since 2011. A romance and superhero genre aficionado.