Akhir-akhir ini, film bertemakan mata-mata dan spionase nampaknya sedang memiliki momentumnya. Kita sudah menikmati Kingsman: The Secret Service (2014), Spy (2015) dan film yang belum lama ini juga rilis, Mission: Impossible – Rogue Nation (2015). Bisa dibilang dari ketiga film yang saya sebutkan, unsur komedi sangatlah terasa di ketiga film tersebut, yang agaknya membuat film spionase terasa lebih ringan dan tidak semata-mata terlalu berat dengan misi-misi berbahayanya. Kali ini, kita kedatangan The Man from U.N.C.L.E, film bertemakan mata-mata yang diadaptasi dari serial televisi Amerika tahun 60-an dengan judul yang sama. Dan seperti tren film spionase akhir-akhir ini, unsur komedi dan humor pun tidak luput ditampilkan di film ini.

Disutradarai oleh Guy Ritchie (Snatch, RocknRolla, Sherlock Holmes), The Man from U.N.C.L.E menceritakan tentang Napoleon Solo (Henry Cavill), orang Amerika yang merupakan pencuri profesional yang direkrut menjadi agen CIA dan Illya Kuryakin (Armie Hammer), orang Rusia yang merupakan aktivis KGB dimana mereka pada awalnya bermusuhan, kemudian dipaksa harus bekerja sama oleh para atasan mereka untuk menyelidiki sebuah perusahaan yang dimilki oleh Alexander Vinciguerra (Luca Calvani) dan Victoria Vinciguerra (Elizabeth Debicki) yang dicurigai tengah dalam usaha untuk membuat senjata nuklir. Untuk dapat memperoleh informasi lanjut tentang hal itu, Solo dan Kuryakin juga bekerja sama dengan Gaby Teller (Alicia Vikander), anak dari ilmuwan yang dipercaya bekerja dalam membuat nuklir untuk Alexander dan Victoria Vinciguerra. Nama The Man from U.N.C.L.E sendiri baru dijelaskan di akhir film, dimana Solo, Kuryakin dan Teller berperan di dalamnya.

Film ini menggunakan setting waktu tahun 1963 yang berusaha tetap setia dengan versi asli dari serial televisinya untuk mempertahankan nilai autentiknya dan memberikan beberapa homage untuk menghormati serial televisinya. Tidak mudah untuk menggambarkan setting film di tahun 60 –an, di sinilah production value berbicara.

Production value film ini terasa sangat matang untuk membangun setting di tahun 60 –an. Hal itu bisa dilihat dari bagaimana kostum dan wardrobe yang menampilkan gaya-gaya vintage dan retro yang benar-benar asyik dengan warna-warna mencolok, belum lagi setting tempat yang juga mendukung, itu bisa diperhatikan dari gaya arsitektur gedung, kendaraan dan alat-alat elektronik yang digunakan. Hal-hal tersebut seolah-olah melempar kita ke masa lalu di beberapa daerah Eropa yang menjadi lokasi utama di film ini. Hal menarik lainnya adalah kesederhanaan dari alat yang digunakan oleh para mata-mata. Kalau biasanya film mata-mata lain menonjol dari segi peralatan canggih yang mereka gunakan, di film ini peralatan yang digunakan masih sangatlah sederhana dan masuk akal.

The Man from U.N.C.L.E

Untuk beberapa orang yang baru menonton film ini tanpa pernah menonton serial televisinya (dan saya termasuk salah satunya), dapat menemukan bahwa jalan cerita yang dihadirkan bisa dibilang unik. Karena pada sejatinya Solo dan Kuryakin datang dari dua kubu yang hampir sulit untuk disatukan, tapi mereka harus bekerja sama. Di situ kita dapat mengamati bagaimana Solo yang flamboyan dan Kuryakin yang terkesan kaku harus mengesampingkan ego mereka masing-masing dan fokus terhadap misi. Henry Cavill dan Armie Hammer memerankan peran mereka dengan amat meyakinkan. Untuk jajaran cast, Guy Ritchie memilih aktor-aktor yang tepat. Hal itu juga berlaku untuk Alicia Vikander yang tampil tajam dan menawan untuk mengimbangi Henry Cavill dan Armie Hammer. Ditambah dengan aksen-aksen yang terdengar mencolok dan berbeda dari satu sama lain, masing-masing dari mereka bersinar dengan cara dan pembawaaan karakteristik mereka masing-masing.

Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa di beberapa titik, plot terasa terlalu panjang sehingga bisa mengakibatkan penonton kehilangan atensi sesaat pada kontinuitas film. Hal itu terjadi karena konflik utama yang dihadirkan bukanlah sesuatu yang baru dan twist dalam film ini pun tidak berperan banyak untuk membuat penonton terkesima. Tapi itu semua dapat dikompromikan dengan beberapa humor dan komedi yang paling tidak membuat anda tertawa dan menikmati tiap guyonan-guyonannya.

Sinematografi di film ini juga patut untuk diberikan pujian. Cara pengambilan-pengambilan gambar untuk beberapa adegan sangatlah eye-catchy dengan pengemasan gaya klasik. Hal menarik lainnya adalah ketika kita dapat menikmati beberapa adegan krusial yang ditangkap oleh kamera secara spesial yang membuat adegan tersebut memorable. Scoring dan Original Soundtrack pun turut berperan penting dalam membuat film ini semakin menonjol.

Secara garis besar, The Man from U.N.C.L.E adalah film spionase yang sangat menghibur dan menyenangkan. Kematangan dalam mengahadirkan era tahun 60 –an dengan gaya vintage dan retro ditambah oleh apiknya penampilan para pemainnya dengan segala komedi yang dihadirkan, dapat dipastikan bahwa sekuelnya amat sangat ditunggu.

“How’s that for entertainment?”

Review overview
Acting - 8.6
Directing - 8.3
Story - 8.2
A young adult who found an excessive bliss in watching movies.
  • Himawan Ichwana

    hallo, saya mau merekomendasikan film Fracture(2007)untuk anda tonton, soalnya saya masih ngerti2 gangerti haha, dan pliss buat review nya disini..