Film Hong Kong yang satu ini cukup menarik perhatian saya atas dua alasan. Pertama, karena film ini diklaim Variety sebagai film yang premisnya mengingatkan kita terhadap film box office Indonesia sepanjang masa, Laskar Pelangi. Temanya mengungkit masalah pendidikan, yang hampir selalu bisa menarik perhatian orang. Kedua, film ini berangkat dari kisah nyata.
Disutradarai oleh Adrian Kwan, film ini berkisah tentang Lui Wai-Hung (Miriam Yeung), seorang kepala sekolah TK internasional yang idealis. Keyakinannya bahwa pendidikan tidak semerta-merta hanya nilai bagus dan donasi orangtua yang akhirnya bisa mempengaruhi objektivitas penilaian anak membuatnya akhirnya mengundurkan diri dari sekolah tersebut. Di saat yang bersamaan, Dong (Louis Koo), suaminya yang juga seorang idealis, mengundurkan diri sebagai kurator museum tempatnya bekerja setelah proyek pameran Revolusi Perancisnya dipersulit akibat masalah biaya. Lui dan Dong sudah berjanji akan berkeliling dunia bersama setelah kontrak Dong selesai dalam 6 bulan sejak pengunduran dirinya. Sembari menunggu 6 bulan sampai selesainya kontrak Dong, Lui memutuskan untuk mengambil pekerjaan sebagai kepala sekolah sebuah TK yang muridnya hanya 5 dan hampir tutup dengan gaji hanya sekitar HK$ 4500 sebulan-sebuah keputusan yang dia ambil setelah dia melihat nasib TK malang tersebut beserta lowongannya di TV.
Sepanjang cerita, film ini selalu berusaha untuk menanamkan nilai-nilai positif melalui alur ceritanya. Lui berusaha keras melawan stigma negatif masyarakat terhadap sekolahnya yang nasibnya memang sudah di ujung tanduk itu, belum lagi ditambah masalah-masalah pribadi dari keluarga anak-anak tersebut yang semakin menghambat mereka untuk meneruskan sekolah. Dong, sang suami, bukan berarti juga bebas dari permasalahan. Usahanya untuk membangun guillotine untuk pameran Revolusi Perancis dengan perbandingan 1:1 yang dia usahakan untuk menjadi semirip mungkin dengan aslinya berjalan dengan sangat tidak lancar. Belum lagi masalah antara Lui dan Dong sendiri. Lui yang terlalu mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk TK yang hampir tidak ada harapan tersebut pada akhirnya mengorbankan waktunya dengan Dong, yang tidak sepenuhnya diterima dengan lapang dada oleh Dong (dan sebenarnya hal itu wajar saja). Lui pun berusaha untuk mengatasi semua rintangan dan masalah yang menghadapinya, mulai dari usahanya mempertahankan eksistensi TK miskin tersebut, kemudian mempertahankan murid-muridnya agar tidak putus sekolah, ditambah harus kembali menghadapi penyakit lama Lui yang tiba-tiba kembali kambuh, sampai berusaha untuk mencapai pemahaman dan kesepakatan bersama dengan Dong.

Dalam film ini, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, akting 5 anak dalam film ini sangat natural sehingga harus diapresiasi, mengingat susahnya mencari dan menyutradarai aktor anak-anak. Kedua, chemistry antara Lui dan Dong sebagai suami istri yang sangat bisa dipercaya dan tidak terkesan dibuat-buat. Ketiga, secara teknis pun film ini digarap dengan sangat baik. Mulai dari kamera yang menangkap momen-momen secara tepat dan tidak berusaha untuk terlihat cantik tanpa alasan, editing yang rapi dan mengalir, sampai art department yang sangat bisa mewakili suasana masing-masing setting dan alur cerita film, termasuk guillotine yang terlihat asli (catatan tidak memuaskan saya secara teknis hanya ada pada scoring musik film yang terlalu berlebihan sehingga terdengar hampir sama seperti sinetron Indonesia). Keempat-dan yang paling utama-adalah usaha film ini untuk menanamkan nilai-nilai positif.
Film ini adalah film keluarga, sehingga tentunya target film ini adalah bisa ditonton anak bersama orangtuanya dan menjadi film yang bisa memberikan pelajaran-pelajaran luhur. Embel-embel “diangkat dari kisah nyata” seperti hendak memberikan justifikasi bahwa film ini berangkat dari hal-hal yang bisa dan tidak mustahil ditiru dan diaplikasikan pada kehidupan nyata kita. Hal-hal mendidik tersebut pun memang ditanamkan sepanjang film, baik secara langsung melalui dialog dan teks maupun secara tidak langsung melalui sifat dan sikap para karakter. Lui secara konsisten digambarkan sebagai seorang yang pantang menyerah dan tidak takut terhadap stigma buruk. Dong juga secara konsisten digambarkan sebagai orang yang pantang menyerah dan tidak mau menang sendiri. Kelima anak didik Lui digambarkan sebagai anak-anak yang walaupun berasal dari kelas ekonomi bawah, tapi tetap tidak patah semangat dan selalu ingin belajar. Karakter-karakter dengan sifat negatif juga digambarkan dengan gamblang dan jelas, sehingga penonton bisa membedakan secara pasti mana yang baik dan patut ditiru dan mana yang tidak. Namun, cara film ini menyampaikan pesan-pesan positifnya bisa menjadi suatu cara yang sifatnya pisau bermata dua. Pada satu sisi, penonton keluarga yang memang mencari pendidikan moral tentu akan merasa sangat diuntungkan dengan cara film ini menggembar-gemborkan nilai-nilai positifnya secara terus menerus. Namun, pada sisi lain, cara ini sangat rawan membuat penonton, khususnya penonton dewasa, merasa bosan dan dicekoki. Pada akhirnya, jika penonton sudah merasa demikian, mereka pun akan lebih awas dan sadar terhadap kesalahan dan kejanggalan dalam film. Dari beberapa contoh yang bisa diungkit di filmnya, misalnya saja, pada satu adegan Dong memamerkan Lui yang sedang sakit replika guillotine-nya. Walaupun Dong memang merancang, menghitung dan membangun sendiri replika guillotine tersebut dan tentunya hal ini patut diapresiasi dan diketahui Lui, rasanya tentu tidak cukup romantis bagi seorang suami untuk membawakan seorang istri yang sedang sakit-dan cukup parah-sebuah guillotine.
Pada intinya, film ini berhasil secara teknis dan dalam tujuan utamanya sebagai film yang mendidik dan membangun semangat positif yang inspiratif. Hanya saja, saking getol dan kerasnya, film ini terkesan menggurui dan sering lupa terhadap logika-logika ceritanya sendiri, sehingga terkesan too good to be true.



































