Meski sudah berumur 19 tahun dan ditopang oleh kekuatan bintang dari aktor utamanya yang berumur 53 tahun, nyatanya seri Mission: Impossible masih mampu menarik para penonton kembali ke bioskop, dan, membuat mereka tercengang serta terhibur.

Ya, seri adaptasi dari serial televisi tahun 60an berjudul sama ini memang tidak selalu berhasil melakukan hal tersebut. Mulai dari film pertamanya yang terlalu berbelit, lalu sekuelnya yang melenceng terlalu jauh dengan berbagai adegan aksi yang kelewat cheesy, Mission: Impossible mendapat nyawa baru saat dipegang oleh JJ Abrams pada instalmen ketiganya di tahun 2006. Meski tidak sempurna, dari situ, franchise ini tahu ke arah mana ia harus pergi. Hal itu diperbaiki oleh Brad Bird di Mission: Impossible - Ghost Protocol pada tahun 2011, dan kemudian disempurnakan oleh Christopher McQuarrie di sini.

Sang sutradara yang sebelumnya sudah pernah berkolaborasi dengan Tom Cruise di Jack Reacher ini tahu betul bagaimana memanfaatkan formula usang menjadi kembali segar dengan set piece actionnya yang sama gilanya ditopang dengan interaksi antar karakternya yang kuat juga tentunya skrip yang mumpuni.

‘Misi’ Ethan Hunt (Tom Cruise) kali ini dimulai dengan kenyataan bahwa organisasinya, IMF (Impossible Mission Force), harus ditutup karena cara bekerjanya yang seringkali dianggap terlalu ekstrim dan merugikan banyak pihak, kendati mendapatkan hasil akhir yang diinginkan. IMF pun dilebur dengan CIA, tapi alih-alih menyerahkan diri, Hunt justru beroperasi sendiri mencari Syndicate, sebuah organisasi kriminal gelap yang benar-benar sulit untuk dibuktikan keberadaannya. Ethan pun kini malah menjadi incaran bos CIA, Hunley (Alec Baldwin), karena beroperasi di luar arahan pemerintah. Tanpa bantuan dari tim serta negaranya, membongkar Syndicate bisa jadi adalah sebuah misi yang benar-benar mustahil dilakukan.

Sama seperti judulnya, seri Mission: Impossible tentunya harus berhasil memberikan misi yang terlihat mustahil dan adegan-adegan aksi di luar nalar. Walau terkadang cerita terkesan dibuat hanya agar Tom Cruise bisa menantang maut berkali-kali dan adegan Burj Dubai di film sebelumnya sulit untuk ditandingi, Rogue Nation mampu melewati jauh ekspektasi. Ini adalah film terbaik dari seri Mission: Impossible.

Mari bicara adegan aksinya dahulu. Rogue Nation memiliki banyak sekali adrenalin untuk ditawarkan. Adegan Tom Cruise memanjat pesawat terbang yang menjadi materi utama promosinya bahkan ternyata hanya digunakan untuk bagian opening saja. A la James Bond, adegan ini memiliki sedikit hingga nyaris tidak ada hubungan dengan keseluruhan jalan cerita film. Tapi, set piece-nya besar. Dan itu sepertinya yang dilakukan oleh McQuarrie pada struktur aksinya. Rogue Nation dimulai oleh adegan aksi besar yang melibatkan pesawat, tapi kemudian skalanya kian menurun menjadi kejar-kejaran mobil, lalu motor, dan akhirnya hanya para agen berkejar-kejaran di malam hari saja.

Tapi, walau memiliki skala aksi dengan pola yang semakin ke akhir film semakin mengecil seperti World War Z, pertaruhan yang dilalui oleh para karakternya kian meningkat. Adegan pesawat di awal memang besar, tapi penonton tidak tahu apa-apa yang dipertaruhkan. Apalagi bagi para penonton baru yang belum terinvestasi emosinya terhadap karakter di layar. Di akhir film, situasi berbalik, aksinya menjadi semakin intim seiring dengan bertambah akrabnya penonton dengan para karakter di layar.

Dan, film action, sebaik dan seindah apapun adegan aksinya, tidak akan menjadi memorable bila penonton tidak peduli dengan karakternya. Rogue Nation, tidak hanya mampu memberikan visual yang cantik (adegan opera, wow!), mendebarkan (adegan menyelam dan kejar-kejaran mobil), tapi juga berhasil membuat saya terus berharap Ethan Hunt berhasil melalui ini semua, saya peduli betul dengan karakter di layar. Inilah yang membuat ending Rogue Nation benar-benar terasa memuaskan bagi saya. Saya benar-benar terjerumus dan merasakan betul jerih payah bertubi-tubi yang harus dilalui Ethan Hunt dan tim untuk menyelesaikan misi.

Pindah ke interaksi karakternya, Rogue Nation menambah beberapa karakter baru dengan kharisma tinggi. Ada Sean Harris sebagai Solomon Lane di sisi antagonis yang dingin dan benar-benar misterius sepanjang film. Solomon Lane, meski sebenarnya tidak diberi porsi banyak dalam film terasa benar-benar mengancam dan dengan mudah menjadi villain Mission: Impossible terbaik bagi saya. Alec Baldwin, yang di sejak awal film terus mengejar-ngejar Tom Cruise, mampu memberikan beberapa dialog terbaik film ini dengan sangat meyakinkan. Dan, tentunya ada Rebecca Ferguson sebagai Ilsa Faust yang menjadi scene-stealer dari Rogue Nation.

Ilsa Faust adalah sebuah karakter yang tidak langsung jelas ada di pihak mana berperan sekaligus sebagai hero, anti-hero, dan femme fatale di film. Statusnya yang abu-abu, ditambah paras cantik Rebecca Ferguson, dan stunt actionnya mampu menandingi Furiosa di Mad Max: Fury Road sebagai karakter wanita tersangar tahun ini. Seriously, girl, where have you been all this time?

Miss the old team? Masih ada Jeremy Renner sebagai William Brandt, Simon Pegg sebagai Benji, comedic-relief di film, dan juga Ving Rhames sebagai Luther. Hal-hal yang penonton sukai dari interaksi mereka sebagai satu tim kembali lagi di sini dengan porsi yang pas. Senang untuk mengetahui mereka semua terlihat nyaman dalam karakternya, dan tidak satu pun mendapat porsi berlebih untuk membuat film kehilangan keseimbangannya.

Naskahnya, meski tahu betul beberapa hal berada di luar nalar, mampu tampil cerdas. Hal ini dengan sangat mudah terlihat dari bagaimana ia bisa menemukan cara bagi karakter Ethan Hunt tampil satu langkah di depan para pesaingnya dengan rencana yang masuk akal. Dengan begitu, penonton benar-benar tahu bahwa Ethan Hunt sebagai ‘skilled agent’ tidak terbatas di ucapan verbal para karakternya, tapi juga dari bagaimana ia terus-terusan berhasil mengalahkan pesaingnya. Tambah itu semua dengan aksi Tom Cruise yang meski sudah tidak prima tapi masih memberikan semua yang ia miliki. You really can’t ask for more.

Berdurasi sedikit lebih dari 2 jam, Mission: Impossible - Rogue Nation memiliki pacing dan tempo yang sangat cepat dan jarang memberikan penontonnya ruang untuk bersantai. Bagi kalian yang menikmati film sebagi wujud eskapisme, atau benar-benar penggemar dari film mata-mata, saya pastikan Rogue Nation tidak akan mengecewakan.

Review overview
Story - 9.2
Direction - 9.3
Acting - 9.1
Blogging films since 2011. A romance and superhero genre aficionado.