Untuk beberapa orang yang merasakan masa kanak-kanak dan remaja di tahun 80an, pasti merasakan asyiknya bermain arcade games seperti Pac-Man, Centipede, Donkey Kong, Tetris, Galaga dan masih banyak lagi lainnya. Bagaimana bila arcade games tersebut dimainkan dalam cakupan yang lebih luas lagi, sebut saja, dimainkan dalam kehidupan nyata bukan sekedar di dalam sebuah mesin ataupun perangkat elektronik lainnya? Keseruan itulah yang coba disuguhkan oleh Pixels, film dari Adam Sandler yang berperan sebagai produser dan aktor, seorang komedian yang pernah lucu dan menghibur pada masanya yang masih ingin membuktikan keahliannya akan hal itu melalui film ini, yang sayangnya, dia terseok-seok dalam prosesnya.

Dengan Chris Columbus (Home Alone, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone, Harry Potter and the Chamber of Secrets) sebagai sang sutradara, Pixels mengisahkan tentang Sam Brenner (Adam Sandler), seseorang yang bekerja di perusahaan yang menyediakan jasa memasang perangkat elektronik dan software yang berteman sejak kecil dengan Will Cooper (Kevin James), presiden Amerika (Kevin James as a president? Okay…). Suatu hari, salah satu markas militer Amerika diserang oleh Alien. Ternyata, Alien tersebut menyerang bumi karena mereka menerima kapsul waktu yang dikirim oleh NASA pada tahun 1982 tentang kejuaraan dunia Arcade Game di mana pada waktu itu Sam Brenner kecil berpartisipasi dan kalah saat bermain Donkey Kong dengan Eddie Plant (Peter Dinklage) sebagai lawannya. Para alien berpikir bahwa kapsul waktu tersebut adalah sebuah ancaman dan ajakan untuk berperang.

Serangan yang dilakukan Alien ke bumi pun menggunakan tema arcade game yang melibatkan arcade game klasik dengan segala peraturannya. Dengan posisi Will Cooper sebagai presiden Amerika yang mempunyai otoritas penuh, dia menugaskan Sam Brenner, Eddie Plant dan Ludlow Lamonsoff (Josh Gad) yang merupakan teman lama yang mereka temui ketika kejuaraan dunia Arcade Game tahun 1982. Mereka ditugaskan untuk menyusun strategi dan berusaha untuk mengalahkan alien tersebut. Usaha mereka juga dibantu oleh seorang letnan kolonel cantik bernama Violet van Patten (Michelle Monaghan).

Pixels

Adam Sandler seperti tidak ada lelahnya untuk membuktikan bahwa dia masih bisa membawakan humor segar di setiap fillmnya. Pixels tampak seperti proyek ambisiusnya untuk mengambil hati penonton dengan segala daya tariknya dengan menghadirkan efek nostalgia akan arcade game, para bintangnya yang menjanjikan dan sederet efek CGI yang cemerlang. Tapi sayang, semua elemen-elemen yang dimaksudkan untuk menonjolkan keunggulan film ini dicederai oleh lemah dan menyedihkannya plot dan naskah yang disajikan.

Plot yang disuguhkan sangatlah berantakan dan terdapat banyak plot hole sana-sini yang memang seharusnya tidak usah terlalu pusing dipikirkan karena film ini memang mengusung jalan cerita yang super konyol dan tidak masuk di akal. Meskipun begitu, plot hole dan kejanggalan di film ini yang seharusnya memang bisa dimaklumi susah untuk dihiraukan begitu saja karena tingkat mengganggunya yang lumayan terasa. Ketika efek CGI sedang tidak muncul, jalan ceritanya yang monoton dan flat pun tak terhindarkan untuk disoroti.

Dengan melihat betapa kacau plot yang ada, jangan berharap terlalu banyak bahwa para pemainnya akan menunjukkan performa yang optimal. Hal tersebut dikarenakan mereka tidak punya ruang lingkup untuk menunjukkan akting terbaik yang mereka bisa, mereka terkungkung dalam lemahnya plot dan naskah yang harus mereka jalani. Meskipun begitu, masih terdapat beberapa humor yang paling tidak mengundang gelak tawa, walaupun selebihnya banyak humor yang dipaksakan untuk lucu.

Terlepas dari itu semua, tidak bisa dipungkiri film ini masih dengan sangat mudah dapat dinikmati. Ketika menonton adegan pertarungan yang terinspirasi dari arcade game dengan sederatan penampilan visual effect dan CGI yang mengagumkan, anda lantas akan hanyut di dalamnya dan merasakan keseruannya. Seperti layaknya kita sedang masuk ke theme park dan bersenang-bersenang, kurang lebih seperti itulah sensasinya. Jadi, jika kalian memang hanya ingin mencari hiburan semata dan sanggup untuk menghiraukan kekonyolan plot dan naskahnya, Pixels bukanlah pilihan yang terlalu buruk.