Berbicara mengenai kontroversi yang menyelubungi produksi reboot Fantastic Four mungkin akan lebih memakan waktu ketimbang menyaksikan dan membahas filmnya sendiri. Jangankan mendekati tanggal rilisnya, semenjak keputusan casting Miles Teller, Michael B. Jordan, dan Jamie Bell sebagai 3 dari 4 anggota tim dirilis saja sudah berhasil memprovokasi para fans. Iya, Kate Mara aman dari amukan, kok.

Saya lumayan giat mengikuti perkembangan film yang satu ini dari awal. Hal yang paling aneh saya amati ada beberapa. Pertama, hampir tidak ada set photo yang bocor. Hal ini rupanya dikarenakan kebanyakan bagian film disyut di dalam ruangan dan sound stage. Yang kedua, adalah promosinya yang benar-benar mepet. Dibanding film superhero lainnya yang bisa memulai masa promosi hingga satu tahun sebelum tanggal rilis, trailer pertama Fantastic Four baru dirilis akhir Januari tahun ini. Apakah ini pertanda bahwa mereka kurang percaya diri terhadap film yang satu ini?

Kecurigaan saya terhadap adanya kisruh di balik layar kian terbentuk saat gaya pemasaran film ini berubah dari sci-fi/adventure menjadi action/comedy layaknya film superhero pada umumnya. Tapi, tentunya, saya merasa tidak pantas berkomentar sampai benar-benar menyaksikan filmnya.

Film dirilis, hasil skor Rotten Tomatoes-nya hanya 9% dan itu pun ditambah oleh buruknya pendapatan Box Office yang berada jauh di bawah prediksi. Bukannya membuat saya tidak tertarik menonton, itu semua justru membuat saya semakin tertarik untuk membuktikan, “Seberapa buruk sih film ini?”

Fantastic Four versi Josh Trank ini jelas mengambil akar-akar penceritaan dari versi Ultimate-nya. Itu semua menjawab mengapa jajaran cast-nya begitu muda dan asal-muasal kekuatannya yang tidak didapat dari radiasi saat melakukan ekspedisi luar seperti pada film sebelumnya.

Sampai pada tahap ini, saya tidak punya masalah. Bahkan Josh Trank mengambil pendekatan berbeda dalam menggarap film superhero yang satu ini. Hampir separuh waktu pertama ceritanya, nyaris tidak ada action, cerita dibawa total oleh karakter-karakter dan drama di antaranya dengan build-up mengarah ke film epik sci-fi.

Di awal film, kita berkenalan dengan Reed Richards (Miles Teller), yang sedari kecil sudah terlihat jenius. Ia bersama teman dekatnya, Ben Grimm (Jamie Bell), berhasil menciptakan alat teleportasi yang bisa melintasi antar dimensi. Meski ciptaannya tidak diapresiasi oleh sekolahnya, karya Reed dan Ben rupanya berhasil dilirik oleh Dr. Storm (Reg E. Cathey) yang bersama anaknya, Susan Storm (Kate Mara), tengah mengembangkan riset yang sama. Reed pun akhirnya bergabung ke dalam tim yang berisi oleh dirinya, Susan, dan juga Victor von Doom (Toby Kebbell). Oh, ya, dan juga Johnny (Michael B. Jordan) yang tiba-tiba bergabung ke dalam tim karena ingin mendapatkan kembali mobilnya.

Memang ada celah penceritaan yang bolong, tapi itu semua masih pada taraf yang bisa dimaafkan. Saya bahkan menyukai dinamika interaksi Victor di tengah tim bersama Reed, Sue, dan Johnny. Set-up di 40 menit pertamanya menurut saya sangat berpotensi, sayangnya, itu semua tidak pernah terbayar lunas di menit-menit selanjutnya.

Setelah adegan-mereka-mendapatkan-kekuatannya yang brilian, film lompat ke 1 tahun kemudian. Semua bagian yang kita suka tentang bagaimana sang superhero beradaptasi dengan kekuatan barunya dilewati. Tiba-tiba mereka semua sudah terbiasa dengan kekuatannya dan tengah dimanfaatkan oleh pemerintah.

Semua build up dan 40 menit pertamanya yang menjanjikan hangus begitu saja. Penonton tidak pernah mendapatkan kelanjutan dari benih-benih cerita yang ditanam. Ide bahwa Sue diadopsi sebenarnya menarik, tapi itu semua tidak pernah menjadi bagian cerita yang vital. Hal ini kemudian yang membuat saya bertanya, mengapa dari awal mereka repot-repot mengubah asal muasalnya?

Karakternya juga tidak pernah berkembang. Ben Grimm benar-benar mendompleng Reed dari awal hingga akhir. Padahal sebagai teman dekat dari kecil, dan harus menerima berubah menjadi ‘batu’ akibat ulah sahabatnya, bisa diolah menjadi sesuatu yang menarik.

Oh, apalagi ketika akhirnya Victor kembali muncul di layar full sebagai Dr. Doom. Itu semua terasa terlalu terburu-buru. Penonton tidak merasakan motif dan perubahan karakternya yang seharusnya bertahap. Ia muncul di awal film sebagai karakter yang memiliki sisi gelap, tapi di akhir film ia tiba-tiba membabi buta membunuh semua orang di depannya. Kecuali, para anggota Fantastic Four tentunya. Dan, ini juga yang membuat saya bingung, bila ia bisa meledakkan kepala setiap orang secara tiba-tiba, kenapa ia tidak langsung bunuh saja itu Reed dan kawan-kawan. Ia justru melawan mereka dengan cara yang bertele-tele dan akhirnya kalah.

Tidak membantu juga final fight antara Fantastic Four dan Dr. Doom sangat membosankan dan dibalut oleh efek yang buruk. Belum lagi karakter Miles Teller yang terus-terusan menjejali penonton dengan eksposisi informasi tentang apa ini dan apa itu sepanjang pertarungan.

Saya merasa film ini seperti dua film terpisah yang digabungkan. Film pertama adalah origin story yang kental dengan drama dan sci-fi, sebuah approach yang patut diapresiasi. Sementara, film kedua adalah rentetan cuplikan yang tidak koheren, terburu-buru, dan datar.

Jelas ada konflik di balik layar yang menyebabkan ini semua. Editingnya kacau, kalian bisa lihat rambut Kate Mara berubah-ubah sepanjang film dan banyak adegan terasa seperti disisipkan secara paksa. Hasil akhirnya malah seperti sinopsis yang difilmkan. Serius, baca sinopsisnya, dan kalian sebenarnya sudah mengetahui keseluruhan isi film. Karakternya tidak ada yang berkembang, tidak ada subplot yang berjalan, dan menyebut film ini memiliki konflik serta klimaks saja sudah terlalu berbaik hati.

Saya mencoba mencari analogi yang pas untuk Fantastic Four semenjak keluar dari studio. Mungkin yang paling tepat untuk menggambarkannya adalah sebagai berikut.

Reboot Fantastic Four ini seperti membuat kue. Sang sutradara awalnya memiliki bahan-bahan unik yang bisa membuatnya berbeda dengan film superhero yang lainnya. Tapi di tengah pembuatan, ada intervensi dari pihak ketiga. Adonan dicampur dengan bahan baru, sementara beberapa bahan awal justru berakhir tidak dipakai. Kue akhirnya dipanggang, dan hasilnya buruk. Anggaplah sebagai kue nastar yang pahit di dalam toples. Tidak ada yang bisa kita lakukan sebagai konsumen. Pilihannya hanya buat lagi yang baru atau buang saja ke tong sampah.

Review overview
Story - 5
Acting - 5
Directing - 5
Blogging films since 2011. A romance and superhero genre aficionado.