“She loved mysteries so much that she became one.”
Setidaknya mungkin setengah dari populasi dunia sudah pernah mengalami yang namanya jatuh cinta, baik dengan teman sekolah, tetangga, sampai orang yang tidak dikenal dan hanya bisa dipandang dari kejauhan. Namun, tidak kalah banyak juga populasi dunia ini yang tidak pernah berani menyatakan perasaan mereka atau bahkan mencari tahu mengenai orang ini lebih dalam, sampai-sampai mereka cenderung melihat orang yang mereka cintai ini sangatlah sempurna tanpa kekurangan. Padahal tanpa disadari, selama ini mereka hanya mencintai image seseorang ini, bukan mencintai jati dirinya.
Setelah sukses membuat jutaan hati perempuan luluh, dari The Fault in Our Stars, kali ini John Green kembali mengantar novelnya yang ketiga ke layar lebar, Paper Towns, untuk meleburkan hati jutaan pria.
Quentin Jacobsen (Nat Wolff), seorang pelajar SMA yang pemalu dan selalu mencari aman dalam setiap kesempatan, memiliki sebuah prinsip di mana setiap orang dalam hidupnya akan mengalami suatu keajaiban. Quentin menanggap Margo Roth Spiegelman (Cara Delevingne) merupakan keajaibannya ketika perempuan cantik tersebut menjadi tetangganya saat mereka masih anak-anak. Sebagai sahabat kecil, mereka sering bersepeda keliling perumahan. Namun suatu insiden mengubah Margo ketika mereka menemukan seorang pria tewas dibalik sebuah pohon dekat rumahnya. Sejak saat itu, Margo selalu tertarik dengan misteri dan saat itu pula hubungan Quentin dan Margo mulai renggang. Hubungan mereka mulai terjalin kembali ketika Margo hadir di kamar Quentin pada suatu malam melalui jendela dan mengajaknya untuk membantu Margo balas dendam kepada teman-temannya yang telah berkhianat padanya. Quentin kira, setelah apa yang terjadi di malam itu, hubungannya dengan Margo dapat kembali seperti dahulu. Nyatanya, keesokan harinya, Margo menghilang dan tidak pernah kembali lagi ke sekolah. Hal tersebut sempat membuat Quentin nyaris gila, sampai suatu hari ia menemukan beberapa klu dan dengan bantuan kedua sahabatnya, Radar dan Ben, serta Angela dan Lacey, mereka bermisi untuk mencari Margo dan membawanya pulang.

Paper Towns merupakan film perdana Cara Delevingne, seorang supermodel asal Inggris. Dari segi akting, Cara Delevingne mampu menunjukkan sisi ekstrovert dan fun dari Margo dengan sangat baik. Ia juga mampu memainkan berbagai mimik yang dapat membuat saya sebagai seorang penonton berpikir, “Apa maksud dari mimik bingungnya itu? Is there something wrong?” Akting Nat Wolff sebagai Quentin juga tidak kalah baik. Ia mampu berperan sebagai seorang pria muda yang malu, awkward, dan mudah takut berkecimpung dalam masalah. Padahal ketika ia berperan sebagai Isaac di The Fault in Our Stars, ia mampu berperan sebagai seorang penderita kanker yang berani dan kasar; kontradiktif dengan karakter Quentin. Ada chemistry di antara kedua pemeran utama tersebut, hanya saja tidak sebaik yang saya harapkan.
Sebagai seseorang yang membaca bukunya, bagi saya, plotnya tidak semenarik dan tidak se-greget itu. Saya kurang merasakan adrenaline rush yang seharusnya dirasakan semua penonton ketika mereka sedang mencari Margo. Walaupun ending yang ada di buku dan film pada intinya sama, jalan cerita menuju ke penhujungnya itu berbeda dan bagi saya esensinya berkurang dan inilah yang membuat greget-nya menjadi berkurang.




































