Review: Kampung Zombie (2015)

by -
1

Kampung Zombie

Membuat film yang tidak biasa dengan tema yang jarang diangkat di Indonesia adalah suatu hal yang terang saja dapat menarik perhatian penonton. Seperti yang kita tahu, pasar film horor di Indonesia tidak jauh dari hantu-hantu legenda rakyat yang kental dengan kehidupan sehari-sehari kita, seperti pocong, kuntilanak, genderuwo, tuyul dan teman-temannya yang lain. Maka begitu ada sebuah film horor berjudul Kampung Zombie yang mengusung zombie sebagai fokus utama sumber kengerian yang masih jarang dieksploitasi oleh industri film Indonesia, tidak mengherankan jika film ini mengundang penasaran orang untuk menontonnya. Well, mungkin selain karena faktor itu, fakta bahwa anak kedua Ahmad Dhani yaitu El Jalaludin Remi atau yang akrab disapa El membintangi film ini adalah faktor lain yang sangat mempengaruhi orang-orang terutama para remaja-remaja labil untuk berbondong-bondong menonton film ini.

Kampung Zombie berkisah tentang suatu kampung di daerah Jawa yang terletak di sebuah kaki gunung dan terkena semburan awan panas atau wedus gembel pada saat gunung tersebut meletus sehingga mengakibatkan banyak korban berjatuhan. Kemudian kita dibawa ke 6 bulan setelahnya dimana terdapat 5 anak muda yang berkemah di hutan dalam rangka menjalankan riset penelitian dan mendapati bahwa terdapat sesuatu yang tidak beres di tempat tersebut. Mereka dihadapkan oleh banyak zombie yang siap menerkam dan menyerang mereka sampai akhirnya mereka menemukan kampung yang ternyata didiami oleh warga yang sudah berubah menjadi zombie.

Film Kampung Zombie ini mengandung banyak kejanggalan. Sebagai pembuka pengamatan saya, saya menyadari bahwa sinopsis film ini yang banyak dipasang di situs bioskop atau situs yang membahas tentang film Indonesia benar-benar tidak sama dengan jalan cerita asli yang dihadirkan di film ini. Kira-kira begini isi sinopsis yang beredar luas:

Lima sekawan baru saja melakukan perjalanan mendaki gunung. Di tengah perjalanan pulang, mobil yang mereka kendarai mengalami kecelakaan. Mereka pun bermaksud mencari bantuan di sebuah kampung.Ternyata yang mereka temui adalah sekawanan zombie. Bagaimana kisahnya sehingga seluruh penduduk kampung ini berubah menjadi zombie? Dan, bagaimana pula mereka dapat keluar dari kampung zombie ini? Film zombie pertama di Indonesia ini bisa anda saksikan di bioskop mulai 19 Maret 2015.

Sinopsis tersebut nyatanya sangat jauh berbeda dengan isi film yang sebenarnya. Hal itu sebenarnya tidak akan terlalu saya permasalahkan jikalau isi film yang menyimpang dari sinopsis yang ada menghadirkan keseruan dan ketegangan yang berarti. Tapi nyatanya, yang saya dapat adalah sebaliknya.

Kampung Zombie

Jujur saja, baru memasuki awal film saja saya rasanya sudah tidak betah untuk terus bertahan duduk manis di kursi bioskop dan menikmati tiap-tiap menit dari film. Karena dari awal film pun sudah terlihat karakterisasi yang minim dan dangkal dari karakter utama di sini yang pada akhirnya tidak dapat dinikmati sama sekali dan malah cenderung menjengkelkan. Dialog-dialog yang terlontar juga terasa sangat mentah dan tidak memilki daya tarik sama sekali. Malah terkadang ada dialog yang benar-benar tidak relevan dan terasa dipaksakan.

Fondasi eksposisi untuk menceritakan latar belakang tentang penyebab warga kampung berubah menjadi zombie pun disampaikan alakadarnya. Padahal, menempatkan bencana alam sebagai alasan mengubah manusia menjadi sesosok mayat hidup terasa segar dan original, tetapi sayangnya, lagi-lagi hal tersebut tidak terlalu dikembangkan dengan optimal. Dan jadilah, Kampung Zombie yang sekilas garis besar plotnya mengingatkan saya akan Doghouse (2009) dan Dead Snow (2009) hampir menggunakan seluruh 85 menit dari total durasinya dengan adegan kejar-kejaran tanpa henti, tanpa arti dan tanpa intensitas ketegangan.

Kenapa saya bilang tanpa arti dan tanpa intensitas ketegangan? Ya karena nyatanya memang seperti itu. Saya melihat maksud dari sutradara yang mungkin memang ingin menghadirkan horor mencekam dengan menunjukkan bagaimana para anak muda itu melarikan dari zombie-zombie yang bukan main banyaknya. Tapi apa daya, alih-alih mencekam, justru malah jatuhnya menjadi aneh dan sekali lagi, dipaksakan. Bahkan sound effect yang kadang-kadang tidak santai menggelegar suaranya padahal adegannya tidak tegang-tegang amat juga tidak membantu untuk mengangkat film ini untuk paling tidak terasa mengerikan. Saya pun merasa lelah melihat para pemeran utamanya lari kesana kemari tidak jelas juntrungannya, dan dalam hati berharap supaya mereka cepat mati saja.

Sejatinya, dalam sebuah film zombie diperlukan dua hal penting yang harus ditunjukkan, yaitu survival skill dari mereka yang masih hidup dan adegan ‘sakral’ pencabikkan, usus terburai dan tumpahan darah dimana-mana. Dan sayangnya di Kampung Zombie hal-hal itu minim ditampilkan. Malah kebanyakan para karakter utamanya bertindak konyol dalam menghadapi situasi dimana mereka dikepung oleh segerombolan zombie yang membuat saya mempertanyakan sekali lagi tentang jati diri film ini, sebenarnya ini merupakan film horor atau film komedi? Karena kalau dibilang film horor pun tidak ada hal yang menakutkan sama sekali. Dibilang film komedi pun juga komedinya terasa garing.

Berbicara tentang zombienya, saya cukup terkesan dengan kostum dan make up yang ditampilkan. Meskipun tampilan terlihat meyakinkan, tapi nyatanya tingkah laku dan gerak-gerik para zombie di sini terlihat tidak mempunyai motivasi yang jelas dan kompak. Di beberapa adegan, zombienya dapat lari kencang, tapi nantinya ada yang berjalan lunglai. Ada yang diserang di kepala mati, ada yang ditembak anak panah di dada langsung tumbang. Ada yang bisa bela diri, ada yang ahli menahan napas dalam air dan ada yang bisa menarik gerobak. Kadang zombienya bisa melihat manusia, kadang tidak. Kadang mereka mengandalkan penciuman mereka, nantinya mereka tidak. Ada yang sudah dihadapkan dengan manusia bukannya langsung digigit dan dimakan dagingnya, tapi malah diseret dan diikat di tempat tidur. Jadi sebenarnya para zombie di sini ini motivasinya apa? Bukankah pada dasarnya zombie kalau melihat manusia langsung mereka gigit dan santap karena mereka sudah tidak bisa berpikir, tidak memiliki emosi dan hanya mempunyai insting untuk memakan daging manusia?

Terlepas dari banyaknya kelemahan dan inkonsistensi yang Kampung Zombie tampilkan, paling tidak kita harus mengapresiasi film ini karena sudah mengangkat film bertemakan zombie yang belum terlalu umum di perfilman Indonesia. Semoga dengan kehadiran Kampung Zombie ini dapat memacu para sineas film lainnya untuk juga tertarik membuat film bertemakan zombie di masa yang akan datang dan dapat menambah keragaman film Indonesia.

Review overview
Story - 5
Acting - 3,9
Direction - 4
A young adult who found an excessive bliss in watching movies.
  • Matheus Arief Yudanto

    dari trailernya pun sudah bisa ditebak bagaimana ini akan terlihat. Zombie pegang belati ? no thanks