Berbicara mengenai franchise Fast & Furious tentunya tidak akan terlepas dari drastisnya perubahan seri ini sejak awal hingga menuju edisi ketujuhnya. Bermulai sebagai film balapan liar yang tidak jauh dari aksi kebut-kebutan (dan juga drift), Fast & Furious beralih genre menjadi action-heist di Fast Five, seri pertama mereka yang mendapat mayoritas respon positif. Hal tersebut berlanjut ke seri selanjutnya dengan kian menjejalkan penonton lewat aksi stunt gila di luar nalar yang memaksa otak penontonnya harus ditinggalkan di luar studio.
Dengan formula ‘sekuel harus segala lebih dari sebelumnya’, kalian bisa mengharapkan Fast & Furious 7 jauh lebih besar cakupannya dibanding film-film sebelumnya. Aksinya semakin gila bersamaan dengan ceritanya yang semakin tidak penting.
Masih ingat dengan Owen Shaw, sang antagonis di Fast Six? Kali ini kakaknya yang bernama Deckard Shaw (Jason Statham) siap memberi masalah bagi Dom (Vin Diesel) dan kawan-kawan. Dengan alasan termudah untuk dibuat, balas dendam, Shaw siap lintas dunia untuk menghabisi mereka. Sementara, Dom dan krunya sendiri sibuk untuk mendapatkan teknologi God’s Eye permintaan Mr. Nobody (Kurt Russell) yang dapat melacak seseorang di mana pun dengan cepat.
Di atas itu semua, masih ada beberapa subplot seperti hubungan Dom dan Letty (Michelle Rodriguez) dan juga bagaimana berubahnya kehidupan Brian (Paul Walker) setelah memiliki anak yang berfungsi untuk menonjolkan elemen keluarga yang selalu dianut oleh franchise.

Namun, ringkasnya, cerita hanyalah sebuah alat agar para aktor bergabung dan melakukan stunt gila-gilaan yang menjadi tujuan utama penonton datang berbondong-bondong ke bioskop. Benar, bukan?
Dan, bila itu yang kalian cari, maka Fast & Furious 7 tidak pernah kekurangan stok adegan-adegan mencengangkan untuk ditawarkan. Hand-to-hand combat? Check. Drag race? Check. Explosion? Check. Sky driving? Check.
Sayangnya, bila di dua seri sebelumnya, skala dari aksi terus meningkat hingga adegan aksi finale yang fantastis, di sini justru bisa dibilang dibalik sebelumnya. Adegan aksi terbaik muncul justru cukup awal. Bisa ditebak, ya, adegan mobil terjun bebas menggunakan parasut yang sudah lama menjadi ujung tombak promosi film ini.
Adegan tersebut berlanjut hingga kira-kira 30 menit dan melibatkan kejar-kejaran dan tembak-tembakan antar mobil yang ditutup dengan sebuah aksi mendebarkan dari Paul Walker. Namun, entah apakah kematian sang aktor berpengaruh atau tidak, dari sana intensitas film menurun. Aksi di Abu Dhabi tetaplah menarik untuk diperhatikan, namun aksi penutup yang belum pernah mereka rilis di trailer malah cenderung biasa bila dibandingkan dengan adegan brankas di Fast Five dan kejar-kejaran di dalam pesawat di Fast Six.
Bukan berarti jelek, bila harus membandingkannya dengan film-film lain yang tayang akhir-akhir ini, yang satu ini masih jauh berada di atas standar mereka, kok.

James Wan (Insidious) yang mengambil alih dari Justin Lin di bangku penyutradaraan juga terlihat lebih suka mengembalikan porsi aksi berfokus kepada kejar-kejaran mobil ketimbang pertarungan antar karakternya. Camera-work-nya tampil brilian hampir sepanjang film. Namun, dalam hal eksekusi adegan finalenya, malah berakhir kurang inovatif.
Tapi, tetap saja, Fast & Furious 7 adalah sebuah hiburan murni penuh ledakan yang mampu membuat penonton peduli dengan jajaran karakternya. Bagaimana tidak, kalian telah melewati perjuangan mereka selama 6 film sebelumnya. Jadi, tidak perlu khawatir akan mual menikmati sajian eksplosifnya seperti menyaksikan seri Transformers.
Paul Walker tentunya tidak boleh terlewat untuk dibacarakan. Dengan tragedi mengenaskan dan segalanya, tim di balik layar telah melakukan sesuatu yang layak untuk diapresiasi. Ya, beberapa penggunaan CGI untuk karakternya terlihat cukup mencolok di beberapa bagian. Namun, secara garis besar, tidak mengganggu. Dan, bagaimana cara mereka meng-handle perpisahannya pun menunjukkan respek dan penghormatan terbaik untuk aktor yang telah berjasa banyak sejak film pertama.











































