Review: Whiplash (2014)
*mengandung spoiler*
Saya tidak ingat kapan terakhir kalinya saya merasa begitu tegang setelah digampar oleh film berintensitas tinggi yang tidak bergenre action atau horor. Merasa penasaran, saya mencoba menontonnya lagi, lagi, dan lagi. Dan, lagi. Hebatnya, saya masih terhanyut dan merasakan adrenalin berpacu sama cepatnya dengan pukulan double-swing Andrew Niemann. Bahkan, kebanyakan film horor pun akan terasa membosankan setelah kita mengetahui di mana adegan-adegan seram dan mengagetkannya akan terjadi. Namun, film horor yang menjual kengeriannya lewat pembangunan atmosir akan jauh lebih awet umurnya ketimbang film sejenis yang mengandalkan cheap jump scares. Mengapa? Karena mereka menawarkan sebuah pengalaman, bukan sebuah gimmick murahan yang mudah usang dalam tontonan kedua. Begitu juga Whiplash. Ia menawarkan ketegangannya dengan cara mendapatkan simpati penonton pada karakternya, dan kemudian mengombang-ambingkan perjuangannya lewat karakter lainnya.
Sialnya, Andrew Niemann (Miles Teller) selalu mendapatkan simpati saya. Sebagai seorang dummer muda yang baru saja masuk ke sekolah musik bergengsi, ia memiliki semangat yang besar dan simpel; menjadi yang terbaik, sebuah motif yang mudah bagi penonton merasa terhubung. Hadapkan ambisi tersebut dengan sebuah batu besar berwujudkan salah seorang guru bernama Fletcher (J.K. Simmons). Batu ini terus ditimpuk ke wajah Andrew sepanjang film, sekilas terlihat menghambat Andrew mencapai impiannya.
Saya tahu, film tentang seseorang berusaha mewujudkan mimpinya adalah sebuah plot yang sudah sering dipakai. Balutan jazz-nya adalah sebuah nilai plus, tapi masih bisa diganti dengan unsur lain. Sinematografi dan editingnya cantik. Dalam tontonan pertama dan kedua kalinya, saya pun menganggap Whiplash sebagai itu semua. Tapi, Whiplash sebenarnya menawarkan sebuah studi karakter yang unik dalam tokoh Andrew dan Fletcher. Mereka berdua adalah kekuatan utama Whiplash. Dan, di sinilah saya lebih tertarik untuk membahasnya.

Fletcher, yang diperankan dengan luar biasa oleh J.K. Simmons, tentunya akan lebih mudah mencuri perhatian kalian. Perubahan wataknya yang secara spontan bisa berganti dari suportif menjadi sadis adalah syarat utama untuk menjadi bajingan yang mudah untuk dicintai. Oscar yang sudah hampir pasti untuk J.K. Simmons pun terasa sebagai sebuah ganjaran yang pas. Tapi, perjalanan Fletcher sepanjang film sebenarnya tidak sulit untuk diterka. Ia akan selalu menjadi karakter yang tidak bisa dipercaya. Tiap keputusannya, sebenarnya, bisa diprediksi. Berbeda dengan Andrew.
Kenapa Andrew memutuskan bertahan setelah dihajar habis-habisan oleh Fletcher? Di sinilah saya kemudian berusaha menyelami sang karakter dan motivasinya. Pasti, ‘Sang jagoan tidak akan pernah menyerah’ adalah jawaban termudah. Tapi apakah Andrew seorang jagoan? Kurang tepat rasanya.
Andrew adalah remaja introvert tanpa teman yang terlewat fokus dengan ambisinya. Tapi pada inti terdalamnya, ia adalah karakter yang tidak punya hati dan mengambil tiap langkah hidupnya berdasarkan logika. Ia memutuskan hubungannya dengan Nicole (Melissa Benoist) karena ia tahu ke mana waktunya harus diprioritaskan. Ia rela jarinya berdarah-darah hanya untuk mendapatkan tempo yang pas. Namun, yang terutama, ia rela bertahan di bawah cacian Fletcher karena ia tahu inilah jalan yang harus diambil bila ia ingin sukses.
Bayangkan diri kalian dalam posisi Andrew. Saya yakin kebanyakan dari kalian akan langsung keluar setelah menghadiri kelas pertama. Apakah itu berarti kalian bukan jagoan dan mudah menyerah? Atau kalian memiliki perasaan yang mudah terluka? Apapun jawabannya, saya yakin Andrew tidak memiliki faktor yang kedua.
Ada pula sebuah kontras dalam Fletcher dan Andrew dalam mengungkapkan motifnya. Sang guru sangat eksplisit, sementara sang murid lebih implisit. Ini yang membuat tiap adegan cek-cok mereka begitu terasa menegangkan. Seperti melihat sebuah gaya perpetual bertemu dengan objek yang tidak bisa digerakkan. Apa yang membuat klimaksnya begitu hebat adalah ketika sang objek akhirnya berani untuk bergerak melawan, dan sang gaya memutuskan untuk mengendorkan kekuatannya.






































Pingback: Lihat Deleted Scene Whiplash di Sini | anakfilm()