Review : Cloud Atlas (2012)

Bagaimana jika apa yang kita lakukan sekarang berpengaruh besar terhadap apa yang akan terjadi pada the near future, dan distant future ? Pikiran-pikiran seperti itu lah yang lompat-lompat di kepala saya ketika saya menonton film ini. Cloud Atlas adalah adaptasi dari novel karya penulis David Mitchell, yang disutradarai oleh Tom Twyker dan The Wachowski yang sudah terkenal akan Sci-finya yang fantastis seperti The Matrix Trilogy dan Speed Racer. Film ini awalnya mungkin agak membingungkan karena alurnya yang lompat - lompat dari masa lalu, ke masa depannya, lalu masa depannya lagi, dan kembali ke masa lalu. Tetapi ketika anda mulai melihat gambaran besar dari sebuah enigma yang terdiri dari cerita - cerita kecil lintas waktu that’s when the movie start to blow your mind.
Cloud atlas bercerita tentang seorang kakek yang menceritakan cerita petualangannya bersama istrinya, yang dipengaruhi oleh berbagai cerita yang saling mempengaruhi dari masa lalu ke masa depan. Mulai dari seorang pengacara bernama Adam Ewing (Jim Sturgess) yang dalam perjalanan pulang menaiki kapal di tahun 1849, lalu seorang Amanuensis (semacam penggubah lagu gitu kayanya) gay bernama Robert Frobisher(Ben Whishaw) pada tahun 1936, lalu Luisa Rey (Halle Berry) seorang reporter majalah yang mencoba membongkar suatu konspirasi perusahaan pada tahun 1973. Berlanjut pada cerita Timothy Cavendish(Jim Broadbent) seorang tua renta publisher buku yang terlibat banyak utang di tahun 2012, lalu cerita tentang Sonmi -451 (Doona Bae) seorang fabricant (klon pekerja) yang kabur dari tempat dia bekerja dan berjuang bersama pejuang pemberontak pada tahun 2144, dan yang terakhir dongeng dari kakek Zachary(Tom Hanks) sendiri tentang masa mudanya dimana dia melawan bangsa kanibal dan membantu seorang prescient(kaya manusia modern gitu) untuk memanjat puncuk gunung yang kata suku-nya terkutuk.
Karakter-karakter yang muncul di 6 masa yang berbeda, ribet ya…
Selain ceritanya, hal yang patut diacungi jempol adalah direksi yang hebat, cast yang hebat, dan efek visual kelas atas yang menghasilkan visualisasi khas holywood yang sangat indah untuk dinikmati. Visualisasi dari novel tersebut sangat mencengangkan dan berhasil menggambarkan situasi-situasi yang terjadi pada setiap cerita. Detail - detail yang ditampilkan pada latar setiap cerita benar-benar menakjubkan, seolah setiap bagian cerita adalah sebuah full-set sebuah film lain yang dibuat dengan sangat matang. Cast pada film ini juga memerankan multiple role dengan sangat baik, didukung oleh team make-up yang jago yang bahkan membuat saya kadang tidak sadar kalau yang meranin dia lagi dia lagi.
Itu tiga-tiganya Tom Hanks, serius, suer samber geledek !
Pendapat para kritik film terbelah dua pada film ini, sebagian memuji ceritanya , tetapi sebagian lagi mengkritik bahwa menonton film ini membingungkan, saya sependapat dengan kritik film yang memuji ceritanya. Penyajian cerita Cloud Atlas unik, dengan menceritakan sebuah cerita tersambung pada dimensi yang sama namun waktu yang berbeda. Menonton film ini membuat banyak pertanyaan muncul di kepala kita, mencoba menebak-nebak maksud dari setiap hal yang terjadi pada masing-masing waktu cerita. Memang mungkin tidak semua orang bisa mencerna dengan mudah cerita secara garis besar yang disuguhkan oleh Cloud Atlas, sehingga sebagian orang akan melihat film ini sebagai suatu film aneh yang membuang waktu mereka. Tetapi buat saya cerita dari novel tersebut sangat mencengangkan, cerita yang dipenuhi dengan perjuangan kebebasan, cinta, disuguhkan dengan sebuah bentuk teka-teki besar yang terdiri dari cerita-cerita kecil enigmatik yang memacu rasa penasaran penontonnya untuk terus memperhatikan setiap detail-detail pada setiap filmnya.
A very fascinating visualization of an enormous story with great details, that force the audiences to watch it very thoroughly, one of the best science fiction of 2012.

