Review: In Fear (2014)

Menyaksikan In Fear mengingatkan saya pada dua film horor yang rilis beberapa tahun silam, yakni Windchill (2007) dan Hush (2008). Ketiga film tersebut memiliki dua kesamaan, yaitu berlokasi di daerah terpencil dengan segala keterbatasannya dan hanya melibatkan dua anak manusia kala teror melanda. Dan saya kira horor yang mengambil setting di daerah tersebut sebagian besar mampu memberi teror signifikan bagi penonton, tidak terkecuali horor yang digawangi oleh Jeremy Lovering ini.
In Fear dibuka dengan adegan di mana dua sejoli, Tom (Iain De Caestecker) dan Lucy (Alice Englert), sedang akan berlibur ke sebuah hotel. Namun, keadaan semakin mencekam ketika mobil mereka rupanya hanya berputar-putar di tempat yang sama berkali-kali — tanpa pernah mencapai tempat tujuan. Panik, mereka pun terlunta-lunta. Semua tampak samar, bahkan cahaya lampu hanya terlihat remang-remang. Keadaan semakin diperparah karena simbol sinyal ponsel tak terpatri di layar. Apa daya, mereka harus berjuang sendiri menerabas kengerian demi kengerian yang menghadang.
Hal yang bekerja ekstra baik dalam In Fear adalah bagaimana Lovering memanfaatkan tiap momen dengan menabur teror secara perlahan sambil diiringi scoring yang sudah pasti membikin kamu bergidik. Tidak hanya itu, close-up demi close-up juga dimainkan untuk membuat tiap-tiap karakternya semakin dekat dengan penonton. Bahkan, ‘kelokan’ demi ‘kelokan’ yang didesain dengan pas juga turut mengimbuh ketegangan selama 85 menit nonstop.
Meskipun apa yang dikreasikan oleh Lovering sudah terlihat baik, ternyata itu belum bisa dikatakan baik ketika konklusi yang diberikan In Fear terkesan “seenaknya.” Pondasi teror yang dikonstruksikan sejak menit pertama justru diruntuhkan oleh konklusi tersebut. Toh, pada akhirnya, In Fear (masih) boleh disebut sebagai sebuah horor minimalis dengan hasil maksimal — sampai pada titik sebelum kamu benar-benar menginjakkan kaki di ending.

