Review: SuckSeed (2011)
Film yang ‘memaksa’ saya untuk mengenal dunia perfilman Thailand
Sebelumnya, saya tidak pernah sama sekali menonton film Thailand. Baik yang horror (emang gak suka horror sih) atau pun yang romantic comedy. Lalu sampai ada kejadian di mana akhirnya saya memutuskan untuk mendownload SuckSeed lalu menontonnya. Kesan pertama kali tentunya adalah “Wow ceweknya cantik ya” :P. Tapi setelah itu, saya malah ketagihan nonton film Thailand, ternyata bagus-bagus ya, saya kira masih sama jebloknya dengan Indonesia. #eh
Anyway, SuckSeed bercerita tentang Ped kecil yang sebelumnya tidak pernah mengenal musik hingga akhirnya Ern meminjamkannya kaset berisi lagu pop rock Thailand. Sebelllum Ped berhasil untuk mengembalikan kasetnya, Ern sudah pindah ke sekolah barunya di Bangkok. Lalu cerita dipercepat ke masa SMA. Ped dan teman dekatnya, Koong, memutuskan untuk membentuk sebuah band. Karena menurut mereka itu keren. Apalagi ini diperkuat dengan keirian Koong terhadap saudara kembarnya, Kay, yang sukses jadi pujaan wanita karena menjadi anggota band. Sayangnya, dengan skill yang pas-pasan, mereka bukannya jadi keren malah menjadi bahan hinaan. Di saat yang bersamaan, Ern kembali lagi dan satu sekolah dengan Ped. Kenangan masa lalu dengan Ern pun tidak akan dibiarkan menjadi kenangan semata, namun kali ini, Ped harus bersaing dengan Koong. Hal ini kemudian diperumit dengan fakta bahwa Ern bergabung dengan band Ped dan Koong.
SuckSeed adalah cerita klise SMA yang kita semua sudah sangat familiar. Dibalut dengan komedi dan beberapa momen romantis, film ini mampu membawa kita sesekali mengingat masa-masa indah SMA. Masa-masa di mana semua murid ingin populer, dikenal, dan punya gengsi. Namun harus saya akui, durasi SuckSeed yang melebihi 2 jam membuat beberapa part terasa membosankan dan ingin cepat-cepat di-skip. Misalnya, part di mana Ped, Koong dan Ex pergi ke Bangkok. Menurut saya, tanpa bagian itu pun film ini akan baik-baik saja. Beberapa kali juga, perasaan para karakter diwakili dengan band-band Thailand yang ikutan nongol dan bernyanyi di tengah adegan.

Nattasha Auljam sebagai Ern mampu mencuri perhatian saya sejak awal, dengan paras mirip-mirip Cathy Sharon (menurut saya ya..) Nat sukses memerankan karakternya sebagai perempuan idaman lelaki. Walau begitu, percintaan Ern dengan Koong dan Ped diperlihatkan di sini, tapi bukan itulah bintang utamanya. Melainkan adalah bagaimana persahabatan Koong dan Ped yang dari dulu sudah terjalin dan pasang surut mereka dalam mempertahankannya hingga akhir.
Pada akhirnya, SuckSeed ditutup dengan sebuah konklusi yang baik dan menyenangkan semua pihak, termasuk penonton. Selebihnya, SuckSeed menjadi jalan pembuka saya terhadap film-film Thailand hingga kini.


