Review: The Cabin in the Woods (2012)
*SPOILER ALERT*
Stop di sini bila Anda belum menontonnya sama sekali! Setelah membaca mayoritas movie blogger Indonesia yang tidak mengumbar spoiler di reviewnya, maka saya memutuskan untuk melakukan hal sebaliknya. Jadi, bila Anda belum menontonnya jangan mencoba-coba scroll ke bawah.. kecuali Anda tidak peduli dengan film ini (which is your loss, actually).
———————————————————————-
Cabin In The Woods (CITW) adalah sebuah film horror arahan Drew Goddard dengan skrip yang ditulis oleh Josh Wheddon yang juga berperan sebagai produser. Wait, isn’t he the guy from Avengers? Yap, tapi perlu Anda ketahui CITW ini sudah ada sejak 2009, sebelum Iron Man 2 rilis bahkan. Karena berbagai masalah yang tidak perlu saya ceritakan, film ini baru rilis awal 2012 lalu. It gets worse, karena dengan bodohnya salah satu bioskop Indonesia menahan film ini berbulan-bulan. Hingga sekarang.
Plot luar dari CITW adalah 5 remaja yang pergi berlibur ke sebuah kabin di hutan. Kemudian, 5 remaja ini tentunya dikejar-kejar oleh “sesuatu”, satu-persatu dari mereka mati. Isn’t it the clichest cliche? Tapi itu memang plot luarnya. Dengan jeniusnya, plot asli film ini tidak bocor. Bahkan ketika adegan pertama keluar, kita langsung dibuat bingung. “Kenapa ada orang kantoran nggak nyambung gini?” Promosi film ini yang meliputi sinopsis di IMDb, trailer, hingga review-review yang kompakan tidak menyentuh bagian dalam film ini berhasil membuat penonton dibuat salah mengerti dari awal. Film ini bukan sekedar 5 remaja bodoh siap untuk dibunuh. Ini lebih dari itu. Ini adalah sebuah tribut untuk genre horror yang dibuat lebih mirip kepada parodi. Parodi yang serius, tidak bodoh seperti Scary Movie.
Plot dalam CITW adalah ternyata 5 remaja tersebut sudah dipersiapkan oleh orang-orang di bawah tanah sebagai ritual bagi “Ancient Gods” yang berada di dalam bumi. Ritualnya berbeda di setiap negara, seperti misalnya di Jepang yang menggunakan Sadako untuk menakut-nakuti anak sekolahan. Di Amerika, ritualnya mengikuti keklasikan film horror negara itu, 5 remaja pergi yang mendapati liburan menyeramkan. Karakter dari 5 remaja ini juga sangat persis seperti film-film Amerika. Ada yang bodoh, macho, murahan, pintar, dan terakhir yang paling suci. Yang biasanya menjadi orang terakhir yang selamat. Mereka semua dibunuh (dengan urutan kematian yang juga mengikuti pakem Amerika) untuk dipersembahkan. Dengan begitu Ancient Gods akan puas dan tidak akan bangkit ke bumi. Setiap negara melakukan ritualnya sendiri, dan ketika Amerika tahu bahwa Jepang telah gagal melakukan ritualnya (Sadakonya diubah jadi kodok, anjrit hahaha!), maka mereka sadar, bahwa mereka harapan terakhir bagi bumi. Bagaimana mereka membuat ini sebagai lelucon tersendiri adalah sangat jenius dan lucu. Komedinya tidak eksplisit, but it’s there, it’s dark, and it’s hilarious.
Ketika akhirnya kita berhasil menyatukan plot luar dan dalamnya, pandangan penonton berubah, begitu juga tone filmnya. Dari yang berawal seram dan menegangkan, menjadi festival tribut film horror total (dengan tingkat keseraman yang jatuh)! Tentu CITW berisi dengan hal-hal klise di film horror seperti; Jangan berpencar, jangan mengikuti suara, jangan pergi ke ruang gelap, jangan membaca mantra, dan sebagainya. Tapi ini semua dibuat seperti keharusan yang menjalankan plot intinya yang juga merupakan sindiran, bukan hasil ketidak-kreatifan plot seperti film-film horror lainnya. Belum lagi, CITW mengandung referensi film-film horror populer, seperti misalnya Evil Dead karya Sam Raimi yang sangat pekat sekali.
Tengok 20 menit terakhir CITW yang merupakan versi Avengers/Expendables dari horror. Ketika hampir semua jenis hantu yang pernah ada di film horror lepas. Bahkan sampai ada Unicorn! (itu lucu banget hahahaha) Benar-benar mimpi basah bagi penggemar film horror. Dan ketika akhirnya film ini selesai, saya menemukan sebuah filosofi yang lebih besar lagi tentang film ini.
Ancient Gods tersebut adalah metaphor dari penontonnya sendiri (yaitu kita). Bagaimana tiap negara melakukan ritualnya dengan cara mereka sendiri adalah cerminan bagaimana tiap negara telah memberikan jenis-jenis film horror yang berbeda bagi penonton (film horor Jepang dan Amerika berbeda, kan?). Dan bila ritualnya berhasil maka Ancient Gods tidak bangun seperti bila filmnya bagus, maka kita tidak akan walk-out dari bioskop. Bagaimana ritualnya sendiri dilakukan tiap tahun dengan formula yang tetap sama pada tiap negara juga merupakan tamparan bagi dunia perfilman horror. Bagaimana genre ini sudah terlalu repetitive, tiap tahun formula film horror selalu saja seperti itu. Dan endingnya sendiri mengartikan bahwa tradisi ini harus berhenti. Saatnya membuat horror jenis baru.
Ada beberapa hint yang mengarah ke teori ini, seperti ketika Sigourney Weaver (Yes, from Alien) mengatakan “8 menit lagi matahari akan terbit” dan 8 menit kemudian film selesai dan lampu studio menyala. Atau ketika orang kantoran tersebut mengatakan “Kita bukan satu-satunya yang menonton” saat baju sang pelacur robek, makin menguatkan teori ini. Dan bila ini benar, Cabin in The Woods meledakkan otak saya jauh lebih dari yang saya sadari.
Cabin In The Woods adalah tribut, parodi, cemoohan, dan juga gabungan dari semua elemen film horror. Mind=blown.




