Review: Arrow - Season 1

Review di bawah ini mengandung SPOILER. Bila Anda masih berada di tengah-tengah season 1, selesaikan dulu, baru baca reviewnya ya
Sinopsis
Oliver Queen adalah playboy kaya raya yang mendapati dirinya terdampar di sebuah pulau selama 5 tahun. Selama 5 tahun tersebut ia mengalami hal-hal yang mengubah dirinya menjadi sekarang ini, Arrow. Ketika Oliver akhirnya berhasil kembali ke peradaban ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menegakkan keadilan. Menggunakan keahliannya dalam memanah dan bertarung, di season 1 ini Arrow berusaha untuk membenarkan semua kesalahan yang telah dibuat oleh orang tuanya.
Bagi yang belum tahu, Arrow ini sendiri adalah karakter DC Comic dengan nama asli Green Arrow. Entah kenapa, CW mengubahnya menjadi sekadar Arrow.
Playboy kaya raya mungkin mengingatkan Anda dengan Bruce Wayne, Batman. Tidak perlu heran, karena di awal penciptaan karakternya, Green Arrow memang terinspirasi berat dari Batman. Serialnya sendiri tidak beda jauh, pembuatnya tidak segan untuk mengakui bahwa mereka terpengaruh berat oleh trilogi The Dark Knight Chris Nolan. Tidak aneh juga bila kita mendapati kesan realis, dark, dan serba Batman karena Arrow memang pada dasarnya adalah rip-off legal dari Batman.
p.s. Gue gak pernah baca komiknya
The Good
Jujur, pada awalnya saya pesimis. Mungkin Smallville sukses sebagai salah satu tv show yang mengangkat karakter DC, but it is Superman. Karakter Green Arrow relatif tidak populer, apalagi memanah, secara tidak langsung orang akan membandingkannya dengan Hawkeye yang kebetulan “nongol” di Avengers.
But then, the pilot came. Walaupun buat saya tidak luar biasa, pilotnya lumayan berhasil mengikat saya untuk mengikuti satu season penuh. Awalnya show terasa cheesy, but once you get over it, Arrow berhasil menghibur. Set piece actionnya dibuat dengan baik. Toh, pemeran Oliver Queen, Stephen Amell memang katanya adalah seorang atlet parkour. Tidak heran adegan-adegan berantem dan lompat-lompatan terlihat real dan asyik dilihat.
Arrow jauh lebih menarik ketika sudah memasuki plot utamanya. Selama 1 season kita dibuat bingung tentang banyak hal. Seperti siapa penjahat utamanya? Apa yang terjadi selama 5 tahun di pulau? Siapa yang bertanggung jawab membuat Oliver terdampar? Dan sebagainya. Pada puncaknya di episode belasan, Arrow mulai membosankan. Tapi dengan lihai, di 3 episode terakhir, Arrow tancap gas, semuanya ternyata terangkai dengan sangat baik.

Dengan masih mempertahankan martial fightnya yang juga diakui terinspirasi oleh The Raid, Arrow tampil lebih berisi. Dua episode yang mengantar kita ke season finale di episode 23 menurut saya dieksekusi dengan sangat baik. Dan finalenya… ohhh.. it’s so good. Mungkin salah satu season finale terbaik yang pernah saya tonton. Semua pertanyaan penting kurang lebih terjawab dengan rapi, tapi masih meninggalkan tanda tanya untuk dieksplor lebih jauh di season 2.
Saya juga chemistry dan interaksi antar karakternya. Semuanya dibangun sangat dan menarik untuk dilihat. Terlepas dari aktingnya yang memang masih kualitas TV, menurut saya Stephen Amell sukses menjadi pahlawan. Amell berhasil membedakan aktingnya saat masih menjadi playboy 5 tahun lalu dengan saat dia sudah menjadi Arrow. Bukan karena dia kaku, but it’s just him being now version of him. Dia sudah berubah dari playboy menjadi pahlawan, tentunya ada perbedaan karakter.
The Bad
Of course, tidak ada gading yang tak retak. Tidak sulit melihat keretakkan Arrow. Pertama dan yang paling mengganggu saya, adalah dialognya. Cheesy se-cheesy-cheesy-nya. Karakternya berbicara hampir selalu dengan sarkasme dan perumpamaan. I mean, who does that in real life? Hal ini jauh lebih mengganggu ketika Arrow berjalan dalam tone real dan darknya ala The Dark Knight. Baru di 3 episode terakhir, dialognya jauh lebih berisi dan realistis.
Kedua, actionnya. Terlepas dari kerennya badan Stephen Amell. sekeren dia lompat dari satu gedung ke gedung lain, terlalu banyak peluru yang tidak kena. Arrow hanya bermodalkan panah saja, tapi melawan satu skuat polisi yang menggunakan pistol, entah bagaimana ia tidak pernah kena satu pun. Saya yakin polisi bukanlah amatir, jadi saya lebih percaya bahwa Arrow ini sakti mandra guna. But anyway, this is from comic book, so things like that are expected.

Ketiga, walau sudah diakui, kemiripan Arrow dengan Dark Knight ini terlalu mudah ditemukan. Jim Gordon muncul dalam bentuk Detective Lance. Diggle sebagai Alfred, Felicity Smoak sebagai Fox, dan hal-hal lainnya. Tontonlah sendiri kalau tidak percaya. Arrow dibangun dengan fondasi yang sama dengan The Dark Knight, hanya dengan karakter berbeda. Tapi setidaknya di sini saya suka perubahan Lance dari yang kontra menjadi pro Arrow.
Episode-episodenya, khususnya di awal, terasa terlalu repetitif. Basically bercerita Oliver berburu satu penjahat baru/episode dengan pola hampir sama di tiap episode. Beberapa orang kehilangan interestnya saat hal ini terjadi berulang kali. Kemudian di episode belasan, saat plot utamanya mulai masuk, pertanyaan muncul terlalu banyak dan kadang plot terasa terlalu melompat-lompat dan sporadis. Tapi hal ini akhirnya terjelaskan kok di akhir. Namun tetap saja, hal ini membuat beberapa orang stop menonton.
Verdict
Arrow mungkin cheesy, kadang berfantasi di dalam selimut realis dan gelapnya. But you can’t deny its charm as a superhero show. And the finale itself redeems the whole season’s faults. Apakah saya menunggu season 2-nya adalah sebuah pertanyaan retoris.

