Review - Captain America: The Winter Soldier (2014)
Sebelum masuk ke review saya ingin memastikan bahwa kalian semua sudah mengetahui identitas asli dari Winter Soldier. Karena sejauh itulah spoiler yang akan saya bahas dalam review ini. Tidak lebih tidak kurang.
Jadi, Phase 2 dari Marvel Cinematic Universe (MCU) telah memasuki tahun keduanya. Bila tahun 2013 kemarin kita diberi Iron Man 3 dan Thor: The Dark World yang penuh komedi, tahun ini sajiannya datang dalam wujud Captain America: The Winter Soldier dan Guardians of the Galaxy. Sementara yang satunya terlihat akan kembali mengusung elemen humor, yang satunya lagi terlihat serius. Setidaknya untuk ukuran film Marvel.
Dan benar saja, Captain America: The Winter Soldier adalah film Marvel yang paling tidak Marvel. Cita rasanya berbeda, ini adalah film superhero yang didapuk bernafaskan elemen political-thriller. Bagi kalian yang merasa film-film Marvel terasa formulaic, maka bila sesudah menonton yang satu ini kalian masih merasa sama, dapat dipastikan kalian menonton film yang berbeda.
Pasca kejadian di The Avengers, Steve Rogers/Captain America (Chris Evans) memutuskan untuk bergabung dengan S.H.I.E.L.D., menjadi semacam tangan kanan bagi Nick Fury (Samuel L. Jackson). Namun perlahan, Steve mulai menyadari keanehan dengan misi-misi dan keputusan dari badan intelijen Amerika yang satu ini. Ketika ia diberi tahu bahwa ke depannya S.H.I.E.L.D. dapat menetralisir kejahatan bahkan sebelum kejahatan itu sendiri terjadi, ia pun makin merasa tidak nyaman. Runtutan kejadian selanjutnya kian meyakinkannya bahwa ada sesuatu yang salah dengan S.H.I.E.L.D.. Tapi, siapakah yang bisa dia percaya?

Ada banyak twist and turn dalam film ini yang mana saya enggan membocorkannya, lebih baik nikmati saja sendiri di dalam bioskop. Premisnya yang cukup kompleks pun memaksa dan menuntut hal itu untuk terjadi. Hal-hal tersebut dengan mudah menjadikan The Winter Soldier film dengan plot terdalam, terberat, dan juga terkelam dalam filmography MCU.
Tapi, tidak hanya sebatas plot saja yang jauh mendapatkan upgrade, naskah yang mengadaptasi story-line komik The Winter Soldier karya Ed Brubaker adalah pahlawan sesungguhnya film ini. Karena kali ini komposisinya benar-benar pas. Komedinya tidak berlebihan seperti yang kita lihat pada 2 film sebelumnya. Porsi action, drama, dengan bagian-bagian konspirasinya benar-benar pas. Dan yang paling penting, di film ini karakter-karakternya benar-benar tergali.
You can’t hate any characters in this movie. Bahkan hingga ke penjahat-penjahatnya, mereka semua benar-benar well developed dan fleshed out. Kalian tahu mau mereka apa, tujuan mereka apa, dan kalian bisa mengerti mengapa mereka melakukan itu semua. Ini menyeluruh hingga ke karakter-karakter dengan screen time terbatas seperti Sam Wilson/Falcon (Anthony Mackie), Agent 13/Sharon Carter (Emily Van Camp), dan juga sang Winter Soldier/Bucky Barnes sendiri (Sebastian Stan).
Bayangkan apa yang terjadi dengan karakter-karakter utamanya? Chris Evans tidak pernah tampil lebih baik sebagai pahlawan Amerika sebelumnya. Kita tahu sedikit lebih banyak tentang pola pikir Nick Fury. Dan Natasha Romanoff/Black Widow (Scarlett Johansson) baru saja memastikan tempatnya sebagai perempuan nomor satu di MCU. Ditambah interaksi dan chemistry mereka di film ini berjalan dengan sangat sangat sangat baik.
Let’s talk about the action. Russo bersaudara (Anthony Russo & Joe Russo) mungkin awalnya tidak terlihat sebagai pilihan yang tepat sebagai sutradara film superhero, but Marvel, once again, hit the jackpot with this one. Mengaku terang-terangan menyukai The Raid dan actionnya, film ini pun setidaknya sedikit lebih dekat ke arah sana dibanding film-film action Hollywood lainnya. Sure, editingnya masih cepat sekali, but you can’t deny its thrill. Sementara untuk adegan aksi skala besar seperti ledak-ledakan, kita tahu film ini sudah berada di tangan yang benar.
Kemampuan Russo meng-handle adegan dramanya juga sama baik, setidaknya ada 2 momen yang benar-benar menyentuh saya. Pertama adalah saat Steve bertemu dengan Peggy yang sudah tua, dan tentunya interaksi Steve dengan Winter Soldier sesudah ia mengetahui Bucky temannya yang berada di balik topeng. These poignant moments were so great dan membuat film ini benar-benar beda dari yang Marvel sudah buat. Kembalinya duet Russo untuk Captain America 3 tentunya adalah sebuah berita baik.
Mempertanyakan apakah film ini lebih baik dari instalmen sebelumnya, Captain America: The First Avenger, itu retorik. Film ini adalah salah satu yang terbaik, bukan hanya dari Marvel, tapi di antara semua film superhero yang pernah dibuat. Film seperti inilah yang membuat genre superhero tetap ada tiap tahunnya dan bukan sebatas trend semata.
*Jangan lupa untuk menonton mid-credit scene dan post-credit scene film ini. Bila kelewatan, bisa ditonton di sini*
SIMILAR ARTICLES
-
Rizki
-
Fadly Nurrahman
-
lucien
-
ansi
-
Janitra Ezra
-
-
i made jhoni sugiartha







































