Review: Melancholy is a Movement (2015)

by -
0

Melancholy is a Movement

Joko Anwar yang kita kenal merupakan seorang sutradara Indonesia yang handal dalam membuat film-film berkualitas seperti karya psychological thriller yang berjudul Pintu Terlarang (2009) dan Modus Anomali (2012), atau film bernuansa noir kental berjudul Kala (2007). Dan jangan lupakan juga film drama komedinya yang menghibur berjudul Janji Joni (2005). Di kesehariannya, Joko dikenal sebagai seorang sutradara yang talkactive, sering menyuarakan pendapatnya ke publik, kritis terhadap suatu isu tertentu bahkan tidak jarang dia sering memberikan komentar nyinyir di Twitternya. Lalu bagaimana jika Joko terlibat dalam suatu film, tapi tidak menjadi sutradara melainkan menjadi pemeran utama dalam film tersebut? Hal itu tentu saja menarik untuk ditonton. Dalam film berjudul Melancholy is a Movement yang disutradarai oleh Richard Oh, Joko Anwar berperan sebagai dirinya sendiri, tetapi dengan kepribadiannya yang sedikit berbeda dengan dirinya di kehidupan nyata.

Melancholy is a Movement bercerita tentang seorang sutradara idealis bernama Joko Anwar yang nampaknya sudah kehilangan gairah dalam menyutradarai film. Dia sering terlihat murung dengan tatapan kosong dan terlihat sangat lesu. Bahkan tidak jarang dia menghiraukan teman-teman dekatnya yang rata-rata para pekerja film seperti aktor dan aktris yang mengajakanya berbincang atau sekedar berkonsultasi dengannya. Hingga suatu saat dia dihadapkan dengan tawaran untuk membuat film religi yang sebenarnya bukan genre film yang Joko banget. Tapi karena Joko sedang terbentur masalah dana untuk membayar tagihan sana-sini, akhirnya dia mengambil tawaran untuk membuat film religi tersebut dengan ide cerita yang masih khas seorang Joko Anwar, yang out of the box.

Film garapan Richard Oh yang terkenal melalui film terdahulunya berjudul Koper (2006) ini menggunakan nama karakter asli dengan kehidupan nyata. Kita bisa melihat banyak aktor dan aktris yang juga teman Joko Anwar bersliweran di sini, sebut saja seperti Amink, Ario Bayu, Fachri Albar dan masih banyak lagi. Tapi satu hal yang pasti, Joko Anwar di film dan di dunia nyata benar-benar dua orang yang berbeda. Joko Anwar yang ada di film adalah sesosok individu yang sepertinya sudah kehilangan hasrat untuk berkarya. Hidup segan mati pun tak mau. Dia terlihat begitu statis, begitu sibuk di alam pikirannya sendiri ketimbang berinteraksi dengan teman-temannya di dunia nyata.

Melancholy is a Movement

Dari menit-menit awal film, sudah terasa bahwa film ini adalah film yang segmented. Saya yakini tidak semua orang dapat menikmati jenis film seperti ini. Pergerakan plot terasa lambat yang seolah-olah memang mengimbangi karakter utamanya yang statis membuat film terasa membosankan. Plotnya pun terasa lompat-lompat karena tidak jarang antara satu adegan ke adegan selanjutnya tidak memliki hubungan dan terasa tidak linier sehingga membuat beberapa penonton menjadi garuk-garuk kepala dibuatnya.

Meskipun begitu, film ini masih dapat mencuri perhatian saya ketika ada salah satu adegan dimana Upi, salah satu teman Joko, menelpon di tengah kesibukannya dalam proses syuting FTV untuk meminta saran Joko. Lantas Joko pun menyarankan Upi untuk menempatkan kamera di depan aktornya, biarkan aktornya diam saja tanpa melakukan apapun supaya nanti penonton jadi berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi, biar terkesan deep-deep gimana gitu. Saran Joko ke Upi nampaknya memberikan gambaran besar tentang bagaimana Melancholy is a Movement bekerja. Kita keseringan melihat Joko hanya termenung tanpa kita tahu pasti apa yang ada di pikirannya dan membuat kita membentuk interpretasi sendiri tentang apa sebenarnya yang ada di pikiran sang karakter hingga dia sering terlihat termenung. Dan hal tersebut tentu saja akan menghasilkan interpretasi yang berbeda-beda antara satu penonton dengan lainnya. Hasilnya, film terasa menjadi deep-deep gimana gitu.

Komedi-komedi yang disuguhkan di sini pun lumayan menghibur. Komedi satir yang berisi sindiran terhadap isu sosial yang tengah hangat saaat ini disampaikan secara halus namun menyentil yang tak jarang membuat saya tersenyum dan gemas dibuatnya. Beberapa isu sosial yang disindir memang terasa begitu dekat dengan keadaan masyarakat urban sekarang.

Pada akhirnya, Melancholy is a Movement adalah salah satu film Indonesia yang bisa dibilang tidak biasa karena cara pemaparan narasi yang membuat para penonton harus membentuk interpretasi sendiri tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam film. Rangkaian komedi aneh dan absurd pun seolah menjadi bumbu tambahan untuk membuat film ini makin misterius dengan caranya sendiri.

Review overview
Acting - 7.2
Direction - 7
Story - 7
A young adult who found an excessive bliss in watching movies.