Review: Dive! (2009)

Bagaimana jadinya kalau orang hidup dari mengais sampah? Mungkin bayangan kita langsung melayang ke para pemulung yang memang sehari-harinya menyambung hidup dengan demikian atau bisa jadi yang langsung pertama kali muncul adalah kumuh, jorok dan tidak higienisnya hidup macam tersebut. Tapi Jeremy Seifert membuktikan bahwa dia bisa hidup dari situ. Dan ternyata aksinya membawa pesan positif untuk kita semua.
Dive! adalah sebuah film dokumenter tentang keprihatinan Seifert terhadap masyarakat Amerika yang suka membuang makanan dalam jumlah besar. Berangkat dari keprihatinannya terhadap sikap tersebut, Seifert memutuskan untuk melakukan dumpster diving khusus makanan dan merekam kegiatan tersebut. Dumpster diving sendiri merupakan sebuah istilah untuk aktivitas mencari barang (mulai dari makanan, pakaian bekas sampai barang elektronik) yang masih bisa dikonstruksi atau dipakai kembali dari dalam tempat sampah. Seifert bahkan menjadikan ini gaya hidup.

Seifert yang tinggal di Los Angeles, California kemudian mulai menyambangi dumpster (tempat sampah, tapi untuk tulisan ini lebih baik kita artikan sebagai tempat pembuangan makanan) supermarket Trader Joe’s yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Kadang dia pergi sendiri, kadang bersama rekan-rekannya yang juga antusias dalam mengumpulkan makanan-makanan terbuang tersebut. Ironisnya, banyak di antara makanan terbuang tersebut yang sebenarnya kondisinya masih layak makan, hanya saja mereka sudah mendekati tanggal kadaluarsa atau ketika si supermarket menerima pak-paknya, ada satu atau dua yang cacat. Kebanyakan supermarket membuang pak-pak makanan yang “dianggap” cacat karena menjaga kesegaran absolut, sehingga menghindarkan mereka dari tuntutan hukum. Dan kita tahu bahwa Amerika adalah negara yang ternyata suka dan sangat mudah menuntut secara hukum.
Seifert masih harus tetap berbelanja seperti biasa, tetapi dia tidak berhenti memberi makan keluarganya makanan dari dumpster dan keluarganya tidak pernah sakit karena makan makanan tersebut. Walaupun demikian, dia memberlakukan aturan-aturan ketika melakukan dumpster diving. Salah satu aturan yang Seifert berlakukan untuk dirinya sendiri adalah dia tidak boleh mengambil lebih dari apa yang dia butuhkan. Permasalahan muncul ketika Seifert mulai mengambil jauh lebih banyak dengan alasan tidak tega membuang makanan-makanan layak tersebut. Lama kelamaan dia merasakan bahwa semakin banyak makanan yang dimilikinya, semakin mudah dia membuangnya. Dalam film kita diperlihatkan dilemanya: am I valuing food more or valuing food less?
Seifert kemudian mulai berpikir jauh lebih kritis terhadap tindakannya melakukan dumpster diving ini. Pertanyaan mengenai mengapa sebanyak itu makanan yang dibuang pun muncul. Seifert mulai mengirimkan surat kepada supermarket-supermarket besar, melakukan diskusi dengan ahli waste and trash dan mengunjungi lembaga pemberi makanan untuk orang-orang kelaparan atau food bank dan Salvation Army di LA yang sebenarnya membutuhkan lebih banyak karena mereka kekurangan stok. Supermarket-supermarket tersebut menolak untuk berdiskusi tentang food waste tersebut. Walaupun demikian, sepanjang film penonton juga dituntun untuk memahami lebih jauh tentang food waste and trash serta dampaknya, didukung dengan data statistik dan presentasi visual yang unik dan kreatif dengan menggunakan elemen-elemen makanan sebagai penandanya.

Makanan layak yang ‘diselamatkan’ Seifert dari dumpster.
Film ini adalah sebuah kritik sosial. Secara teknis memang film ini tidak menawarkan sesuatu yang istimewa kecuali presentasi visual tentang data statistiknya yang menarik dan membuat kita lebih mudah mengerti. Sound-nya tidak sedemikian bersih, demikian pula dengan gambarnya yang tidak melulu sesuai presisi. Tapi, kita diajak untuk melihat lebih dari itu. Gaya film ini tidak menyulitkan kita sebagai penonton untuk bisa memahami beragam informasi yang disajikan, bahkan berhasil membuat kita peduli. Seifert prihatin karena banyak masyarakat Amerika yang belum bisa menghargai makanan, sementara di luar sana banyak orang kelaparan. Upayanya melakukan dumpster diving adalah aksi bahwa Seifert menentang keras sikap masyarakat yang tidak menghargai makanan dan membuang-buangnya. Penonton dibuat tahu tentang proses beternak sapi dan babi dengan data statistik perbandingan makanan sapi dan babi serta daging yang dihasilkannya. Di Amerika Serikat, negara adidaya yang kaya dan mampu mempengaruhi dunia, ternyata masih ada orang kelaparan. Ironisnya, negara ini pula yang membuang 50% dari apa yang dihasilkannya. Seifert heran, mengapa para penguasa supermarket tidak menyumbangkan saja makanan yang masih layak tersebut kepada yang membutuhkan? Setahu saya, memang banyak perusahaan makanan melarang karyawan mereka membawa pulang sisa makanan yang tidak terjual karena takut akan ada transaksi ‘ilegal’ di luar perusahaan makanan yang bersangkutan. Tapi, daripada membuangnya, memang seharusnya makanan tersebut disumbangkan kepada yang membutuhkan. Seifert menganggap dengan melakukan hal tersebut, kita menghargai Bumi dan segala isinya, menghargai mereka yang benar-benar membutuhkan makanan dan menghargai usaha pembuatan makanan tersebut karena prosesnya tidak mudah. Bahkan film ini berhasil memaparkan nilai-nilai unik, termasuk anggapan seorang dumpster diver yang tidak menganggap perilakunya mengambil makanan dari dumpster termasuk dalam tindakan kriminal karena dia melakukan trespassing for good. Concern Seifert juga diteruskan dengan membuat gerakan Eat Trash untuk menghentikan pembuangan makanan layak.
Dengan menonton film ini, saya bersyukur bahwa setidaknya masyarakat Indonesia punya superstition yang berkaitan dengan makanan. Misalnya dengan ancaman Dewi Sri yang akan menangis kalau kita tidak menghabiskan makanan. Atau mungkin masih banyak superstition lainnya. Walaupun superstition, setidaknya kita bisa lebih menghargai makanan. Masyarakat Amerika Serikat memang tidak familiar dengan superstition semacam kita punya dan mereka tidak harus demikian. Dengan cara rasional, Seifert berhasil membuat mereka sadar akan pentingnya menghargai makanan yang ternyata tersambung ke banyak sekali hal.
Film ini juga diberi sentuhan musik yang sangat easy listening dan mewakili nuansa film dari Timothy Vatterott.

