Review: Snowpiercer (2013)

Puluhan tahun di masa mendatang, manusia tidak lagi menghuni planet biru sebagaimana mestinya. Eksperimen yang keliru memicu Bumi semakin dingin, sehingga tidak mungkin lagi manusia tinggal di luar. Ya di luar. Di luar kereta api super cepat yang membawa puluhan penumpang yang selamat dari eksperimen petaka tersebut. Meskipun mereka selamat, bukan berarti mereka selamat selamanya. Tirani para pemimpin kereta tersebut siap menyiksa mereka secara perlahan.
Snowpiercer merupakan thriller yang ambisius dari sutradara asal Korea Selatan, Bong Joon-ho. Plotnya tidaklah orisinal. Yang menarik ialah bagaimana Joon-ho mengeksekusinya menjadi sebuah kreasi seni yang menggugah. Perjuangan para penumpang kereta api tersebut memang menginspirasi. Cara bertahan hidup mereka menarik, dengan segala ‘kelokan-kelokan’ plot yang siap menerpa dari berbagai sudut, serta kisah-kisah mandiri di tiap-tiap gerbong kereta kaliber tersebut.
Brutalitas merupakan nilai jualnya. Sebab, sedari awal, Snowpiercer mengatraksikan hal tersebut dengan cara yang mencengangkan. Tentu saya tidak akan memberitahukan hal-hal macam apa yang ada di dalamnya karena akan mengurangi hasrat menonton. Meskipun demikian, karya anyar arahan Joon-ho ini juga memiliki kelemahan, seperti penggunaan CGI yang sangat kasar pada kereta dan beberapa bagian lainnya. Selain itu, kurangnya pengembangan karakter turut menambah rentetan kecacatan. Padahal, saya pikir Joon-ho sudah menelurkan banyak dialog-dialog cerdas yang membikin plot berdenyut antusiastis.
Seperti yang sudah saya utarakan di awal, tidak bisa dipungkiri bahwa Snowpiercer kreasi yang ambisius, yang didampingi dengan performa brilian dari para pemerannya. Akan tetapi, hal itu ternyata tidak ditopang terlalu baik di beberapa segi lain. Toh, ia thriller yang punya pesan-pesan yang hit-and-miss.

