Review: Arrow S02E02

Melanjutkan debut season keduanya yang luar biasa, Arrow tampaknya tidak akan menurunkan lajunya dalam waktu dekat. Tempo cepat yang masih diusung episode keduanya, Identity, menjadikannya sebagai hiburan yang padat dan menyenangkan. Dengan begitu subplot yang ditawarkan sejak awal, Arrow memang mau tidak mau harus cepat dalam bercerita dan tidak boleh bertele-tele.
Recap:
Secara garis besar, kali ini Roy Harperlah yang mendapatkan spotlight. Pertama kita melihat dirinya berusaha menggagalkan usaha pencurian obat-obatan untuk sebuah rumah sakit di Glades yang dipimpin oleh China White. Roy gagal, Thea pun makin tidak setuju dengan aktivitasnya yang seakan-akan ingin menjadi vigilante. Pada satu titik Thea bahkan mengancam Roy untuk putus bila ia tidak berhenti.
Oliver Queen sebagai Arrow berusaha menggagalkan pencurian obat-obatan selanjutnya. Sayangnya iapun gagal, saat dirinya harus berhadapan dengan Bronze Tiger yang sama sekali tidak bisa terkena panahnya. Di sisi lain, Sebastian Blood mulai mengarahkan serangan terhadap Oliver menggunakan media. Blood yakin, bahwa Oliver turut berpartisipasi dalam kejadian yang menewaskan 503 nyawa, dan iapun berhasil membuat masyarakat berbalik arah melawan Oliver.
Ada beberapa subplot yang lebih kecil lagi seputar permasalahan identitas, ketika Felicity, Diggle, dan Oliver saling mengeluh bahwa mereka mengalami kesulitan menjalani 2 identitas yang berbeda. Felicity tidak suka dirinya harus (berpura-pura) menjadi asisten Oliver, sedangkan Diggle sendiri pasrah (sambil bercanda) dirinya menyamar sebagai supir Oliver.
Meanwhile, back in the island, hampir tidak ada perkembangan penting, kecuali mungkin awal dari cinta segitiga Oliver-Shado-Slade.
Bagian terbaik jelas berada di endingnya. Selain membuka harapan Roy Harper untuk menjadi Red Arrow nantinya, ada juga cliff-hanger yang pasti membuat kalian tidak sabar menonton episode selanjutnya.
Review:
Okay, seperti yang saya bilang sebelumnya; episode yang padat. Semua subplot hampir mengalami perkembang signifikan, terutama evolusi Roy Harper yang sudah hampir pasti nantinya akan menjadi semacam pahlawan. Apakah itu nantinya Red Arrow atau Arsenal, tidak terlalu penting untuk sekarang. Di sini setidaknya kita mendapatkan backstory dan mengetahui motivasi Roy, which is important. Dan tentunya panah berwarna merah yang diberikan kepada Roy menjelang ending, tentunya berarti sesuatu.
Bila harus mencari kekurangannya, episode kedua ini seperti makin tidak mementingkan bagian flashback. Karena kejadian masa sekarang berjalan dengan sangat cepat, dan ketika mereka mulai menawarkan flashback, terasa sekali perubahan tempo cerita yang terlalu jauh. Hal ini cukup mengganggu kenikmatan menonton dan pada akhirnya membuat penonton pun sulit untuk peduli pada apa yang terjadi dengan Oliver di pulau.
Actionnya masih khas Arrow, penampilan Bronze Tiger cukup asyik walaupun mungkin sedikit konyol. Dan bagian China White yang mulai bingung kenapa Arrow tidak lagi membunuh tentunya cukup untuk menjawab beberapa kritik di episode-episode awal season 1. Yap, you guys get what you want, Arrow tidak membunuh lagi.

