Review: Zero Dark Thirty (2012)

by -
0

Mei 2011. Pada hari ketika berita Osama bin Laden terbunuh atas penyerbuan pasukan SEAL 6 di Abbottabad, Pakistan mencuat ke publik, saya sedang asik duduk di bangku kuliah sambil mendengarkan ceramah seorang dosen. Kira-kira satu setengah tahun kemudian, Zero Dark Thirty (ZDT), yang digawangi langsung oleh sutradara sohor (Kathryn Bigelow) yang pernah mendapat banyak penghargaan atas karyanya bertajuk The Hurt Locker (2008), muncul ke permukaan dan mulai tayang.

Belum puas dengan pencapaiannya atas film perang tersebut, Bigelow kembali menggondol banyak penghargaan di ajang-ajang bergengsi akhir tahun lalu dan tahun ini; salah satunya nominasi Film Terbaik di Academy Awards ke-85, yang digelar pada 24 Februari 2013 waktu setempat.

Adalah Maya (Jessica Chastain). Seorang analis CIA yang akan menghabiskan banyak waktunya untuk melacak, memburu, dan menangkap atau bahkan membunuh bin Laden. Pengalaman pertamanya di CIA ialah, ia harus berkutat dengan para tawanan yang diinterogasi dengan cara yang tidak biasa. Namun, Maya berkeyakinan dengan cara yang tidak biasa itulah ia akan sanggup melacak keberadaan pimpinan al-Qaeda tersebut.

Bigelow mungkin menghadapi ‘masalah’ yang cukup krusial ketika menggarap ZDT, di mana hampir setiap penduduk di muka Bumi tahu bagaimana akhir dari sepak terjang CIA dalam menangkap bin Laden di negara berpenduduk 180 juta jiwa itu.

Namun, Bigelow tidak serta-merta gagal menyajikan ‘rekonstruksi’ penangkapan tersebut. Dengan piawai ia justru mampu menghipnotis audiens dengan narasi bertempo cepat dan dinamis, sangat menegangkan serta dibuat dengan cemerlang.

Dalam ZDT, tidak satu adegan pun terasa membosankan, bahkan tidak ada yang hadir tanpa makna. Kepiawaian tersebut ditunjukkan Bigelow dalam presentasinya, yang membikin saya bak menaiki roller coaster dengan kecepatan maksimum melewati trek-trek yang tajam dan menikung.

Terlepas dari adegan-adegan interogasi yang masih kontroversial itu, Zero Dark Thirty tidak begitu saja hanyut untuk muncul sebagai sebuah propaganda perang dari Negara Adidaya itu. Akan tetapi, ia lebih tepat disebut sebagai sebuah sajian thriller bombastis, yang sanggup membuat jantung penontonnya berdegup sangat cepat dari introduksi hingga konklusi.