Review - X-Men: Days of Future Past (2014)

by -
16

X-Men Days of Future Past Banner

Tahun 2000, film X-Men pertama hadir ke layar lebar. Pada saat itu, genre superhero tidak berada dalam bentuk terbaiknya. Belum ada nama seperti Nolan, Raimi, apalagi Marvel Cinematic Universe. Bahkan tiga tahun sebelumnya, Joel Schumacher baru saja merilis Batman & Robin yang bisa menjadi penutup dari trend film superhero. Tapi untungnya hal itu tidak terjadi, karena Bryan Singer dengan film X-Men-nya datang dan secara tidak langsung memulai era baru dunia film superhero. Bukan berarti selanjutnya tidak ada film superhero buruk, karena seperti komik, kadang kita dapat cerita yang bagus, dan kadang kita dapat cerita yang buruk.

Franchise X-Men sendiri juga begitu, memiliki masa naik dan turunnya. Beberapa menginginkan haknya untuk kembali ke tangan Marvel dan diolah dengan benar, apalagi setelah kepergian Bryan Singer dan kehancuran X-Men: The Last Stand serta X-Men Origins: Wolverine. Baru di tahun 2011-lah, seri X-Men seperti dipugar lewat First Class. Dengan setting masa lalu, jajaran aktor baru, dan di bawah arahan sutradara baru, Matthew Vaughn, X-Men kembali ke jalan yang benar. Hal itu berlanjut ke The Wolverine tahun lalu yang di luar dugaan tampil benar-benar baik. Dan tahun ini sang sesepuh, Bryan Singer, kembali menangani franchise X-Men dan bermaksud menyatukan timeline First Class dengan seri X-Men buatannya, sekaligus membenarkan seluruh kontinuitas yang sudah diacak-acak sutradara-sutradara sebelumnya. Berhasilkah dia?

Melibatkan elemen time travel, Days of Future Past menceritakan masa depan di mana para mutan tengah diburu oleh Sentinel ciptaan Bolivar Trask (Peter Dinklage). X-Men berada di ambang kepunahan hingga Wolverine (Hugh Jackman) harus dikirim ke masa lalu oleh Professor X (Patrick Stweart) dan Magneto (Ian McKellen), lewat bantuan Kitty Pryde (Ellen Page), untuk menghentikan semuanya sebelum terjadi. Di sinilah kita bertemu dengan versi muda dari Charles Xavier (James McAvoy), Erik Lehnsherr (Michael Fassbender), Hank McCoy (Nicholas Hoult), hingga Mystique (Jennifer Lawrence). Bersama, mereka berusaha mengubah beberapa kejadian penting yang dapat berefek buruk bagi masa depan. Namun tentunya hal ini tidak mudah, karena versi muda dari para mutan ini tidak sebijaksana versi tua mereka.

Mengkombinasikan kedua timeline yang berbeda serta menyinggung banyak kejadian di film-film sebelumnya tidak akan mudah dicerna bagi para penonton yang sama sekali tidak akrab dengan film X-Men. Tapi bagi kalian-kalian yang rajin mengikutinya, menikmati masa cemerlang dan buruknya seri ini, X-Men: Days of Future Past dijamin akan memuaskan sekali. Ada sebuah sensasi rewarding yang selama ini kita cari. Di film ini, Bryan Singer berhasil me-redeem semua kesalahan film pendahulunya.

Film superhero tentu sarat aksi besar-besaran, Days of Future Past punya itu, tanpa harus benar-benar meluluh-lantahkan seisi kota a la Man of Steel atau Avengers. Aksinya intim, menarik untuk dilihat, namun yang penting, berpengaruh kepada plot dan tidak hampa. Tapi itu sendiri bahkan bukan hal terbaik film ini. Sejak film dimulai, terasa sekali sentuhan Singer, sentuhan yang membuat kita cinta dengan dua film X-Men pertama. Apa itu? Interaksi antar karakternya.

Diadaptasi dari story-arc berjudul sama di komiknya, cerita lebih berfokus pada masa lalu. Singer membawa hal terbaik dari serinya, yaitu Hugh Jackman, bersatu dengan elemen terbaik di First Class, yaitu McAvoy dan Fassbender. Gabungkan keduanya, kita mendapatkan dinamika yang sangat seru untuk ditonton. Karakter-karakternya benar-benar hidup dan seluruh aktor memberikan penampilan terbaiknya di sini. Tapi James McAvoy adalah yang paling bersinar. Terlepas dari assemble cast-nya yang keroyokan, Days of Future Past adalah filmnya. Sangat asyik untuk melihat perubahan karakter Charles Xavier di awal film hingga ke akhir cerita.

Hebatnya lagi, Singer, seperti tidak perlu berusaha keras untuk membuat semua hal itu bekerja dengan baik. X-Men adalah taman bermainnya, this is where he belongs. Kalian mungkin tidak selalu setuju dengan keputusan yang pernah ia buat, seperti memaksa semua X-Men menggunakan kostum berwarna hitam terbuat dari kulit dan tidak seperti di komik, tapi ia berhasil membuat tiap karakternya mudah disukai. Ya, bahkan untuk karakter dengan screentime sedikit seperti Quicksilver atau Blink. In the end, it’s not about the style that matters, but the substance beneath.

Sulit bagi saya untuk mencari-cari keburukan dari Days of Future Past, karena inilah film X-Men yang selama ini saya tunggu. Inilah film X-Men terbaik yang pernah dibuat. Dan bahkan bagi saya yang bukan fans beratnya sendiri tidak sabar untuk melihat apa yang akan dihadirkan selanjutnya.

Rating

*ada satu credit scene di penghujung film, bagi yang kelewatan bisa menyasikannya di sini

  • Dimas Bagaskara

    Setuju sama bang E! Ini film X-men paling epic dari yang sebelumnya :p hahaha. Ga sabar nunggu Apocalypse, itu beneran kuat banget ya bang karakternya? ckck aftercreditnya bikin mati penasaran haha.

    • Janitra Ezra

      Kuat banget, kalo ibaratnya Thanos buat Avengers, Galactus buat Fantastic Four, ya Apocalypse ini buat X-Men.

      • Dimas Bagaskara

        Kayanya bakal gabungan lagi X-Men “takdir baru” buat ngelawan tuh Apocalypse :D. Oh iya di film ini kok Sentinel versi masa depan kok overpower banget ya? yang aneh, dia kaya metal tapi ga bisa dikontrol magneto -__-

        • Janitra Ezra

          Sebenernya Sentinel versi masa depan itu lebih menyerupai Nimrod http://en.wikipedia.org/wiki/Nimrod_(comics).

          Si Magneto nggak bisa ngontrol mungkin karena bahannya sendiri tetep pake Polymer Carbonite apalah itu, kayak versi awal Sentinel sebelum disisipin metal sama Magneto.

          • Dimas Bagaskara

            Mungkin kalau si Logan ga ke masa lalu, bakal punah ya bangsa mutan, kalau lawan sentinel aja pada kalah, apalagi lawan Apocalypse -_-

  • Diaz Permana

    gue yang ga fokus sama filmnya apa emang di film ini ga dijelasin gimana Future Wolverine bisa ngedapetin cakar adamantium nya lagi ya ? Bukannya timeline bagian awal DoFP itu kelanjutan dari hidden scene nya The Wolverine kan?
    Sama, Prof X itu bisa kembali ke badan aslinya gimana ya ? Di The Last Stand kan emang uda divaporized sama Phoenix, terus di hidden scenenya doi balik dalam tubuh sodara kembarnya yang koma, tapi setau ane setelah itu ga dijelasin gimana caranya dia bisa balik ke tubuh aslinya.
    Mohon pencerahannya nih suhu-suhu.

    • Janitra Ezra

      Emang beberapa hal gak dijelasin langsung sama filmnya, tapi menurut gue:

      - Cakar Adamantium Wolverine
      Pas di The Wolverine (2013), besinya yang dipotong cuman yang di cakar doang, bukan keseluruhan, sedangkan Wolverine punya kemampuan regenerasi, bisa jadi itu ngebalikkin adamantiumnya. Atau, sama Magneto, Adamantium di tubuhnya diatur ulang posisinya supaya bisa ada di cakar. Banyak kemungkinannya.

      - Prof X
      Iya, Prof X emang mindahin kesadarannya ke tubuh lain. Sayangnya hal ini nggak dieksplor lebih jauh lagi. Sama kayak kasusnya Magneto sebenarnya.

      • Diaz Permana

        Thank gan penjelasannya, by the way menurut gue sebuah langkah yang tepat Singer ambil arc story time travel, karena dengan begini doi bisa meluruskan kesalahan time continuity di film-film X-Men sebelumnya dan membuat jalan cerita X-Men yang baru yang pastinya nyambung. Plus, kembalinya all star X-Men mengembalikan semua tokoh utama yang uda koit. Pas sih menurut gue, secara di film besok mereka harus ngelawan Apocalypse, jadi emang kudu full team.

  • tommywinarta

    The greatest X-Men movie ever! Reviewnya keren juga btw!

  • Danang

    salut nih sama Janitra Ezra Putra bisa bkin review lengkap gini..
    eh saya mau tanya..saya pernah baca komentar Bryan Singer “Bryan Singer Menilai Persaingan Fox dan Marvel Tidak Sehat” maksudnya gimana tuh?
    emng kn x-men dari Fox tp ttep dari marvel jg kn?

    • Janitra Ezra

      Wah, belum baca tuh. Hak film X-Men emang dipegang sama Fox, meski karakternya tetap milik Marvel, tapi hal inilah yang bikin X-Men nggak bisa cross-over sama Avengers di film.

      • Danang

        oh gitu..jd bner” hak paten ya..
        o ya..satu lg nih..mlenceng dari x men ga apa-apa kn ya..hehe
        abis baca-baca review d sni jd inget lg nih ama The Incredible Hulk..
        msh inget ga post credit scene The Incredible Hulk?
        kn d situ Stark ktemu ama si jendral di sbuah bar gitu..
        stark bilang “Kami sdang mmbuat sbuah tim”..
        d sini tim yg mksud Avenger bkn..?

        klo seinget saya Hulk 2 itu 2008 sdangkan perekrutan Avenger d mulai d iron man 2 2010..

        • Janitra Ezra

          Tapi kan di credit-scene Iron Man (2008) Nick Fury udah nongol ngajakin Tony Stark bikin Avengers. Di Iron Man 2, baru keliatan prosesnya.

          • Danang

            oh ada ya..
            ga tau saya..hehe
            tau ada post credit scene gitu baru di hulk 2..
            thanks infonya..

  • Nfrw Brooks

    gan cakar adamantium nya wolverine kn gk ada saat dia kembali ke tahun 73 d days of future past nah wktu semuanya kembali normal apakah cakar adamantium wolverine juga balik ?

    • Janitra Ezra

      Belom ketahuan kan.