Review: Maze Runner (2014)
Bila diamati, tren film yang mencolok saat ini, selain genre superhero, adalah adaptasi novel young adult. Para studio pun tidak ragu untuk memberikan lampu hijau untuk memproduksinya. Dengan garansi fanbase yang siap untuk datang ke bioskop serta materi sekuel yang sudah siap, adaptasi young adult adalah mesin pencetak uang. Harry Potter, Twilight, Hunger Games, dan Divergent sudah membuktikan itu. Ya, meski ada juga beberapa temannya yang kurang sukses dan tidak berhasil menembus lebih dari 1 film. Tapi, resikonya cenderung kecil, ditambah juga dengan imunnya terhadap kritik, dan tidak membutuhkan nama besar untuk mendapatkan sorotan.
Tahun ini, kita kedatangan lagi satu cikal bakal franchise young adult, namanya Maze Runner. Meski dibuat dengan bujet kurang dari $35 juta dan tidak memiliki aktor papan atas, film adaptasi novel James Dashner ini berhasil meraih atensi saya karena premisnya yang bikin penasaran. Memiliki beberapa benang merah yang sama dengan seri Hunger Games dan Divergent, Maze Runner juga menawarkan sebuah petualangan bersetting di dystopian future dengan seorang pahlawan yang menyandang titel the chosen one. Tapi, Maze Runner mampu membedakan dirinya lewat caranya mempresentasikan dan membuka dunianya.
Film dibuka dengan Thomas (Dylan O’Brien) terbangun dalam sebuah lift yang mengantarnya ke sebuah koloni remaja cowok yang terjebak di tengah sebuah labirin besar. Mereka semua, termasuk Thomas, hanya mampu mengingat namanya dan tidak pernah tahu kenapa bisa terdampar di sana. Setiap bulan, lift tersebut mengirim persediaan dan remaja baru untuk bergabung, namun tidak pernah satu dari mereka berhasil untuk kabur dan keluar. Seperti yang bisa ditebak, Thomas adalah sang pahlawan yang bisa menolong mereka semua.

Bagaimana film tidak pernah memberikan eksposisi terhadap keadaan di dunianya seperti Hunger Games menjelaskan tradisi permainan sadis dan distrik-distriknya atau Divergent dengan faksi-faksinya patut diapresiasi. Di sini, penonton sama bodoh dan bingungnya seperti Thomas dan kawan-kawan. Menuju ke pertengan film berjalan, bukan jawaban yang diterima malah pertanyaan demi pertanyaan kian dilontarkan. Maze Runner tidak bisa diberi judul lebih tepat lagi, karena filmnya sendiri adalah sebuah puzzle untuk penonton. Sampai batas mana kita sabar dengan itu semua adalah pemecah opini bersamaan dengan jawaban akhir yang terasa tidak sememuaskan premisnya.
Tapi satu yang tidak bisa dipungkiri, Maze Runner dimulai dengan sangat kuat sekali. Tidak mengungkap semuanya secara buru-buru adalah keputusan yang tepat apalagi didukung dengan akting dan chemistry yang kuat dari aktornya, sulit untuk tidak langsung terjun ke dalam dunianya. Kita tidak hanya dipaksa mengikuti petualangan Thomas, tapi juga mau tak mau masuk dan menjadi bagian dari petualangan tersebut. Tentunya, kredit tersendiri patut disematkan untuk Dylan O’Brien. Aktor yang populer lewat serial Teen Wolf ini pertama kali saya kenal lewat film romantic-comedy-nya yang berjudul The First Time. Dan, biar saya beri tahu sesuatu, dia punya screen presence dan kharisma yang kuat. Dikelilingi dengan aktor muda seperti Thomas Brodie-Sangster (Love, Actually) dan Will Poulter, yang kalau kalian telah menyasikan We’re the Millers tidak akan percaya bisa menjadi ke karakter di film ini, dinamika interaksinya terasa familiar namun menarik untuk diikuti. Bahkan aktor Korea, Ki Hong Lee yang tidak pernah saya dengar namanya mampu mencuri perhatian saya lewat karakternya, Minho.
Tapi terlepas dari semua itu, Maze Runner tetap memiliki darah young adult mengalir di dalamnya. Beberapa detail kecil luput dan tidak dijelaskan logikanya (seperti rambut Minho yang bisa tetap ‘naik’ dan rapi meski 3 tahun hidup di labirin), namun untuk pasar audiens-nya, hal tersebut tidak terlalu berpengaruh, karena ini tetaplah sebuah adaptasi young adult yang tidak perlu dibawa serius. Sebingungnya kalian hingga pertengahan film, janganlah bersusah payah mencari jawaban, karena, toh, nantinya semua jawaban akan datang dengan sendirinya. Identitasnya inilah yang menahan dirinya untuk berkembang dan naik satu tingkat di atas koleganya. Meski puas dengan hasil akhirnya, Maze Runner tetap terasa tidak mengeluarkan potensi terbaiknya.
Jadi, ketika membeli tiket, ingatlah ini adalah sebuah hiburan khas adaptasi young adult. Tetap nikmati keseruan petualangan Thomas memecahkan sang labirin raksasa tapi tidak perlu ikut mencari dan memecahkan jawaban dari semuanya. Karena itu adalah tugas Thomas, bukan penonton. Ketika kalian terlalu ikut andil di dalamnya, di situlah film akan mengecewakan kalian.








































