Review: Love, Rosie (2014)

by -
1

love-rosie

Tema lelaki-tidak-bisa-bersahabat-dengan-perempuan bukanlah ranahan baru lagi di film komedi romantis. Contoh paling populer bisa diberikan untuk film When Harry Met Sally. Tahun lalu, kedatangan lagi film yang mencoba membahas tema yang sama asal Inggris berjudul Love, Rosie. Dengan sedikit bumbu sana-sini, apakah film adaptasi novel When Rainbows End ini mampu memuaskan penggemar genre sejenis?

Cerita dibuka dengan cuplikan yang menunjukkan bahwa Rosie dan Alex sudah berteman sejak dari kecil. Kemudian film melompat ke sebuah pernikahan. Tampak Rosie sedang menangis di sana, kenapa ia sedih? Apakah ini perkawinannya? Film kemudian mundur lagi saat Rosie baru saja menginjak 18 tahun. Berpesta sampai mabuk, ia pun berciuman dengan Alex sebelum akhirnya jatuh pingsan. Rosie dan Alex tidak pernah mengungkitnya lagi dan terus berteman dekat hingga sebuah mala petaka menghampiri Rosie yang membuat jalan hidup mereka harus dipisahkan oleh jarak. Apakah mereka akan bersatu?

Tentu saja. Saya rasa ini pun bukan spoiler. Bagi kalian yang sudah cukup rajin menonton komedi romantis, pasti sudah cukup afal bahwa 90% film serupa berakhir dengan happy ending. Yang membedakan satu dan lainnya bagus atau tidak adalah bagaimana film menuntun kita ke sana. Love, Rosie adalah film dengan permainan tarik ulur hubungan kedua karakternya. Tiap kali mereka sudah hampir dekat, cerita akan menyajikan konflik baru yang membuat mereka tidak bisa bersama lagi.

Dan itu berlanjut sepanjang film. Fiuuhh..

Endingnya pun harus memikul berat tugas untuk mengatasi konflik terakhir percintaan Rosie dan Alex yang otomatis juga adalah cobaan terberat untuk mereka sepanjang film. Dan, sayang sekali, hasilnya konyol.

Sulit untuk menyalahkan sutradara atau penulis naskahnya untuk hal yang satu ini, mengingat Love, Rosie adalah adaptasi novel. Tapi ketika film berani menawarkan masalah-masalah yang cukup berat di awal film untuk memperkeruh suasana, solusi-solusi yang datang dihadirkan secara nyata. Tapi, untuk endingnya, yang menurut saya masalahnya sudah sangat sakral, film justru seperti mengolok ikatan suci yang mana juga merupakan tujuan akhir dari kedua karakternya.

Seusai menonton pun saya berharap Love, Rosie berani keluar dari grup 90% penganut happy ending dan berani masuk ke teritori 10% sad ending di mana Rosie dan Alex memang tidak bersama meski saling mencintai. Sebuah bittersweet ending rasanya lebih pantas disematkan untuk kisah mereka, ketimbang melawan logika ceritanya sendiri.

Terlepas dari itu, Love, Rosie sebenarnya masih layak tonton terima kasih kepada pesona dari aktor utamanya. Lily Collins sukses memikat mata saya selama 100 menit, sementara Sam Claflin mampu mengimbanginya dengan memiliki kehadiran yang terasa. Mereka berdua tampil dengan chemistry yang baik dan menjadi alasan kenapa Love, Rosie masih bisa dinikmati. Penonton akan terus mendukungnya meski jalan ceritanya mulai mengada-ada.

Dan, terkadang, itu saja sudah cukup untuk sebuah film komedi romantis pembuang waktu.

Review overview
Story - 5
Acting - 7
Direction - 6
Blogging films since 2011. A romance and superhero genre aficionado.
  • ika zurria

    Pasti akan ada “sedikit” cinta antara 2 sahabat laki2 dan perempuan 😀