Joko Anwar merupakan sutradara handal Indonesia yang dikenal aktif di sosial media dengan para penggemar dan penikmat filmnya. Dan begitu tahun lalu dia mengumumkan bahwa dia sedang terlibat dalam proses penggarapan film terbarunya yang diberi judul A Copy of My Mind, sontak hal tersebut merupakan kabar gembira untuk para moviegoers yang sudah tidak sabar untuk menanti karya selanjutnya dari seorang Joko Anwar. A Copy of My Mind adalah film drama yang merupakan film ke-5 dari Joko Anwar. Jika sebelumnya dia dikenal dengan preferensi film yang misterius dan gelap, mengingat dari karya-karya sebelumnya yang mengusung tema psychological thriller (Pintu Terlarang, Modus Anomali) dan noir (Kala), atau film debutnya yang mengusung tema drama komedi (Janji Joni). kali ini dia bereksperimen dengan menyutradarai film drama thriller yang mengangkat cerita tentang kehidupan Jakarta yang terasa amat nyata dan jujur.
Di tengah gemerlapnya kehidupan ibu kota Jakarta, Sari (Tara Basro) merupakan seorang wanita yang mencoba tetap bertahan hidup di Jakarta. Sehari-hari, Sari bekerja sebagai pegawai facial salon kecantikan. Tiap selesai bekerja, Sari rutin mengunjungi toko yang menjual DVD film bajakan untuk memenuhi hobinya yang suka menonton film. Di ruang kost yang sempit dengan TV dan pemutar DVD ala kadarnya, Sari kerap menonton film bajakannya di mana dia juga mengimpikan tentang memiliki home theater untuk memuaskan hasratnya dalam menonton film.
Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, Alek (Chicco Jerikho) bekerja sebagai penerjemah subtitle untuk kelas DVD bajakan. Sedangkan di malam hari, dia kerap memasang taruhan untuk balapan liar motor. Pada suatu hari, takdir mempertemukan Sari dan Alek ketika Sari kembali ke suatu toko penjual DVD bajakan untuk memprotes kualitas subtitle yang buruk. Di sana dia bertemu Alek, lantas Sari pun melayangkan protes ke Alek yang mendalangi pembuatan subtitle tersebut. Dari sana, mereka merasakan ketertarikan satu sama lain dan mulai menjalin kisah kasih. Kisah romansa tersebut tidak selamanya berjalan mulus ketika suatu hal krusial membuat Sari dan Alek berada di keadaan yang rumit dan dapat mengancam kehidupan mereka.

Tempo yang terdapat di film ini cenderung lambat. Hal itu semata-mata terjadi karena film ini mencoba untuk menggiring kita lebih dekat lagi dengan dua karakter utamanya. Melalui Sari dan Alek, kita diajak untuk melihat dan mengamati dengan seksama bagaimana kaum pinggiran Jakarta berusaha bertahan hidup di tengah kerasnya kota Jakarta. Film ini tidak terasa mengada-ada dalam menunjukkan semua itu. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, di sini kita dapat melihat potret nyata dan jujur akan sisi lain kehidupan Jakarta yang tak melulu tentang sisi gemerlap dan metropolitannya. Semua terasa realistis dan terasa dekat dengan apa yang memang kita alami sehari-hari jika kita tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Terdapat pula beberapa sindiran-sindiran satir yang dapat membuat kita menyeringai dibuatnya.
Paruh awal film benar-benar digunakan untuk mendalami karakter utamanya yang terbukti efektif. Kita dapat merasa dekat dengan Sari dan Alek yang nantinya akan membuat kita peduli dengan nasib mereka selanjutnya. Meskipun Sari dan Alek tidak langsung dipertemukan di menit-menit awal film, chemistry yang dibangun oleh Tara Basro dan Chicco Jerikho terasa meyakinkan. Sepanjang film, mereka tak perlu menebar kata-kata gombal tentang cinta untuk menunjukkan kepada penonton bahwa mereka adalah pasangan serasi. Dengan gerak-gerik bahasa tubuh dan dialog sederhana, saya dapat merasakan bahwa mereka tengah di mabuk cinta dan tidak ingin kehilangan satu sama lain. Chemistry mereka terasa semakin manis dengan tata suara dan tata musik yang natural ditambah dengan sinematografi yang memukau mengingat terdapat beberapa camera shot dan tata cahaya yang mampu menangkap suatu adegan dengan indahnya.
Masalah-masalah sosial dan politik yang kerap terjadi di Indonesia, terutama Jakarta, juga tak luput untuk dimasukkan di film ini. Konflik yang diletakkan ketika film sudah berjalan separuh lebih juga berhubungan dengan hal tersebut. Meskipun pada akhirnya konflik terasa terlalu sebentar dan cenderung implisit, penonton tetap dapat menikmatinya dengan membuat ekspetasi mereka sendiri.
A Copy of My Mind sendiri sudah ditayangkan di berbagai festival film internasional seperti Toronto International Film Festival, Busan International Film Festival dan Venice International Film Festival dengan respon yang positif. Sementara di dalam negeri, A Copy of My Mind menjadi nominasi di 7 kategori ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2015, kategorinya antara lain yaitu Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik, Penata Suara Terbaik dan Penata Musik Terbaik. Untuk jadwal tayangnya sendiri, film ini akan diputar di bioskop Indonesia pada tanggal 11 Februari 2016. Saya merasa beruntung karena pada tanggal 16 November 2015 lalu saya berkesempatan untuk menghadiri limited screening A Copy of My Mind yang diadakan oleh FFI bersama dengan jurinya di salah satu bioskop di Jakarta Pusat.




































