Tiga tahun setelah Skyfall - film pertama James Bond yang berhasil menembus pendapatan lebih dari $1 milyar, dipuji kritikus, memenangkan dua Oscar, dan memiliki soundtrack yang ikonik - datanglah penerusnya, Spectre. Dan, masih mengusung Daniel Craig sebagai sang agen 007 beserta Sam Mendes di kursi sutradara, Spectre pun kini ditopang nama-nama papan atas. Sebutlah Lea Seydoux dan Monica Belucci untuk jajaran Bond girl-nya, dan Christoph Waltz sebagai antagonisnya. Di atas kertas, semua hal seharusnya berjalan dengan baik, bukan? Sayangnya, musuh terbesar Bond kali ini bukanlah box office, kritikus, ataupun segala piala yang tidak akan diraihnya nanti, melainkan ekspektasi.

Skyfall akan selalu menjadi pencapaian sekaligus beban untuk seri mata-mata yang satu ini. Apalagi, mengambil jadwal rilis di tahun yang sudah dipenuhi dengan film serupa membuatnya tidak hanya harus bersaing dengan film pendahulunya, namun juga dengan Mission: Impossible dan Kingsman yang rilis terlebih dahulu dan mendapat respon positif.

Di Spectre, kisah berlanjut usai dari akhir Skyfall. Bond mendapat pesan dari mendiang M (Judi Dench) untuk mengejar sebuah organisasi gelap bernama Spectre, sementara MI6 tengah mendapati masalah saat divisi 00 terancam ditutup dan digantikan dengan sesuatu yang lebih modern. Sekilas, plot ini sudah terlewat mirip dengan M:I - Rogue Nation tanpa perlu menyalahkan siapa-meniru-siapa. Saya tidak peduli dengan hal tersebut.

Dibuka dengan adegan long take di Meksiko yang berakhir dengan aksi di dalam helikopter, Spectre berawal menjanjikan. Sinematografi dari Hoyte van Hoytema setidaknya cukup bisa mengimbangi karya Roger Deakins di Skyfall. Lalu, kita pun diperkenalkan dengan sang musuh utama, Franz Oberhauser (Christoph Waltz) dan Hinx (Dave Bautista) lewat sebuah adegan yang impresif. Baru setelah adegan kejar-kejaran mobil klasik James Bond, film kemudian mulai kehilangan arah.

Sangat terasa, naskah milik Spectre ini setengah matang. Terlepas dari isu adanya masalah saat produksi dan bocornya naskah akhir tahun lalu, Spectre terlalu bertele-tele di tengah jalan. Dua talenta yaitu Lea Seydoux dan Monica Belucci benar-benar tidak digunakan maksimal. Belucci praktis hanya tampil di dua adegan dan Seydoux sama sekali tidak memiliki chemistry dengan Craig dan terlalu dipaksakan untuk menjadi the-next-Vesper-Lynd.

Untuk sekian menit berlalu di tengah film, nyaris tidak ada sesuatu yang penting terjadi. Hal ini makin diperburuk oleh fakta bahwa film ini berdurasi lebih dari 2 jam. Di mana seharusnya, 20 menit durasi bisa dipotong di bagian tersebut.

Berbicara mengenai talenta yang disia-siakan, Christoph Waltz sudah terlalu sering dinominasikan sebagai Bond Villain oleh fans. Dan, ketika akhirnya hal tersebut terealisasikan, hasilnya mengecewakan. Selain introduksi karakternya yang fantastis, karakter Waltz hilang dari film hingga bagian terakhir, memberikannya screen time yang terlewat sedikit. Dan, di sana, ia tidak diberikan materi yang cukup membuatnya memorable. Sulit untuk membandingkannya dengan Le Chiffre atau Silva di Casino Royale dan Skyfall, di mana keduanya benar-benar diberikan banyak adegan ikonik.

Ini bukanlah kesalahan Waltz, seperti juga bukan kesalahan Seydoux atau Belucci. Minimnya pengembangan karakter mereka bertiga adalah penyebabnya. Materi yang berada di bawah rata-rata pun menyulitkan mereka untuk mengeksplor karakternya. Yang ada, hanyalah ekspresi ‘gila’ Waltz dan wajah cantik Seydoux yang berhasil sampai ke penonton. Selebihnya, hampa.

Selain itu juga, saya sangat menyayangkan bagaimana Spectre dibuat seperti seri James Bond penutup untuk Daniel Craig. Cerita sangat dipaksakan untuk terikat dengan tiga seri sebelumnya dan bukannya justru menjadi twist yang sanggup membuat saya ternganga justru malah melemahkan film-film sebelumnya.

Fakta bahwa seluruh musuh Bond di Casino Royale hingga Skyfall memiliki sangkut paut dengan karakter Oberhauser, selain tidak masuk akal, hanya akan membuat motif mereka di film-film sebelumnya turun. Tapi, kalian bisa seperti saya, dan mengabaikan saja fakta ini.

Paruh akhir film ini pun terasa sangat terburu-buru dan dieksekusi dengan berantakan. Terlalu banyak kemudahan dan kebetulan yang diberikan penulis untuk karakter protagonisnya.

Beberapa poin yang menolong ada pada Daniel Craig yang tetap memiliki kharisma sebagai James Bond di layar, meski terlihat sudah mulai bosan. Adegan aksinya jauh lebih banyak dari Skyfall dan cukup untuk memuaskan penonton yang sekadar mencari hiburan. Lokasi syutingnya eksotis dan banyak referensi ke film-film James Bond terdahulu.

Dipikir-pikir, Spectre sebenarnya memang tidak terlalu buruk. Lebih tepatnya mengecewakan. Iya, mengecewakan karena kita berekspektasi terlalu banyak kepada Sam Mendes usai Skyfall. Berekspektasi terlalu besar kepada Lea Seydoux dan Monica Belucci. Berekspektasi akan kagum oleh Christoph Waltz, sebelum akhirnya semua itu diruntuhkan oleh naskah setengah matang yang gagal mewujudkan semua potensi dari para talenta yang terlibat.

Review overview
Story - 6
Acting - 6.5
Directing - 7
Blogging films since 2011. A romance and superhero genre aficionado.
  • Matheus Arief Yudanto

    aku melihatnya sebagai sebuah film tanpa kejutan. nyaris tanpa kejutan.. tidak ada yang membuatku terkejut.. plain as line