Review: Edge of Tomorrow (2014)

Konsep idiosinkrasi waktu berupa time loop — di mana seseorang hidup pada hari yang sama berulang kali sampai-sampai tak terhitung jumlahhnya — bukanlah hal baru dalam semesta film. Sebelumnya, 21 tahun lalu, Harold Ramis pernah mengkreasikannya dalam Groundhog Day. Terkadang, sekali memang belum cukup, hal tersebut juga kembali dimunculkan oleh Duncan Jones tiga tahun silam dalam Source Code. Dua kali juga bisa jadi belum cukup, horor bertajuk Haunter muncul ke permukaan setahun silam dengan digawangi oleh Vincenzo Natali. Jadi, butuh berapa kali lagi film bertema serupa harus terus ditelurkan? Itu bukan soal, yang terpenting adalah bagaimana kreasi-kreasi tersebut dapat dirudalkan dengan baik, sehingga terlihat prima di mata penonton.
Edge of Tomorrow diadaptasi dari manga karangan Hiroshi Sakurazaka berjudul All You Need Is Kill. Jelas, film yang digawangi oleh Doug Liman ini berada pada lajur yang serupa dengan Source Code daripada Groundhog Day dan Haunter. Mayor William Cage (Tom Cruise) merupakan seorang prajurit — yang entah bagaimana — terjerembap di hari yang sama ketika ia pergi berperang melawan alien berwujud gurita yang dipanggil mimic. Ia tidak punya banyak opsi, kecuali harus mati berkali-kali demi mengeradikasi para alien bengis tersebut dari muka Bumi untuk selamanya. Di garda depan medan perang, ia tidak sendiri, seorang wanita yang digadang-gadang sebagai prajurit terbaik juga ikut berperang, Rita Vrataski (Emily Blunt).
Edge of Tomorrow adalah duet maut Cruise dan Blunt. Nyaris tidak ada karakter lain yang sanggup memperkaya plotnya. Mereka berdua saling mengisi satu sama lain hingga akhir. Di sisi lain, mengingat film ini dirilis pada musim panas, kamu bisa berharap banyak dari aksi yang dihadirkan di dalamnya. Mulai dari medan perang yang tampak begitu masif, hingga jalanan London yang sunyi sejak kedatangan alien. Bahkan, perangai para mimic kerap kali membikin jantung saya berdegup secepat kilat. Meski demikian, Edge of Tomorrow tidak serta-merta tampil brutal demi memuaskan dahaga.

Sayang, ketidaksukaan saya muncul ketika repetisi yang disajikan di dalamnya mulai terasa repetitif, yang mana mulai menimbulkan kebosanan. Hal tersebut bertolak belakang dengan apa yang saya rasakan dulu ketika mencicipi Source Code. Ya, film yang digawangi oleh Duncan Jones tersebut jauh dari kesan repetitif. Jelas bahwa Edge of Tomorrow terlihat lambat untuk mengembangkan plotnya di awal film meski durasinya terbilang “pendek.” Namun, ketika “masa-masa sulit” tersebut sudah berhasil terlewati, ia mumpuni untuk tampil seru — meski tidak mencengangkan — dari introduksi hingga konklusi. Bisa jadi, serapan-serapan ide yang diampu olehnya-lah yang membuatnya tak mencengangkan, sehingga ia tampak familiar.
Seperti yang sudah diutarakan di atas, Edge of Tomorrow menderita familiaritas yang membuatnya menjadi tak bersinar terang bak mentari pagi toh duet maut Cruise dan Blunt memang keren. Bukan cuma itu, ia juga tak memiliki “ruh” yang sanggup untuk membuatnya tampil emosional — soulless. Bahkan, pasca filmnya usai, saya masih merasakan “kehampaan” tersebut terus merundung. Namun, film arahan Doug Liman ini akseptabel untuk disanjung atas performa para pelakonnya, khususnya Emily Blunt.






































