Review: Foxcatcher (2014)

Di antara banyaknya film yang diangkat berdasarkan kisah nyata yang dirilis pada tahun lalu, Foxcatcher mungkin adalah yang mengangkat tokoh paling tidak populer. Sutradara Bennet Miller menaruh lampu sorotnya pada John du Pont, seorang multimilyuner dan kisahnya dalam membangun tim gulat yang berisikan Schultz bersaudara.
Channing Tatum, yang memang memiliki postur badan besar layaknya pegulat, didapuk sebagai sang adik, Mark Schultz. Sementara, Mark Ruffalo dijadikan sebagai sang kakak, David Schultz. Sedangkan, John du Pont yang dingin dan penuh misteri diperankan oleh Steve Carell yang lebih dikenal membintangi film-film komedi.
Mungkin kalian berpikiran sama seperti saya sebelum menonton. Dalam sebuah film drama yang diangkat dari kisah nyata, memberikan peran untuk Channing Tatum dan Steve Carell sepertinya bukan hal yang akan terlintas pertama di benak para pembuatnya. Mark Ruffalo, di sisi lain, masih bisa diperhitungkan. Hebatnya, sesudah menonton, justru akting Tatum dan Carell (bersama dengan hidung palsunya) yang ternyata lebih berkesan dan terngiang-ngiang. Dan, tentunya, Mark Ruffalo bermain juga apik. Tapi, itu bukanlah sebuah kejutan, karena Ruffalo memang jarang mengecewakannya.

Biasanya, saya lebih senang berbicara mengenai jalan cerita sebuah film sebelum membahas performa para aktornya. Tapi, Foxcatcher lebih menyerupai etalase untuk para pemainnya menampilkan keahliannya daripada menawarkan sebuah cerita memikat para penontonnya. Saya tidak heran bila banyak penonton yang menyudahi film bahkan sebelum credit bergulir. Pertama, Foxcatcher berjalan dengan tempo yang terlewat pelan. Seringkali, beberapa hal yang tidak terlalu berpengaruh untuk jalan cerita diberikan waktu berlebihan. Hal ini mengakibatkan pada alasan kedua, yaitu durasinya. Membiarkan sebuah film dengan tempo lambat hingga lebih dari 2 jam akan terasa melelahkan untuk beberapa orang.
Tapi ini semua memang sengaja dilakukan oleh sang sutradara. Untuk membangun sebuah atmosfir yang dingin, layaknya sang karakter utama, du Pont, film pun tidak boleh berjalan menggebu-gebu. Tidak ada pertukaran dialog yang cepat. Dan, untuk sebuah film yang melibatkan gulat, tidak banyak pertarungan terjadi.
Apakah Foxcatcher cocok untuk kalian? Apakah kalian menikmati slow-burn drama yang dipenuhi dengan ketiga aktor utamanya bermain gemilang? Jawabannya bisa berbeda-beda untuk tiap orang. Kalau saya, jawabannya ya.







































