Review: Non-Stop (2014)

by -
4

non_stop_poster-620x356

Bila kalian suka dengan Taken, maka tidak perlu baca review ini sampai selesai karena bisa dipastikan kalian juga akan suka dengan Non-Stop. Oke. Masih di sini? Baiklah.

*review mengandung spoiler*

Tidak ada yang salah dengan Liam Neeson berusaha untuk menjadi Jason Statham di usianya yang tidak lagi muda. Bahkan salah satu film actionnya sukses sebagai franchise dan dikabarkan siap rilis jilid ketiganya tahun depan. Namun sembari menunggu Taken 3, beliau kini membintangi film serupa namun tak sama, yang bukan tidak mungkin, bisa menjadi sebuah franchise ke depannya. Ialah Non-Stop, yang diagung-agungkan banyak orang sebagai Die Hard di dalam pesawat.

Bercerita tentang Bill Marks (Liam Neeson), seorang air marshal yang saat berada di atas pesawat mendapatkan SMS ancaman bahwa setiap 20 menit seorang penumpang akan mati bila ia tidak mentransfer uang sejumlah $150 juta. Lalu dimulailah sekuens demi sekuens di mana Non-Stop secara non-stop berusaha menebar clue seraya penonton menebak siapakah sang pelaku di balik aksi teror ini semua.

Praktis sejak awal kita semua diperkenalkan dengan beberapa karakter utama yang salah satunya berpotensi kuat menjadi sang antagonis. Jen Summers (Julianne Moore), yang dengan mudahnya dapat ditebak akan berakhir menjadi love-interest, Nancy (Michelle Dockery) sebagai sang pramugari kepercayaan, dan Gwen (Lupita Nyong’O) yang baru bebas dari perbudakan Michael Fassbender. Tentunya ada juga beberapa karakter-karater lebih kecil yang juga berperan kepada cerita utama. Dari grup ini, Corey Stoll dari serial House of Cards dengan mudahnya menonjol dan menjadi scene-stealer.

Namun janganlah terlalu serius berpikir dan terjun dalam permainan film ini. Jauh di lubuk terdalamnya, Non-Stop tetaplah sebuah film popcorn yang seharusnya dinikmati tanpa banyak logika. Sakit hati rasanya, ketika premis awal yang menarik dan terus dijalin ke pertengahan dengan tensi tinggi harus berakhir anti-klimaks, konvensional, dan sayangnya bodoh. Ketika akhirnya semua clue yang diberikan ternyata sama sekali tidak berguna untuk menebak sang pelaku. Bermain dengan Non-Stop sama seperti berusaha menjawab pertanyaan yang terlihat cerdas namun ternyata adalah soal plesetan.

Hingga film berakhir kita tidak pernah tahu siapakah yang masuk ke dalam toilet dan membunuh sang pilot atau bagaimana sang pelaku bisa tahu Bill masuk ke toilet untuk merokok. Hey, bisa jadi dia kebetulan sedang sembelit? Terlalu banyak logika yang dikesampingkan dan kebetulan yang dihadirkan hanya untuk membuat tiap karakter terlihat pintar dan plot dapat mengalir lancar.

Jangan lupakan juga ending bodohnya, ketika Bill sudah dicap sebagai teroris oleh seluruh media di Amerika, namun dalam hitungan sekejap dan tak terjelaskan, ia turun dari pesawat tanpa kawalan dari pihak berwenang. Bahkan ia pun tidak harus menjalani proses briefing dan lainnya yang makin menguatkan film ini bodoh.

Kembali lagi ke pernyataan awal, apakah Non-Stop adalah versi Die Hard di dalam pesawat? Tidak. Adegan actionnya sendiri sedikit, namun tensi tinggi yang berhasil dijaga hingga ke pertengahan film cukup membuat saya tertarik. Tapi konklusi akhirnya terlewat buruk.

Rating

  • asdf

    review tolol

    • Janitra Ezra

      Wah, ada fanboy-nya Liam Neeson.

  • jay

    Iya, akhirnya menurut ane kurang banget, tp dari segi bikin penasaran selama film, iya. Coba kalau akhirnya dikemas lebih apik, mungkin bisa mantab

  • ghij

    setuju sama asdf