
Mengikuti tren beberapa novel young-adult yang laris manis di adaptasi ke layar lebar, sayang rasanya untuk novel The Maze Runner jika yang diangkat ke dalam layar lebar hanya novel pertamanya, terlebih jika mengingat novel tersebut adalah trilogi yang terdiri dari tiga novel yang ceritanya masih bertautan satu sama lain. Setelah melihat respon yang lumayan baik untuk The Maze Runner, film pertamanya yang diangkat dengan judul yang sama dengan novel, kisah Thomas dan kawan-kawan berlanjut kembali dalam seri keduanya berjudul Maze Runner: The Scorch Trials.
Cerita Maze runner: The Scorch Trials dibuka dengan melanjutkan apa yang terjadi di akhir film The Maze Runner. Para gladers, termasuk Thomas (Dylan O’Brien) yang berhasil meloloskan diri dari labirin, mereka dibawa ke suatu tempat fasilitas di tengah daerah tandus bernama Scorch oleh Janson (Aidan Gillen). Tempat tersebut ternyata adalah tempat untuk menampung orang-orang yang selamat dari labirin-labirin lainnya. Janson juga meyakinkan Thomas bahwa tempat ini adalah tempat yang aman dari WCKD, organisasi yang menempatkan mereka di dalam labirin sebelumnya dan melakukan eksperimen berbahaya.
Selama berada di sana, Thomas curiga ada sesuatu yang aneh. Setelah bertemu Aris (Jacob Lofland), Thomas bersama Aris lalu menemukan memang ada sesuatu yang janggal di fasilitas tersebut. Thomas akhirnya memutuskan untuk membawa teman-temannya yang lain yaitu Newt (Thomas Brodie-Sangster), Minho (Ki Hong Lee), Teresa (Kaya Scodelario), Frypan (Dexter Darden), dan Winston (Alexander Flores) untuk melarikan diri dari fasilitas tersebut bersama dengan Aris. Setelah mereka melarikan diri, mereka dihadapkan dengan ganasnya situasi Scorch dengan segala rintangan mengerikan yang dapat menghadang mereka.
Dilihat dari durasi, Maze Runner: The Scorch Trials memang lebih panjang dari pendahulunya. Selama 131 menit, sutradara Wes Ball berusaha untuk menceritakan petualangan Thomas dan kawan-kawan dengan rintangan yang berbeda. Dengan durasi sepanjang itu, tidak dapat dipungkiri bisa menimbulkan efek-efek kejenuhan di beberapa titik jika film tersebut tidak mampu terus-terusan mencuri perhatian penonton untuk terus terikat dengan jalan cerita. Hal itupun terjadi di film ini. 30 menit awal film bisa dikatakan temponya terasa lambat. Untungnya setelah itu tempo agak sedikit meningkat karena rintangan-rintangan baru yang dihadapi Thomas dan kawan-kawan. Rintangan-rintangan yang sebelumnya belum pernah terlihat dari instalmen sebelumnya setidaknya memberikan angin segar untuk film keduanya ini. Ketegangan sempat terasa ketika adegan kejar-kejaran.

Awal-awal melihat adegan yang melibatkan kejar-kejaran memang menyenangkan, tetapi mengingat durasi film lumayan panjang, kemungkinan adegan seperti itu mengalamai repetisi sangatlah besar. Dan ketika adegan semacam itu di ulang terus, efek bosan lantas tidak dapat terhindarkan sehingga kita yang menonton terasa lelah untuk melihat mereka selalu lari. Di beberapa titik, film akhirnya terasa monoton. Meskipun begitu, setidaknya sinematografi yang dihadirkan dalam menangkap lanskap Scorch yang terlihat seperti tanah tandus dan padang pasir sangatlah memanjakan mata walau efek CGI masih agak terasa. Cara beberapa adegan ditangkap untuk menimbulkan efek dramatisasi bekerja dengan baik.
Sedangkan untuk para karakternya, mereka yang sudah kita kenal sebelumnya dari The Maze Runner, tetap melakukan perannya secara aman. Hanya saja, di instalmen kedua ini minim dialog mendalam yang berdampak kurangnya pengembangan karakter yang ada sehingga agak sulit untuk saya peduli lebih jauh lagi dengan para karakter-karakternya walaupun mereka selalu berusaha untuk tetap bertahan hidup dengan terus berlari. Karena minim dialog itu juga yang membuat beberapa karakter baru yang muncul di Maze Runner: The Scorch Trials terasa benar-benar menjadi tempelan saja. Chemistry antara para karakter menurun dan tidak sekuat di The Maze Runner.
Maze Runner: The Scorch Trials adalah sekuel adaptasi dari novel young-adult yang mengangkat tema dunia distopia yang belakangan menjadi tren. Pendahulunya yaitu The Maze Runner memang mencuri perhatian orang-orang, baik yang sudah membaca novelnya atau yang belum. Begitu instalmen keduanya hadir, terjadi penurunan kualitas dari segi chemistry antar karakter dan story line yang terlalu bertele-tele dengan adegan lari dan kejar-kejaran. Meskipun begitu, setidaknya sinematografi film ini membuatnya lebih indah untuk dilihat dan cliffhanger yang dihadirkan di akhir film masih membuat kita penasaran untuk melihat aksi Thomas dan kawan-kawan selanjutnya di instalmen ketiganya, Maze Runner: The Death Cure.
SIMILAR ARTICLES
-
Awe Tauhid Syahputratama
-
TikaHanifati
-






































