Sutradara asal Kanada, Denis Villeneuve, selalu punya cara untuk memaparkan sebuah kisah kelam. Ada Incendies (2010) — kisah kakak beradik yang mencari kebenaran, Prisoners (2013) — tentang seorang ayah yang harus berjibaku dengan kepanikan, hingga Enemy (2014) — yang “abnormal.” Tidak terkecuali Sicario (dalam bahasa Latin berarti pembunuh). Villeneuve seolah tak peduli apakah yang ia munculkan di layar lebar akan laku keras atau tidak. Ia ceritakan kisah yang ia ingin ceritakan dengan gayanya sendiri.

Mungkin tidak banyak orang tahu bahwa Juarez adalah wilayah dengan tingkat aktivitas kartel narkotika terbesar di Meksiko. DEA, FBI bahkan CIA pun tak sanggup mengeradikasi perbuatan di lokasi tersebut, kecuali mengontrolnya. Sicario sendiri mengedepankan sosok agen FBI bernama Kate Macer (Emily Blunt), yang idealis, sebagai salah seorang protagonis. Dalam Sicario, polisi, penjahat hingga pengedar narkotika nyaris tak ada bedanya. Tak ada garis pembatas jelas yang sanggup membedakan mereka semua.

Berbeda dengan apa yang ditampilkan oleh Villeneuve dalam film sebelumnya (Enemy), Sicario lebih terasa real dan otentik. Sebab, perang melawan narkotika tidak hanya terjadi di Juarez, tetapi juga di berbagai tempat lain di seluruh dunia. Bahkan, pada banyak momen, ia lebih mirip dengan Zero Dark Thirty (2012) milik Kathryn Bigelow daripada kreasi Villeneuve yang sudah-sudah.

Adalah sulit untuk memaparkan Sicario secara vulgar tanpa membocorkan plot. Namun, jelas bagian terbaiknya terletak pada bagaimana para karakternya dipresentasikan. Bukan cuma itu, performa kelas atas oleh Emily Blunt, Benicio Del Toro serta Josh Brolin juga merupakan poin plus di dalamnya. Meski demikian, saya kecewa ketika tahu bahwa Blunt harus melakoni protagonis super-pasif.

Sicario punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak film lain pada tahun ini, yakni realisme. Realisme yang tidak hanya tunduk pada hitam dan putih, tetapi juga abu-abu. Dengan presentasi yang demikian realistis, Villeneuve sukses menyuguhkan apa yang selama ini tidak sering dikreasikan dalam film-film layar lebar.