Review — The Hobbit: The Battle of the Five Armies (2014)

by -
0

TheHobbit3

Saya tidak setuju jika The Hobbit: The Battle of the Five Armies diklaim sebagai yang paling sublim dalam triloginya. Sebab, Desolation of Smaug (2013) adalah yang termegah; sekuel tersebut sukses membikin saya sungguh menantikan trikuelnya. Namun, lain cerita jika memperbincangkan konklusi yang ditawarkan Peter Jackson dalam rilis terbaru ini; ia menyuguhkannya secara all out.

Adegan dibuka oleh kengerian serbuan naga beringas berjuluk Smaug (Benedict Cumberbatch) memporak-poranda Kota Danau. Simbahan darah di mana-mana, bahkan anak-anak dan para wanita hanya sanggup berteriak melihat lahar panas yang terus-menerus dijulurkan oleh raksasa biadab tersebut. Bukan cuma itu, subplot perubahan karakter Thorin (Richard Armitage) — yang terperdaya perhiasan duniawi — juga turut mengimbuh ketegangan dari pertengahan hingga jelang klimaks. Bahkan, hal tersebut sukses “mengesampingkan” sang protagonis Bilbo Baggins.

Perang, perang dan perang. Ya, berbeda dengan dua rilis sebelumnya, The Battle of the Five Armies lebih mengedepankan peperangan besar daripada drama serta humor-humor “nyeleneh.” Tidak heran, toh kata kunci ‘battle’ yang disematkan seperti memberi petunjuk bagi kamu yang akan bergegas menyaksikan. Sayangnya, peperangan tersebut berlangsung terlalu lama. Selain itu, Azog the Defiler masih sukses mencuri perhatian dalam setiap aksinya; bulu kuduk selalu berdiri tegak bro setiap ia muncul ke permukaan! Bagi saya, Azog merupakan antagonis yang mumpuni.

Alhasil, tidak seorangpun sanggup menolehkan wajahnya ketika melihat kemegahan Middle-earth dengan seluruh isinya. Visual yang mencengangkan serta berporsi lebih besar daripada sebelumnya, hingga karakter-karakter yang out-of-this-world merupakan nilai jual yang tersedia. Meski tidak terbit sebagai installment terbaik, The Battle of the Five Armies mengakhiri trilogi The Hobbit dengan elegan.

Review overview
Overall - 7
I'm a mystery wrapped in a conundrum. I'm quiet but not silent.