Review: Pendekar Tongkat Emas (2014)
Dunia silat merupakan hal yang tidak asing lagi di Indonesia. Silat adalah jenis bela diri yang sangat merakyat dan digemari oleh banyak masyarakat Indonesia dan sudah eksis di tanah air ini semenjak abad ke-7 Masehi. Di tahun 70-an dan 80-an, film yang mengangkat tema silat kolosal sempat menjadi primadona dan unggul pada saat itu. Seiring berjalannya waktu, film silat makin tergerus oleh zaman dan terkalahkan dengan genre komedi, drama, horor, ataupun action.
Berawal dari kesukaan Riri Riza dan Mira Lesmana terhadap komik-komik silat yang bercerita tentang pendekar, di penghujung tahun 2014 ini mereka mencoba menghidupkan lagi bela diri silat dengan merilis film laga kolosal berjudul Pendekar Tongkat Emas. Selain terdapat Riri Riza dan Mira Lesmana sebagai produser, di bangku sutradara duduk Ifa Isfansyah yang sebelumnya terkenal melalui film garapannya seperti Garuda di Dadaku (2009) dan Sang Penari (2011). Tidak hanya mumpuni di bagian orang-orang di balik layar, para pemeran utama di film ini pun merupakan nama-nama besar yang sudah tidak asing lagi seperti Christine Hakim, Nicholas Saputra dan Reza Rahadian. Jadi bukanlah suatu hal yang mengherankan jika banyak orang yag lantas tertarik dan penasaran untuk menyaksikan filmnya di layar lebar seletelah melihat jajaran nama-nama besar di dalamnya.
Berlatar tempat di negeri antah berantah, terdapat seorang pendekar sepuh bernama Cempaka (Christine Hakim) yang mempunyai perguruan bernama Tongkat Emas. Di perguruannya, Cempaka mempunyai 4 murid bernama Biru (Reza Rahadian), Gerhana (Tara Basro), Dara (Eva Celia) dan Angin (Aria Kusumah). Ketika kondisi kesehatan Cempaka kian menurun, Cempaka memanggil semua anak muridnya untuk berkumpul dan membicarakan tentang benda pusaka yaitu Tongkat Emas yang nantinya ia warisi ke salah satu anak muridnya beserta jurus maut yang berkaitan dengan Tongkat Emas tersebut. Setelah sudah memutuskan kepada siapa Cempaka akan mewarisi Tongkat Emas tersebut, perselisihan dan perkelahian pun tidak dapat terelakkan dari pihak yang tidak menyetujui keputusan Cempaka. Lalu, muncul juga sosok misterius bernama Elang (Nicholas Saputra) yang juga mengetahu perihal Tongkat Emas beserta jurus mautnya.
Film berdurasi 112 menit ini secara keseluruhan memiliki plot yang sederhana dan mudah untuk diikuti, tanpa twist apapun. Hal itu juga yang membuat film ini terasa lambat di paruh pertama. Ketika sudah masuk paruh berikutnya, film terasa lebih bernyawa dengan beberapa adegan laga pertarungan yang melibatkan karakter-karakter utamanya. Meskipun begitu, ketika adegan pertarungan, saya agak risih dan tidak bisa terlalu konsentrasi menontonnya karena pergerakan kamera yang terlalu cepat dalam menangkap tiap-tiap gerakan sang pemeran sehingga tidak terlalu jelas bagaimana sang lawan bisa jatuh terkena pukulan. Hal itu membuat tiap adegan pertarungan terasa tanggung dan kurang mendebarkan.
Berbicara tentang bagian dramanya pun, film ini entah mengapa tidak ubahnya seperti sebuah lampu remang-remang, ia bersinar, tetapi tidak terlalu terang. Sepanjang film, bahasa yang digunakan merupakan bahasa baku sehingga kekakuan di beberapa adegan tidak terelakkan. Ditambah dengan naskah dialog yang terkadang terlalu panjang untuk diucapkan dalam satu napas, membuat bagian dramanya yang disesaki dialog verbal terkesan bertele-tele dan tidak efektif.
Untuk performa dari aktor-aktornya sendiri, menurut saya mereka telah melakukan porsi mereka seoptimal mungkin, meskipun pada akhirnya ada yang terlihat menonjol dan ada yang terlihat susah payah untuk menunjukkan karakteristik sang karakter. Christine Hakim terlihat tangguh dan kuat seperti yang memang selalu dia lakukan di tiap film tanpa cela, benar-benar meyakinkan sebagai seorang pendekar sakti yang disegani. Reza Rahadian yang menunjukkan sifat bengisnya yang pada akhirnya tidak terlalu menyeramkan dan membuat kita menjadi ngeri. Nicholas Saputra yang bermain di zona aman yang memang sudah keahliannya yaitu sebagai sosok cool nan misterius yang membuat wanita-wanita berseru “oooh” begitu melihat kemunculannya 30 menit setelah film berjalan. Tara Basro yang benar-benar sukses menunjukkan karakter antagonis melalui ekspresi muka juteknya yang maut tanpa harus peduli akan hal lain yang ia lakukan. Sedangkan untuk Eva Celia yang bisa dianggap sebagai pendatang baru di dunia perfilman, dia cenderung bermain aman dan pada akhirnya dia tidak terlihat merusak peran yang dia mainkan ataupun terlihat terlalu bersinar. Perhatian lebih justru saya sematkan kepada aktor cilik bernama Aria Kusumah yang memerankan Angin. Membawakan karakter yang irit berbicara, anak kecil ini terlihat meyakinkan dalam mendalami karakternya. Dan sekalinya dia mengucapkan sebuah kalimat, hal itu semakin menambah nilai plus atas karakter yang dia perankan.
Dengan budget kurang lebih 25 miliar untuk penggarapan Pendekar Tongkat Emas, tidak heran bila di bagian wardrobe, kostum dan latar belakang tempat film ini terlihat serius dan detail. Kostum-kostum yang dikenakan oleh para tokoh di Pendekar Tongkat Emas terlihat sangat totalitas dan etnik dengan kain tenun khas Sumba sebagai salah satu kostum yang digunakan. Properti lain seperti perabotan yang menghiasi dan mengisi rumah-rumah tradisional pun terlihat antik untuk mendukung setting film yang jauh dari masa modern dan sentuhan teknologi.
Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya tentang budget film, penggarapan film ini tidaklah main-main. Meskipun dari alur cerita kurang begitu kuat, Pendengkar Tongkat Emas tidak sepenuhnnya tenggelam karena ia terselamatkan oleh sinematografi ciamik nan memikat . Di tangan Gunnar Nimpuno sebagai DoP, Pendekar Tongkat Emas mengeksplorasi habis-habisan keindahan alam Sumba Timur. Wide shot yang kerap merekam kemegahan alam landscape Sumba benar-benar memanjakan mata dan membawa perasaan damai di hati, menenangkan dan rasanya membuat kita ingin mengunjunginya. Desiran ombak, rumput ilalang yang bergoyang dan jernihnya air sungai ditangkap dengan anggunnya oleh lensa kamera. Mengikutsertakan keindahan alam dan lokasi yang tepat merupakan pilihan yang bagus untuk menghidupkan cerita laga kolosal ini.
Terlepas dari lemahnya alur cerita dan kurangnya pendalaman karakter, pada akhirnya Pendekar Tongkat Emas tetap patut untuk diapresiasi karena mengangkat tema film klasik yang sudah jarang di masa yang serba hi-tech saat ini dan totalitasnya dalam setiap detail untuk membangun cerita. Ditambah dengan nilai-nilai moral yang disisipkan sebagai renungan, Pendekar Tongkat Emas adalah film yang mempunyai kualitasnya sendiri meskipun tidak terlalu menjulang tinggi.










































Pingback: Review: Pendekar Tongkat Emas (2014) | IDFC()