Review: Into the Storm (2014)

by -
0

Into the Storm

Di tengah-tengah ramainya gempuran film-film summer blockbuster di tahun ini, Into the Storm muncul sebagai salah satu film yang bisa dibilang tidak terlalu banyak mendapatkan spotlight pada saat kemunculannya. Tapi justru ketika kita tidak berekspetasi banyak atas sebuah film, terkadang kita malah bisa dibuat terkejut olehnya.

Di sepanjang film, kita diberikan tiga sudut pandang yang berbeda dari tiap grup tokoh dengan teknik found footage. Sudut pandang pertama dapat dilihat dari sekumpulan storm chasers yang dipimpin oleh seorang pembuat film dokumenter yang sudah biasa ‘menguntit’ badai dan angin tornado bernama Pete (Matt Walsh) dan Allison (Sarah Wayne Callies), seorang ahli meteorologi. Sudut pandang kedua adalah dari seorang anak SMA bernama Donnie (Max Deacon) yang tengah disibukkan oleh proses dokumentasi kelulusan sekolahnya di Silverton . Karena Donnie tengah cekcok dengan ayahnya, Gary (Richard Armitage), Donnie menyerahkan tugas dokumentasi itu ke adiknya, Trey (Nathan Kress) dan Donnie pergi ke sebuah pabrik tua dengan Kaitlyn (Alycia Debnam-Carey), wanita yang sudah lama dia taksir untuk membantu proyek tugas Kaitlyn. Sedangkan sudut pandang ketiga adalah dari karakter pendukung yang kemunculannya tidak terlalu signifikan yaitu Donk (Kyle Davis) dan Reevis (Jon Reep), sekumpulan orang yang suka melakukan hal ekstrem dan ‘gila’ dan merekamnya lalu untuk kemudian ditampilkan di Youtube.

Siapa sangka di tengah semua itu, terdapat badai tornado besar yang mengarah ke Silvertown dan siap memporak-porandakan kota beserta isinya. Untuk para storm chasers, ini adalah kesempatan emas mereka untuk mendokumentasikan fenomena tersebut dan berusaha untuk dapat mengabadikan pusat angin tornado dengan mengendarai Titus yang mereka yakini sebagai kendaraan kokoh dalam menerjang angin tornado.

Into the Storm

Dilihat dari segi jalan cerita, plot yang ditawarkan Into the Storm terlewat sederhana dan tidak ada sesuatu yang baru, terasa biasa-biasa saja. Atmosfer film yang biasa-biasa saja ini makin menjadi dengan karakter-karakter di film ini yang menunjukkan performa lemah, tumpul, dan medioker. Meskipun di beberapa aspek film ini tidak terlalu meyakinkan, tapi special effect yang ditampilkan film ini berkata lain.

Ketika sudah memasuki pertengahan film, dengan cepatnya badai tornado semakin membesar dan otomatis special effect berperan banyak untuk hal ini. Dan benar saja, ketika melihat badai tornado mengamuk dan menghancurkan apapun yang dilewatinya, kita dibuat terpukau oleh masifnya kerusakan dan kehancuran yang terjadi akibat ulah sang tornado. Lewat film ini, kita dapat merasakan kengerian dan kepanikan yang kiranya bisa kita rasakan jika kita berada dalam kondisi dimana badai tornado sedang mengamuk dan bahkan dapat menerbangkan pesawat-pesawat komersial layaknya hanya menerbangkan pesawat kertas.

Kehebatan sang tornado sayangnya tidak diimbangi oleh jalan cerita yang ditawarkan film ini. Meskipun di beberapa adegan terlihat para karakternya nampak ingin menjunjukkan sisi drama dan menghidupkan jalan cerita, sayangnya hal tersebut tidaklah terlalu bekerja dengan baik. Balutan drama yang coba ditonjolkan film ini akhirnya menjadi jomplang dan kontras dengan kokoh dan superiornya sang pemeran utama yang sebenarnya, yaitu sang badai tornado.

Jadi, untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam menonton film ini, saya sarankan anda harus benar-benar merelaksasikan badan dan pikiran anda, jangan terlalu banyak berpikir kenapa adegan ini bisa begini kenapa adegan ini bisa begitu, biarkan adegan tiap adegan mengalir begitu saja, karena dijamin anda akan menikmatinya dan merasakan sensasi mendebarkan melihat sebuah bencana alam yang terpampang jelas di depan mata anda.

Review overview
Story - 5
Acting - 5
Direction - 8
A young adult who found an excessive bliss in watching movies.