Review: The Hunt (Jagten) (2012)

by -
3

The Hunt

Saya merasa amat sangat beruntung bisa menonton film ini di Europe On Screen tahun ini. The Hunt (Atau Jagten dalam bahasa Denmark) merupakan film dari Denmark yang berdurasi 115 menit yang disutradarai oleh Thomas Vinterberg dan dibintangi oleh Mads Mikkelsen (TV Series Hannibal), Thomas Bo Larsen, dan Annika Wedderkopp sebagai pemeran utamanya. Film ini masuk nominasi untuk Best Foreign Language Film di the Academy Awards (Oscar) 2014 dan memenangkan penghargaan di the Cannes Film Festival 2012 dalam kategori Best Actor yang diasabet oleh Mads Mikkelsen.

Kesan pertama yang saya dapatkan ketika selesai menonton adalah film ini benar-benar cerdik dengan segala kesederhanaan plotnya. Menceritakan tentang seorang guru TK bernama Lucas (Mads Mikkelsen) yang dituduh melakukan kejahatan seksual setelah pihak sekolah mendengar pernyataan ‘polos’ dari salah satu muridnya, Klara (Annika Wedderkopp). Oleh karena pernyataan Klara yang dianggap benar karena orang dewasa menganggap anak kecil tidak mungkin berbohong, jadilah hidup Lucas berubah dan menjadi dikucilkan oleh masyarakat yang sudah berprasangka bahwa Lucas memang benar seorang penjahat seksual terhadap anak-anak.

Film ini menarik karena mengangkat cerita yang bermula dari suatu hal yang sebenarnya hanya dari celotehan seorang anak kecil yang lantas dipercayai begitu saja oleh orang dewasa dan bagaimana masyarakat bereaksi terhadap hal tersebut hingga akhirnya menuntun kepada konflik yang lebih besar. Maksud saya, penonton tahu bahwa Lucas bukan pelaku kejahatan seksual dan kita tahu kenapa Klara berbohong. Hal itu yang membuat saya merasa gregetan di film ini. Untuk kualitas akting dari tiap karakter, bisa saya bilang tiap karakter di film ini pas dalam bertanggung jawab memerankan karakter mereka masing-masing, tapi tidak untuk Klara yang diperankan oleh Annika Wedderkopp.

The Hunt

Annika Wedderkopp ini memang benar-benar hebat dan sangat amat meyakinkan dalam memerankan karakter anak kecil yang merupakan sumber dari segala permasalahan di film ini. Sebagai karakter kunci, Annika sukses memerankan karakternya dan membuat penonton rasanya ingin menjitak kepala ini anak karena apa yang telah dia perbuat. Apalagi jika anda jeli dalam melihat film ini, anda akan menemukan hal kecil yang berhubungan dengan ‘kebiasaan’ yang merupakan petunjuk untuk kita sebagai penonton dalam menentukan apakah omongan Klara tentang Lucas sebagai pedofil itu bisa dipercaya atau tidak kebenarannya. Hal kecil seperti itu yang membuat saya terkagum karena disuguhi dengan cara yang tersirat, benar-benar brilian.

Saya dapat merasakan beberapa turning point yang mengaduk-aduk perasaan juga ketika menonton film ini. Adegan ketika Lucas tidak diterima untuk berbelanja di swalayan sampai akhirnya dihajar oleh karyawan swalayan tersebut yang menunjukkan bahwa masyarakat bereaksi aktif tentang adanya pedofil di sekitar mereka, hanya saja masyarakat bereaksi dengan cara yang kejam dan keras, dimana hal itu bisa dimaklumi dan benar- benar natural untuk masyarakat bereaksi seperti itu. Keadaan bertambah dramatis ketika rumah Lucas dilempari batu besar hingga merusak jendela rumahnya dan ketika Lucas keluar dari rumahnya, dia menemukan anjingnya, Fanny, dibunuh. Di titik ini tensi benar-benar terasa semakin meningkat dan membuat saya larut dalam emosi.

Walaupun begitu, saya merasa seperti ada yang kurang dijelaskan di film ini, semacam ada plot hole. Di tengah-tengah film dijelaskan bahwa tidak hanya Karla yang menjadi korban pelecehan seksual, melainkan ada anak-anak lain di TK itu yang menjadi korban. Ketika mereka di introgasi polisi, mereka mengatakan bahwa mereka seperti disekap di basement, padahal Lucas tidak mempunyai basement. Nah, dari sini otak saya sudah merancang skenario-skenario alternative ending untuk film ini dengan ending yang nge twist. Tapi apalah daya, film ini memang tidak dimaksudkan untuk mengejutkan penonton dengan memberikan twisted ending.

Berbicara tentang endingnya, ending film ini dikemas dengan lumayan dramatis dan ‘kentang’ yang berujung kepada open plot, dimana penonton harus menerka-menerka lagi kira-kira apa yang terjadi sehabis melihat endingnya. Ketika film ini selesai, saya berseru “What the…” yang menegaskan bahwa “yah, kok sudah selesai” tapi yah begitulah kebanyakan film berkualitas, dia berakhir dengan meninggalkan penonton dalam pertanyaan dan ketidakpastian yang membuat penonton ingin mendiskusikan film ini setelah selesai menontonnya. Rating

  • http://sinekdoks.wordpress.com Sinekdoks

    menguras hati bener nih film :)
    anyway, sebelum masuk Europe on Screen, DVD-nya udah nongol kok haha
    dengan endingya yg multiinterpretasi ohhhh

  • TikaHanifati

    Oh ya? udah ada dvdnya ya, gak tauu. Hehe. Iya filmnya mainin emosi banget, Annika Wedderkopp yang juara lah, keren banget itu bocah aktingnya.

    • http://sinekdoks.wordpress.com Sinekdoks

      Sure. Udah gitu anak itu cuman main ingus sambil berlagak sok ignorant.
      Padahal si Lucas udah hampir gila ckck