Review: One Flew Over the Cuckoo’s Nest (1975)
Judul yang unik, Jack Nicholson, dan masalah kejiwaan. Kiranya ketiga hal itulah yang membuat saya awalnya tertarik untuk menonton film ini. Film ini rilis jauh sebelum saya lahir yaitu pada tahun 1975 , dan pada masanya, film ini mendapatkan respon yang luar biasa dan diganjar 5 Oscar, 6 BAFTA, dan 6 Golden Globes. Bersinarnya film ini di ajang-ajang penghargaan film semakin membuat saya penasaran dan ingin membuktikan sendiri apakah film ini benar-benar bagus atau tidak.
Diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Ken Kesey, One Flew Over the Cuckoo’s Nest bercerita tentang Randle Patrick “Mac” McMurphy (Jack Nicholson) yang divonis bersalah karena melakukan pemerkosaan anak di bawah umur dan dikirim ke rumah sakit jiwa oleh pihak rumah sakit untuk mengevaluasi dan memantau apakah Mac benar-benar mempunyai gangguan kejiwaan atau tidak. Selama Mac berada di rumah sakit jiwa tersebut, dia menemukan berbagai macam pasien dengan masalah kejiwaannya masing-masing, tetapi Mac masih bisa berkomunikasi dan berinteraksi satu dan lainnya dengan mereka. Meskipun rumah sakit jiwa tersebut dipimpin oleh seorang suster yang tegas dan menyebalkan bernama suster Ratched (Louise Fletcher), kedatangan Mac membawa angin segar dan suasana baru yang tidak pernah didapati sebelumnya.
Drama yang dihadirkan di sini sangatlah kuat dan mengikat penonton untuk terlarut dan turut merasakan emosi dari tiap pemeran. Walaupun terkadang plot pacing terasa agak lambat di pertengahan dan benar-benar dirasa tidak masuk akal dan terlalu konyol, tetapi ketika film sudah memasuki akhir, durasi film terasa kurang dan kita akan tercengang karena unpredictable ending yang disajikan.
Dua hal yang mencuri perhatian saya dan patut mendapatkan sorotan adalah aktor utama dan ending. Jack Nicholson, well… siapa yang tidak kenal dia. Aktor kawakan yang tahun ini sudah memasuki usia 77 tahun kerap menampilkan akting yang mumpuni dan meyakinkan, hal itu pula yang terjadi di film ini. Berperan sebagai Mac, seseorang yang sebenarnya tidak gila tetapi dimasukkan ke rumah sakit jiwa dengan alasan untuk keperluan evaluasi, Jack menyuguhkan tampilan akting prima sebagai pemeran utama yang merupakan bagian vital dari sebuah film. Dia sukses menjadi pusat perhatian dan membawa perubahan yang signifikan di rumah sakit jiwa dan kritis dengan cara suster Ratched mengelola rumah sakit jiwa tersebut. Setelah menyadari akan apiknya Jack sebagai pemeran utama, kemudian saya diarahkan kepada ending yang benar-benar merenyuhkan hati dan membuat termenung setelahnya. Benar-benar kombinasi yang solid.
Film ini juga menggambarkan bagaimana para pasien sebenarnya mengidam-idamkan kebebasan dan keluar dari belenggu rutinitas rumah sakit jiwa yang membosankan tetapi pada saat bersamaan dinilai efektif oleh suster Ratched. Dengan hadirnya Mac sebagai sosok yang berani, blak-blakan dan teramat gamblang, kebebasan dirasa semakin mendesak untuk didapatkan.
Untuk anda yang sejenak ingin bernostalgia dengan suasana era film tahun 70-an yang sesungguhnya, ada baiknya menonton film ini sebagai pilihan anda. Dan rasanya tidak berlebihan jika film ini masuk di IMDb sebagai greatest movie of all time dan a must watch movie before you die yang dibuat oleh beberapa user IMDb, karena memang ini adalah film yang tidak boleh anda lewatkan.









































